D.H. Armadi

  • Bagikan

Asarpin*

Kalau mengingat teman satu ini naluri sedih saya langsung bangkit. Di mana ia sekarang, padahal dulu rajin sekali nulis di koran. Kabar terakhir ia jadi dosen, mengajar bahasa Arab yang dia sendiri sudah tahu dan bosan. Saban hari ia mengimlakkan kata-kata Arab, menyuruh mahasiswa membuat tugas, yang semuanya tak menambah pengetahuan baru baginya.

Jiwa dan bacaannya tak di situ. Salah satu kekuatan kawan satu ini karena ia kutu buku. Ia pembaca prosa dan puisi yang tekun dan sangat teliti. Mana ada di kampusnya orang bicara sastra, yang ada hanya karir. Mana ada dosen-dosen lainnya yang punya koleksi buku dari sastra sampai filsafat hingga pemikiran kritis tentang bahasa.

Saya tak membayangkan jika hidup seperti dia. Pasti sangat menyiksa. Bahkan dia sendiri tampak bergolak dan harus pandai-pandai membawa diri akan tak ikut arus besar yang dangkal di sekitar kampusnya. Terasingkah ia? Bisa jadi. Apalagi melihat usianya yang sudah 41 tapi perawakannya masih seperti dulu: payah gemuk. Padahal setahuku ia tak punya penyakit, hanya perokok yang belum bisa ia tinggalkan.

Kalau ada orang yang membuat saya iri, dari dulu sampai kini, dialah D.H. Armadi. Hobinya baca buku dengan beragam jenis, dan koleksi bukunya hampir tak terdandingi semua dosen di lingkungan kerjanya. Bukan cuma kuantitas, tapi kualitas bukunya bikin ngiler dan tak jarang membuat saya geleng-geleng kepala.  Koleksi bukunya dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris dan Arab. Sebentar lagi Prancis.

Apa yang dia kerjakan di kampus benar-benar melelahkan, yang hasilnya belum seimbang yang ia dapatkan. Padanya saya belajar arti sesungguhnya dari sebuah bacaan. Melihat buku-bukunya yang beragam, juga esai-esainya tentang agama, sastra dan budaya beberapa tahun lalu, jelas ia menolak ilmu dikotak-kotakkan dalam benteng bernama fakultas. Dia kuliah di fakultas keguruan, tapi yang dia baca buku-buku filsafat, studi agama, pedagogi kritis, wacana pascakolonial-pascamodernisme, dan terakhir saya dengar ia sedang menyiapkan rencana studi ke Prancis.

Menurut kata-katanya yang saya rekam dalam ingatan: sungguh menyedihkan melihat kecenderungan spesialisasi  yang memisah-misahkan disiplin pengetahuan. Padahal dulu banyak orang cerdas justru karena tidak mengenal fakultas. Mereka membaca apa saja, belajar apa yang dia suka dan inginkan, menulis soal krisis lingkungan, krisis sastra,  budaya massa,  studi Islam hingga Orientalisme.

Seandainya teman satu ini dibebaskan memilih apa yang ingin ia sampaikan kepada para mahasiswa, saya yakin ia lebih suka mengajar pendidikan yang mampu membangun kesadaran kritis mahasiswa dengan mengajak siswa bertanya, berdiskusi, berdebat, dan terakhir meminta mahasiswa menulis. Sebab, ada beberapa mahasiswa yang sekarang mulai menulis di koran karena kerja keras dan usaha gigihnya di luar jam pelajaran. Tapi yang membuat saya bertanya-tanya: mana tulisanmu sendiri, kawan?

*Esais

  • Bagikan