Beranda Views Opini Derita Warga Lampung Pengidap HIV-AIDS: Dibuang Keluarga, Diusir dari Tempat Kerja

Derita Warga Lampung Pengidap HIV-AIDS: Dibuang Keluarga, Diusir dari Tempat Kerja

1991
BERBAGI
Ilustasi

Oleh Eni Muslihah

Pada Minggu, 5 Juli 2015, saya berkesempatan hadir dalam sebuah acara buka puasa bersama dengan berbagai komunitas orang dengan HIV/AIDS. Hadir di sana kelompok gay Lampung kemudian lesmian serta ada juga kelompok Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) Lampung.

Tempat duduk mereka terpisah, kaum perempuan sebelah kiri sedangkan yang lainnya di sebelah kiri. Saya sendiri berada di bagian kelompok perempuan dan anak-anak.

Tepat di depan saya seorang perempuan berpakaian gamis dan berkerudung hitam. Sebut saja namanya Melati (27) bersama anaknya. Dia berasal dari Kecamatan Rajabasa, Kota Bandarlampung.

Sesekali dia tertawa melihat banyolan dua orang pembawa acara yang berlaga seperti perempuan dan bertingkah manja. Meskipun tatapan hampa terkadang menghinggapinya. “Ajang perkumpulan ini membuat saya merasa tidak sendirian, bahwa ada orang lain di luar sana yang punya masalah yang sama,” tutur Melati.

Dibuang oleh Keluarga

Melati divonis HIV pada tahun 2009. Dia mengetahui dirinya positif HIV bermula dari pemeriksaan penyakit tuberkulosis (TBC) yang menghinggapi dirinya. Penyakit itu tak kunjung sembuh meski dia telah mengonsumsi obat secara rutin selama enam bulan.

Melihat kejanggalan itu, dokter menyarankannya untuk tes ARV. Benar saja, Melati dinyatakan positif HIV. “Dunia sepertinya berhenti berputar dan membuat saya putus asa,” kata dia.

Kondisi kesehatannya terus memburuk, karena di tengah vonis tersebut keluarga pun tak mau tahu, semua turut menyingkirkan dia dengan alasan takut tertular. Dalam keadaan tak berdaya, dia merawat dirinya sendiri yang diisolasi di bagian belakang rumah.

“Keluarga saya memberi makan hanya sampai di depan pintu. Selebihnya saya yang dalam keadaan sakit merangkak mengambil makanam itu. Rasanya saya ingin mati saja, tak ada gunanya hidup ini,” tuturnya lagi.

Bersyukur dia telah bertemu dengan seorang pria bertanggung jawab dan tak mempersoalkan statusnya. Pria itu, kini menjadi suami keduanya. Dialah yang memberi dukungan untuk menjalami hidup penuh semangat dan meyakini kesembuhannya.

“Sampai kondisi saya sedikit membaik, kami berdua menikah. Dia tak peduli dengan status saya yang HIV,” katanya lagi.

Pernikahan dengan suami keduanya, dikaruniai anak yang sehat. Begitu juga dengan suaminya. Lima tahun lebih ia menikah, suaminya selalu dinyatakan negatif.

Diusir dari Tempat Kerja

Suaminya yang bekerja sebagai buruh bangunan membuatnya ingin membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Setelah benar-benar sembuh dia bekerja di sebuah loundry baju. Per bulan, dia mendapat gaji sekitar Rp500 ribu. Uang itu baginya cukup untuk membantu menutupi kekurangan penghasilan suaminya.

Waktu berjalan, sampai satu hari Melati kembali diopname di sebuah rumah sakit karena stroke ringan. Setelah sembuh, ia kembali bekerja. Namun sayang kedatangannya di tempat bekerjanya justru menyakitkan.

“Dari jarak lima meter dari pintu, bos saya bilang saya tak boleh bekerja lagi,” tuturnya.

Sang bos menyayangkan, mengapa status HIV itu tidak diceritakan dari awal. Meski majikannya seorang perawat, tetap tidak mau mendengar penjelasan apa pun yang disampaikan Melati. Dengan berat, Melati melangkah pulang kerumahnya.

Awal Tertular

Melati tertular dari sang suami. Dia tak mengetahui bahwa suaminya pertamanya mengidap HIV dan akhirnya meninggal. Melati baru mengetahui dari keluarga suaminya bahwa dahulu suaminya adalah pecandu narkoba. Sampai akhir hayatnya, baik suami dan keluarga tak pernah menyadari bahwa sudah positif terkena HIV.

Hasil pernikahan dengan suami pertamanya itu, Melati dikaruniai satu orang anak yang kini telah berusia delapan tahun. “Saya bersyukur, meski sewaktu bayi saya menyusui penuh, anak saya sampai saat ini tidak tertular seperti saya. Memang Alloh itu Maha baik,” kata Melati yang bersemangat menceritakan keadaannya.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandarlampung dr. Wirman mengatakan mitos yang berkembang di masyarakat bahwa HIV adalah penyakit kutukan serta mudah penularannya.

“Kondisi ini yang membuat para ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS)  khususnya kalangan ibu rumah tangga membuat tidak berani menyebutkan statusnya. Jangankan mereka yang masyarakat biasa, bahkan Odha yang juga merupakan penggiat HIV juga masih memilih untuk tidak mengungkap statusnya,” ujar dia.

Menurut Wirman, dengan ketidakberaniannya itu, membuat ODHA tidak berani mmeriksakan dirinya dan justru penularannya akan lebih meluas lagi. Namun kondisi seperti itu juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan masyarakat dan juga odha sendiri. Hanya perlu sosialisasi yang masif yang menjelaskan tentang bagaimana virus itu bisa menularkan tempat lainnya.

Penularan HIV itu hanya bisa melalui hubungan seksual, pemakaian jarum suntik dan luka. “Dan itu juga membutuhkan kosentrat yang banyak serta berdiam dalam waktu yang lama,” ujarnya. Tidak benar, jika melalui kontak keringat apalagi udara bisa menularkan pada yang lainnya.

“Jadi masyarakat tidak perlu menyikapinya secara berlebihan. Justru merekalah yang paling mudah tertular penyakit masyarakat pada umumnya dan mereka harus lebih ekstra menjaga imunitas tubuhmya agar tidak mudah tertular penyakit,” jelasnya.

Menurutnya masyarakat tidak perlu menyingkirkan anggota keluarga yang memiliki HIV/AIDS. Justru mereka harus mendapat dukungan moral agar bisa menjalankan aktivitas hidupnya dengan sebaiknya.

“Cegah penularan virusnya bukan orangnya,” kata Wirman.

Sementara itu hingga tahun 2014 jumlah Odha terus meningkat. Saat ini sudah mencapai 1.680 orang, 60 diantaranya adalah anak-anak. Tren yang cenderung meningkat HIV justru menjangkit pada ibu rumah tangga. Rata-rata penularan berasal dari suaminya yang memiliki perilaku seks berisiko.

Loading...