Beranda News Internasional Dewan Muslim Prancis Mengecam Aksi Terorisme di Nice

Dewan Muslim Prancis Mengecam Aksi Terorisme di Nice

202
BERBAGI
Sejumlah petugas keamanan berjaga di depan Basilika Notre Dame di Nice, Prancis. Wilayah tersebut tampak dilarang untuk umum setelah aksi penyerangan oleh oknum bersenjata tajam menewaskan tiga orang, Kamis (29/10/2020) - Twitter/@cestrosi
Sejumlah petugas keamanan berjaga di depan Basilika Notre Dame di Nice, Prancis. Wilayah tersebut tampak dilarang untuk umum setelah aksi penyerangan oleh oknum bersenjata tajam menewaskan tiga orang, Kamis (29/10/2020) - Twitter/@cestrosi

TERASLAMPUNG.COM — Dewan Keimanan Muslim Prancis mengutuk peristiwa terorisme yang terjadi di Gereja Notre-Dame Basilica, Nice Kamis ini, 29 Oktober 2020. Sebagai wujud solidaritas, organisasi tersebut meminta seluruh Muslim di Prancis untuk berkabung atas para korban yang meninggal.

“Sebagai bentuk duka dan solidaritas terhadap para korban dan keluarga mereka, kami meminta Muslim di seluruh Prancis untuk membatalkan segala bentuk perayaan Maulid Nabi,” ujar pernyataan pers Dewan Keimanan Islam Prancis, dikutip dari CNN.

Diberitakan sebelumnya, tiga orang meninggal dalam aksi teror yang terjadi di Notre-Dame Basilica tersebut. Seorang pria bersenjata tajam membunuh tiga orang pengunjung di sana. Salah satu korban bahkan dipenggal oleh pelaku di mana menyerupai pembunuhan guru asal Paris, Samuel Paty, pada pertengahan Oktober lalu.

Dikutip dari Reuters, Jumat (30/10), setelah dilakukan identifikasi diketahui pelaku merupakan seorang pemuda Tunisia berusia 21 tahun bernama Brahim Aouissaoui.

Kepala jaksa anti-teroris Prancis, Jean Francois Ricard, mengatakan sebelum melancarkan aksi penusukan di gereja, Aouissaoui tiba di Eropa pada 20 September di Lampedus, Italia yang merupakan daerah para imigran dari Afrika.

“Pria itu datang ke kota (Nice) dengan kereta api pada Kamis pagi dan pergi ke gereja di mana dia menikam dan membunuh sexton berusia 55 tahun dan memenggal kepala seorang wanita berusia 60 tahun,” kata Ricard.

“Dia juga menikam seorang wanita berusia 44 tahun yang melarikan diri ke restoran terdekat di mana (korban) meninggal beberapa menit kemudian,” tambah dia.

Adanya wujud solidaritas dari Dewan Keimanan Islam menunjukkan bahwa toleransi masih ada di tengah tegangnya hubungan Prancis dan komunitas Muslim akhir-akhir ini. Pemicu ketegangan itu sendiri adalah pernyataan Presiden Emmanuel Macron soal aksi-aksi teror di Prancis.

Beberapa hari lalu, Emmanuel Macron menuding Islam Radikal sebagai dalang di balik sejumlah aksi teror di Prancis, termasuk pembunuhan Samuel Paty. Menurutnya, hal tersebut sebagai hasil dari krisis Islam. Oleh karenanya, ia akan bertindak lebih tegas terhadap komunitas Islam yang dirasa radikal, termasuk menutup masjid yang melindungi mereka.

Dampak dari pernyataan Macron diperburuk dengan dukungan penerbitan kembali karikatur Nabi Muhammad dari majalah Charlie Hebdo. Padahal, dalam ajaran Islam, Nabi Muhammad tidak boleh diilustrasikan dalam wujud manusia karena sosok suci. Alhasil, komunitas Muslim di berbagai penjuru dunia mulai memboikot produk-produk asal Prancis.

Perdana Menteri Prancis Jean Castex mengumumkan peningkatan status peringatan keamanan di wilayahnya ke level tertinggi setelah serangan bersenjata tajam di Nice telah menewaskan tiga orang.

Pemberlakuan status darurat itu diumumkan pada hari yang sama dengan peristiwa penyerangan itu, Kamis (29/10/2020). Castex di hadapan Majelis Nasional Prancis mengatakan pemerintah akan memberi respons yang tegas.

Seorang perempuan dan dua lainnya tewas dalam peristiwa yang diduga dilakukan oleh seseorang pelaku teror di sebuah gereja di Nice, Prancis.

Beberapa jam setelah serangan teror di Nice, polisi menembak mati seorang pria yang diduga mengancam pejalan kaki dengan pistol di Montfavet, di dekat Kota Avignon, Prancis.

ISTMAN MP | CNN | REUTERS | TEMPO