Beranda News Nusantara Demi Ternak, Banyak Warga Terobos Zona Bahaya Gunung Agung

Demi Ternak, Banyak Warga Terobos Zona Bahaya Gunung Agung

286
BERBAGI
Tim SAR gabungan menghentikan warga yang mengendarai mobil dan hendak menerobos ke zona bahaya Gunung Agung, Minggu,3 Desember 2017.Foto: kabarnusa.com

TERASLAMPUNG.COM — Demi ternak dan lahan yang jadi sumber mata pencaharian, banyak warga di lereng Gunung Agung di Kabupaten Karang Asem,Bali,yang nekat menerebos zona bahasa Gunung Agung.

Tim SAR gabungan terpaksa mengusir warga yang nekat itu  dengan melakukan pendekatan persuasif.

Pada Minggu,3 Desember 2017, misalnya, Tim SAR gabunan melakukan tindakan persuasif agar warga tetap mengungsi dan jauh dari Kawasan Rawan Bencana (KRB) 3 dan 2. Mereka disarankan segera mengungsi mengingat bahaya erupsi bisa saja datang secara tiba-tiba.

Basarnas bersama TNI, Polri, BPBD, TNI, serta relawan melakukan pemantauan di salah satu desa yang masuk dalam KRB, yakni Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Minggu (3/12).

“Meskipun berulang kali tim SAR gabungan mengosongkan dalam KRB 3 dan 2, nampaknya masih saja terlihat warga yang beraktivitas,” kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, Ketut Gede Ardana, Minggu (3/12/2017).

Ardana mengungkapkan, pihaknya masih  melihat warga yang beraktivitas di sekitar zona bahaya Gunung Agung. Tim SAR gabungan pun kemudian memberhentikan warga tersebut dan mengimbau agar mereka mengikuti anjuran pemerintah.

Menurut Ardana, mereka harus menjauhi radius Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah Gunung Agung dan di seluruh area di dalam radius 8 km dari kawah Gunung Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah utara-timurlaut dan tenggara-selatan-bratdaya sejauh 10 km dari kawah Gunung Agung.

“Kami akan terus mengarahkan tim nya supaya senantiasa berperan aktiv dalam upaya membujuk warga, sampai bisa mewujudkan nol jiwa dalam KRB 3 dan 2,” katanya.

Menurut Ardana, warga tak mau menjauhi zona bahaya erupsi itu karena mereka meninggalkan ternak peliharaannya.

“Sebagian mengatakan bahwa sebenarnya mereka sudah mengungsi, tetapi siang hari harus kembali untuk memberi makan ternak atau mengolah lahan mereka,”katanya.

Ardana mengatakan, untuk mengantisipasi kondisi ini, tim SAR harus mempercepat response time, memperhitungkan strategi pergerakan yang efektif namun tetap mengutamakan keselamatan personil.

“Pembentukan pos aju agar mempercepat respon time karena jika hanya mengandalkan dari posko induk Tanah Ampo pergerakan akan membutuhkan waktu terlalu lama,” jelas Ardana.

Apabila terjadi kemungkinan terburuk yakni terputusnya jalur evakuasi dari darat, maka akan dilakukan evakuasi melalui jalur laut. Kekuatan personil dan kapal Negara (KN) dari Basarnas Surabaya, Basarnas Semarang dan Basarnas Mataram akan diperbantukan selain pengerahan KN SAR Arjuna 229 Denpasar.

“Kami mengharapkan jangan sampai ada korban jiwa, tapi kita pikirkan juga kemungkinan terburuk bisa terjadi, langkah-langkah antisipasinya sudah dipersiapkan,” ujarnya.

Ia berharap warga bisa lebih kooperatif sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran dan jatuhnya korban jiwa bisa diminimalisir.

Terkait erupsi Gunung Agung, Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melansir bahwa pada periode Minggu (3/12) dari pukul 06.00 Wita hingga pukul 12.00 Wita menunjukkan terjadi kegempaan low frekuensi 3 kali (Amplitudo : 3-19 mm, Durasi : 30-48 detik), vulkanik dangkal 3 kali (Amplitudo : 4-7 mm, Durasi : 7-14 detik), vulkanik dalam 6 kali (Amplitudo : 5-25 mm, S-P : 1-2 detik, Durasi : 10-40 detik) dan masih terjadi Tremor menerus amplitudo 1 – 4 mm, dominan 1 mm.

Sementara itu secara visual Gunung Agung terlihat mengeluarkan asap kawah bertekanan lemah hingga sedang teramati berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang dan tinggi 500-1000 m di atas puncak kawah. Saat teramati asap condong ke tenggara.

Loading...