Desa Inklusi Keuangan Titiwangi: Ekonomi Menggeliat, Kesejahteraan Masyarakat Meningkat

Kepala Desa Titiwangi, Sumari, menunjukkan jamban produksi kelompok warga desanya yang kini pemasarannya meluas hingga luar Lampung, Selasa (30/11/2021). Foto: Teraslampung.com/Dandy Ibrahim
Kepala Desa Titiwangi, Sumari, menunjukkan jamban produksi kelompok warga desanya yang kini pemasarannya meluas hingga luar Lampung, Selasa (30/11/2021). Foto: Teraslampung.com/Dandy Ibrahim
Bagikan/Suka/Tweet:

TERASLAMPUNG.COM, CANDIPURO – Berjarak hanya 70-an kilometer dari Kota Bandarlampung, Desa Titiwangi, Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan terlihat tampak seperti desa-desa lain di Lampung. Suasana desa begitu terasa, pemandangan masih asri dengan hamparan sawah yang luas. Namun, jika kita memasuki Desa Titiwangi akan terasa geliat yang berbeda dibanding desa-desa di Lampung pada umumnya.

BACA: Desa di Lamsel Ini Dicanangkan Sebagai “Desa Inklusi Keuangan” Pertama di Luar Pulau Jawa

Dengan luas 750 hektera atau 7,5 Km2, Desa Titiwangi terdiri atas delapan dusun dan berpenduduk  6.683 jiwa. Salah satu hal yang membedakan dengan desa-desa lain pada umumnya adalah dengan adanya Galeri Investasi dan Edukasi Keuangan. Galeri Investasi tersebut hadir di Desa Titiwangi bersamaan dengan peresmian Titiwangi sebagai Desa Inklusi Keuangan pertama di luar Pulau Jawa dan pertama di Provinsi Lampung pada Rabu, 20 November 2019 lalu.

Galeri Investasi tersebut merupakan program Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Lampung. Desa Titiwangi merupakan salah satu desa inklusi yang memiliki galeri investasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah sarana untuk memperkenalkan pasar modal sejak dini kepada dunia akademisi.

Program “Desa Inklusi Keuangan” tersebut hadir di Desa Titiwangi sebagai layanan yang merangkul warga di pelosok desa agar tidak terjebak janji-janji manis pelaku kejahatan untuk mendapatkan keuntungan pribadi dengan berkedok investasi. Dulu, sebelum OJK Lampung dan Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan literasi keuangan di Titiwangi, banyak warga Desa Titiwangi yang terjebak investasi bodong. Uang dalam jumlah besar sudah disetorkan, tetapi uang itu lenyap tanpa bekas.

Sekda Provinsi Lampung, Fahrizal Darminto menandatangani prasasti peresmian Desa Titiwangi sebagai Desa Inklusi Keuangan, Rabu, 20 November 2019. Foto: Teraslampung.com/Zainal Asikin
Sekda Provinsi Lampung, Fahrizal Darminto menandatangani prasasti peresmian Desa Titiwangi sebagai Desa Inklusi Keuangan, Rabu, 20 November 2019. Foto: Teraslampung.com/Zainal Asikin

Saat diresmikikan sebagai Desa Inklusi Keuangan pada 20 November 2021, data OJK Lampung menunjukkan bahwa tingkat inklusifitas masyarakat Desa Titiwangi sudah 76 persen dengan pemahaman literasi 38 persen. Artinya, warga Titiwangi saat itu sebenarnya sudah banyak terlibat atau berinteraksi dengan isu keuangan, tetapi dengan pemahaman literasi yang masih tergolong rendah.

Ekonomi Desa Menggeliat

Deputi Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Lampung, Aprianus Jhon Risnad, mengatakan dengan adanya inklusi dan literasi keuangan harapannya dapat mendorong perekonomian desa, meningkatkan kesejahteraan, serta menurunkan tingkat kemiskinan.

“Melalui desa inklusi kita menyediakan akses keuangan. Kalau dulu untuk mendapat akses keuangan sepertinya sulit karena lokasi. Dulu industri keuangan zaman Paket Kebijakan Oktober (Pakto) 1988 dengan memperbanyak kantor. Sekarang dengan dengan layanan yang lebih luas dengan teknologi, layanan keuangan masyarakat bisa melalui Laku Pandai,” katanya dalam Kegiatan Pembekalan Kepada Insan Media di Provinsi Lampung, di Gedung Serba Guna (GSG) Desa Titiwangi, Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan, Rabu, 30 November 2021.

Desa Titiwangi merupakan salah satu desa inklusi yang memiliki galeri investasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah sarana untuk memperkenalkan Pasar Modal sejak dini kepada dunia akademisi.

Deputi Bidang Pengawasan OJK Lampung, Aprianus John Resnad, menyerahkan piagam kepada Kepala Desa Titiwangi pada acara Kunjungan OJK Lampung bersama media di Desa Titiwangi, Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan, Selasa (30/11/2021). Foto: Teraslampung.com/Dandy Ibrahim

“Galeri Investasi BEI berkonsep 3 in 1, yang merupakan kerjasama antara BEI, perguruan tinggi/sekolah/desa, dan perusahaan sekuritas. Galeri Investasi diharapkan tidak hanya memperkenalkan Pasar Modal dari sisi teori saja,  tetapi juga praktiknya. Ke depannya melalui Galeri Investasi BEI yang menyediakan real time information untuk belajar menganalisa aktivitas perdagangan saham, diharapkan dapat menjadi jembatan menuju penguasaan ilmu pengetahuan,” jelas Aprianus Jhon Risnad.

Menurut Aprianus, desa inklusi lebih luas daripada desa nabung saham. Mereka bisa memberikan tempat-tempat untuk literasi, sehingga literasi inklusi memberikan pemahaman kepada masyarakat apa itu produk-produk jasa keuangan agar masyarakat bisa memahami.

Setelah memahami, mereka bisa memilih mau kemana kalau punya uang. Apakah mau ke bank atau ke pasar modal, atau sebaliknya kalau mereka tidak punya uang mau ke mana mereka pinjam. Maka, pinjam uangnya harus ke lembaga keuangan formal, melalui sistem yang ditetapkan pemerintah melalui Kredit Usaha Rakyat atau KUR.

“Jadi literasi Inklusi ini lebih luas lagi daripada nabung saham. Dengan diresmikannya Titiwangi sebagai Desa Inklusi Keuangan, masyarakat agar lebih paham dan pintar apa yang namanya produk dan lembaga jasa keuangan. Di literasi inklusi ini, kita berikan pemahannya dan masyarakat bisa memilih mau kemana mereka,” katanya.

Pelatih Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Lampung, Fahmi Al-Kahfi, mengatakan di Desa Titiwangi sudah ada 15 orang yang menjadi investor di Mandiri Securitas.

“Mereka sebelum menjadi investor diberikan pelatihan. Selama pandemi diberikan pelatihan secara online. Sampai hari ini ada 15 orang masyarakat yang sudah menjadi investor dan transaksi sudah 200 juta lebih,” katanya.

Kesejahteraan Masyarakat Meningkat

Kantor Desa Titiwangi, Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan. Foto: Teraslampung.com/Dandy Ibrahim
Kantor Desa Titiwangi, Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan. Foto: Teraslampung.com/Dandy Ibrahim

Untuk bisa menjadi Desa Inklusi Keuangan, banyak pengalaman pahit yang sudah dialami warga Desa Titiwangi terkait  masalah investasi. Utamanya adalah investasi bodong yang beroperasi hingga pelosok desa.

Menurut Kepala Desa Titiwangi, Sumari, Desa Titiwangi dan beberapa desa lain di  Kecamatan Candipuro banyak jadi korban investasi bodong sejak tahun 2000 lalu. Salah satu investasi bodong itu adalah SSI. Warga banyak yang mengalami kerugian uang yang nilainya bervariasi hingga ratusan juta. Bahkan mereka juga  ada yang menjual lahan garapannya (sawah) serta ternak peliharaannya.

SSI adalah kependekan dari sawah sapi ilang. Itu adalah  istilah yang diberikan untuk investasi bodong yang menyebabkan sengsara karena gara-gara investasi tersebut sawah dan sapi warga hilang alias terjual tanpa sisa. Kerugian warga saat itu bervariatif, mulai Rp 50 juta hingga Rp 100 juta.

Pada  2013, di Kecamatan Candipuro pernah berdiri koperasi Baitul Maalwat Tamwil (BMT) Duta Jaya hingga tahun 2018. Saat itu warga dipameri keuntungan sebesar 5 persen. Warga langsung berbondong-bondong menaruh (menabung) uangnya di BMT tersebut.

Yuli Asmara, pemilik UMKM keripik pisang “Rendra Utama”. Ia memperjakan warga sekitar rumahnya untuk mengembangkan bisnisnya. Foto: Teraslampung.com/Dandy Ibrahim

Begitu uangnya sudah ditabung dan memiliki banyak nasabah, masyarakat lagi-lagi jadi korban. Uang tabungan yang disetorkan bahkan sertifikat yang menjadi jaminan pembiayaan, dilarikan oleh pemilik BMT tersebut dengan dalih bangkrut (colaps) dan sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya.

Seiring dengan makin berkembangnya tingkat literasi keuangan warga, kini tidak ada lagi warga Desa Titiwangi yang terbelit masalah investasi bodong.

“Sebelum ada Galeri Investasi di desa kami, dulu banyak warga desa kami yang tertipu dengan investasi bodong. Para pelaku investasi bodong itu seperti rentenir, masuk ke desa kami untuk mencari sasaran. Karena warga belum melek literasi keuangan, mereka ada yang tertipu. Sampai-sampai ada warga yang rumahnya terancam disita,” kata Kepala Desa Titiwangi, Sumari, Selasa, 30 November 2021.

Sumari mengungkapkan, kehadiran Galeri Investasi dan Edukasi Keuangan sejak dua tahun terakhir di Desa Titiwangi bukan hanya membuat masyarakat desa makin paham mendapatkan akses keuangan yang benar. Lebih dari itu, kata Sumari, warga Desa Titiwangi kini juga banyak termotivasi untuk terus membuat usaha rintisan atau mengembangan usaha yang sudah dijalankan.

Ibu Supinah (70) pekerja pengupas pisang di UMKM keripik pisang “Rendra Utama” di Desa Titiwangi. Foto: Teraslampung.com/Dandy Ibrahim

“Alhamdulillah, dengan hadirnya program Laku Pandai di desa kami, masyarakat desa semakin termotivasi mengembangkan potensi usaha. Selain pasar desa dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), secara perorangan atau berkelompok warga desa ini mulai mengembangkan usaha,” kata Sumari.

Sumari mengungkapkan, perekonomian masyarakat Desa Titiwangi ada di sektor pertanian, perikanan, peternakan, dan industri kecil.

Di bidang industri kecil, Sumari mencontohkan tumbuhnya beberapa Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) seperti industri keripik pisang, sale pisang, tempe, dan jamban. Sedangkan lembaga keuangan yang beraktivitas di Desa Titiwangi antara lain adalah lembaga ekonomi unit usaha desa, BUMDes, Samsat Desa Elektronik (E-Samdes), Galeri Investasi Desa, dan agen Laku Pandai.

Menurut Sumari, makin banyaknya pelaku usaha dan lembaga keuangan di Desa Titiwangi bisa meningkatkan perekonomian warga sehingga masyarakat desa pun menjadi sejahtera.

“Sebab UMKM-UMKM itu pasti membutuhkan tenaga kerja. Mereka tentu mencari tenaga kerja dari  warga sekitar, bukan orang jauh,” katanya.

Hal itu dibenarkan Yuli Asmara (41), pemilik UMKM keripik pisang “Rendra Utama” di Dusun Candi Rejo, Desa Titiwangi, Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan.

Yuli Asmara mengaku, usaha keripik pisang Rendra Utama menghidupkan ekomoni warga sekitar. Menurut Yuli, pengeluarannya dalam satu bulan untuk gaji karyawannya berkisar Rp7 sampai Rp8 juta.

“Belum yang harian ya. Untuk pengupas pisang sehari bisa dapat Rp40 sampai Rp50 ribu,” jelas pemilik usaha keripik pisang Hendra Utama Yuli Asmara.

Warga Desa Titiwangi bekerja di usaha keripik pisang “Rendra Utama”.

Dalam situasi normal (tidak ada pandemi Covid-19), UMKM Keripik Pisang “Rendra Utama” milik Yuni Asmara mempekerjakan warga sekitar sebanyak 20 sampai 25 orang. Yuli mengaku, beberapa pekerjanya adalah ibu-ibu berusia 50-an tahun, bahkan ada yang berusia 70 tahun.

Selain keripik pisang dan sale pisang produksi Desa Titiwangi yang sudah mulai dikenal di luar Lampung Selatan, ada juga produksi warga Desa Titiwangi yang sudah mulai dikenal di Lampung dan luar Lampung. Yaitu usaha pembuatan jamban atau water closet (WC) dengan kualitas yang bagus tetapi dengan harga sangat murah.

Jamban murah berkualitas itu diproduksi sekelompok warga Dusun Belitangjaya, Desa Titiwangi. Kelompok produsen jamban itu menyebut diri sebagai “Sekolah Swasembada WC”. Dirintis sejak 2016, kini pemasarannya sudah meluas hampir di semua wilayah Lampung, bahkan sampai ke Palembang dan Pulau Bangka.

“Saya katakan sangat murah karena satu unit jamban kami jual Rp50 ribu. Meskipun harganya murah,  tapi barangnya teruji kualitasnya. Bahannya semen dan pasir, dengan perbandingan adukan 1 : 1. Kami  pernah menguji dengan memukul jamban produksi kami dengan palu. Pada pukulan ke 7 baru pecah,” kata Nurkhozin (53), anggota “Sekolah Swasembaca WC” Desa Titiwangi.

Menurut Nurkhozin, semua desa di Lampung Selatan sudah pesan. Bahkan, pernah ada pesanan dari Palembang sebanyak 200 unit dan dari  Bangka sebanya 400 unit.

Ocit didampingi Kepala Desa Titiwangi, Sumari (baju seragam), menjelaskan soal pembuatan jamban murah tetapi berkualitas, Selasa (30/11/2021). Foto: Teraslampung.com/Dandy Ibrahim

“Kami baru mendapat pemesanan dari Mesuji sebanyak 1.000 unit,” katanya.

Anggota Sekolah Swadaya WC Desa Titiwangi, Ocit (33), mengatakan jika pesanan jamban meningkat,  warga sekitar diajak untuk membuat jamban. Per harinya mereka membuat  membuat 12 sampai 14 unit jamban.

“Kalau tenaga kerja kita tergantung pesanan, kalau besar pasti banyak tenaga kerja yang kita ajak masyarakat sekitar serta teman-teman kami untuk bekerja. Dengan begitu, warga sekitar juga ikut sejahtera,” katanya.

Dandy Ibrahim