Di Dunia Kaya Raya, Mati Masuk Surga

  • Bagikan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Sore itu lampu piranti komunikasi berkedip; pertanda ada berita masuk. Buru-buru dibuka,  ternyata ada komentar dari sahabat lama yang selalu menyimak warta online yang kita baca ini. Beliau mengabarkan bahwa sekarang musimnya anak muda bercita-cita saat  muda foya-foya, kelak kalau  mati masuk surga — ditambah emoji  tertawa. Komentar itu menggugah untuk didedah menggunakan analisis filsafat; bagaimana peluang kejadian di dunia kaya raya, kemudian nanti mati masuk surga.

Ternyata hasil dari penelusuran ditemukan di Kompasiana.com; awal frase itu bukan dua, akan tetapi tiga, bunyi lengkapnya “Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga!”

Hanya saja, pertanyaan kemudian: adakah peristiwa itu terjad? Sebab, banyak ulama mengatakan bahwa ketiga frase tadi bertentangan satu dengan yang lain, sehingga untuk terwujud secara logika sulit ditemukan.

Namun, kita tidak bisa begitu saja meletakkan frase tadi, baik tiga, maupun dua, kemudian menyimpulkan tidak mungkin terjadi. Mohon dipahami antarfrase itu diberi koma, bukan tanda baca titik. Ini menunjukkan ada peluang secara filosofis akan terjadinya perubahan di sana, dan pemahaman baru yang bisa jadi juga muncul. Tinggal bagaimana kita menajamkan pisau analisis untuk membedahnya.

Mendiang Prof. Mr Kasman Singodimejo, pernah berkata: “Dalam Islam itu yang penting matinya khusnul khatimah. Hidupnya sebelumnya bejat, nggak jadi soal. Yang penting matinya husnul khatimah. Tapi masalahnya, tahukah saudara, kapan saudara akan mati?” Benar, kita tidak tahu kapan kita akan mati. Jadi tesis di atas dibantah sendiri oleh antitesisnya.

Kilas balik dapat kita jadikan rujukan adalah coba kita ingat dengan satu nama, Bangun Sugito Tukiman (tempointeraktif.com) , pria yang lahir di Biak Papua 1 November 1947 – yang kita kenal dengan Gito Rollies. Beliau meninggal pada tanggal 28 Febuari 2008 di usianya yang ke 60. Bangun Sugito Tukiman, adalah salah satu nama dari sekian juta penduduk negeri ini yang terhipnotis oleh musik rock (barat). Figur The Rolling Stones, dengan lead vocal-nya Mick Jagger, menjadi idolanya sejak remaja.

Pada usia remaja Bangun Sugito tinggal di Bandung, terkenal sangat berandal. Aksi nekatnya tercatat di tahun 1967, yang memembuat kota Bandung gempar, saat itu ketika dirinya yang mendapat cap “Siswa Bengal” ternyata termasuk salah satu siswa yang lulus dari SMA-nya. Maklum, daftar kenakalannya lebih panjang dari daftar absen murid di kelasnya, sehingga ia tak yakin jika namanya akan tertulis di papan pengumuman kelulusan.

Kesukacitaan atas kelulusannya dilampiaskan dengan gaya ala rocker, dengan melakukan aksi tanpa busana sambil naik sepeda motor mengelilingi kota kembang. Saat dia berkibar dengan grup musiknya The Rollies, dia hidup bergelimang harta dan ketenaran, kehidupan mudanya penuh dengan hura-hura. Bahkan pernah dia mengatakan disuatu interview, “Tiap Jumat siang kami berangkat ke daerah Puncak Bogor untuk pesta miras dan narkoba”. Tapi siapa yang menyangka, di tahun 1995, atau tepatnya setelah 10 November 1995, Si Rocker satu ini baru benar-benar berhenti mengkonsumsi drugs dan alkohol, setelah mengalami sebuah peristiwa yang memembuatnya shock lahir batin.

Ceritanya, sepulang dari konser Hari Pahlawan di Surabaya, di bawah pengaruh narkoba, Gito Rollies selama tiga hari mengalami ‘fly berat’. Dia tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, selama tiga hari itu antara sadar dan tidak sadar dia tersiksa dan dia merasakan semua kelakuannya di masa lalu seperti diputar di depan matanya. “Saya takut sekali,” ujarnya seperti diungkapkan kepada koran Tempo.

Perubahan yang terjadi pada sosok Gito Rollies sedemikian dahsyatnya. Dunia hiburan Indonesia, tak percaya – seorang Rocker yang bisa berubah menjadi ustaz dan berdakwah kepada teman-teman seprofesinya. Gito Rollies meninggal saat sedang berdakwah. Beliau meninggal akibat penyakit kanker getah bening. Luar biasa, penyakit kanker getah bening yang terus menggerogoti tubuhnya tidak menyurutkan semangat dakwahnya. Jika, kita telusuri mungkin masih banyak cerita seperti Gito Rollies, namun karena tidak terkenal maka tidak dikenal.

Sisi lain yang perlu kita lihat adalah batasan kaya itu perlu pemahaman tersendiri. Kaya bisa dalam pengertian harta benda, uang, dan ini batasan umum yang ada dalam masyarakat. Pada hal ada kaya dalam pengertian lain; yaitu kaya ilmu pengetahuan (agama); seperti halnya yang sedang popular saat ini Kiai Haji Bahauddin Nursalim, yang lebih dikenal dengan Gus Baha. Beliau orang yang sangat kaya ilmu agama dan pemahaman akan Kitab Suci Alquran. Rasanya orang seperti inilah yang patut menyandan frase “muda kaya ilmu, mati khusnulkhotimah”. Namun sekali lagi kita kembalikan kepada Sang Pemilik Waktu; seperti apakah kematian yang akan kita jalani, hanya Dia-lah yang Maha Menentukan.

Membandingbandingkan adalah perilaku kurang etis oleh karena itu maksud paparan di atas bukan ingin membandingkan tokoh, akan tetapi mengajak menjadikannya referensi kehidupan, sehingga kita memahami sebenarnya usia kita bukan bertambah, akan tetapi berkurang, rezki kita ada yang mengatur dan tidak akan salah alamat, ketentuan kematian sudah ditetapkan. Tinggal bagaimana kita sebagai manusia yang pandai bersyukur atas semua nikmat yang telah diberikan. Peringatan sudah diberikan dalam Surah Arahman “nikmat mana lagi yang akan kau dustakan” dan ini berulang ulang ditabalkan. Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin.

Selamat menikmati kopi.

  • Bagikan