Beranda Seni Esai Dialektika Sastra, Etika dan Ketuhanan

Dialektika Sastra, Etika dan Ketuhanan

1238
BERBAGI
Ilustrasi/Blontank Poer

Oleh Asarpin*

Ketegangan antara estetika dan etika terus berulang hampir sepanjang sejarah peradaban manusia. Tahun ini, misalnya, novel The Da Vinci Code karya Dan Brown dan Laskar Cinta karya Ahmad Dhani (pimpinan Group Dewa), menuai kontroversi. Kedua karya itu berisitegang dengan persoalan yang menyangkut sastra dan agama atau estetika-etika.

Baik Brown maupun Dhani, berkarya pada wilayah estetika (kesenian) dengan bingkai teologis. Brown menuai kritik dari kalangan gereja lantaran memuat cerita tentang Yesus yang pernah menikah dengan Maria Magdalena dan punya anak. Sementara Dhani menuai kritik dari Front Pembela Islam (FPI) lantaran aksi panggungnya yang menginjak kaligrafi lafdzul dzalalah.

Meski berkali-kali Dhani meminta maaf dan mengakui ada kesalahan teknis dalam panggung tersebut, namun kritik tak berhenti sampai di situ. Budayawan Betawi, Ridwan Saidi, tidak hanya mengeritik aksi panggungnya, tapi juga lirik lagu Dewa yang dinilainya menyebarkan aliran sesat (Warta Kota, 27/4/2005).

Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun kemudian turun tangan dengan mengeluarkan pernyataan sikap terkait perseteruan antara Group Dewa dengan FPI. MUI bisa menerima kaligrafi bintang segi delapan di atas panggung yang digunakan Group Dewa mengekspresikan aksinya. Tetapi, MUI juga meminta pada Group Dewa untuk mencabut logo yang ada di sampul album terbaru mereka (Laskar Cinta).

Sejak zaman Galileo, ketegangan antara estetika dan etika sudah terjadi. Jadi, ketegangan serupa yang terjadi saat ini sebenarnya hanya perpanjangan dari ketegangan di masa lalu. Siapa yang salah dan siapa yang benar, siapa yang kafir dan tidak kafir menjadi perdebatan yang tak kunjung tuntas dan melelahkan.

Polemik antara Galileo vs Gereja telah menciptakan ketegangan yang cukup menyita perhatian kalangan sastrawan dan agamawan. Sejarah juga mencatat ketegangan itu menjadi tarik-ulur teologis-politis. Kebenaran dan kesalahan dalam konteks ini pada akhirnya bermuara pada relativitas-manusiawi kita masing-masing.

Persoalannya, apakah polemik tentang karya Brown dan Dhani juga syarat kepentingan teologis-politis? Sejauh ini saya belum melihat kontroversi itu mengarah kepada persoalan politik atau perebutan pengaruh di panggung politik. Isu teologis memang tak selamanya bersanding dengan isu politis, begitu pula sebaliknya. Namun, kontroversi The Da Vinci Code dan Laskar Cinta berkelindan dengan isu teologis-politis.

Dan Brown menganggap karyanya fiksi, bukan fakta yang bisa dipertanggungjawabkan secara moral-etis. Sikap yang diambilnya tak lebih dari siasat untuk menghindar dari jeratan. Kontroversi atas The Da Vinci Code jelas menyangkut fakta-fiksi, bukan semata-mata fiksi, sebagaimana Brown katakan. Novel The Da Vinci Code tidak murni fiksi, tapi juga tidak murni fakta.

Anggapan bahwa novel Brown itu semata-mata fiksi, mengandung kebohongan yang disembunyikan. Sebaliknya, menganggap The Da Vinci Code tidak bertaut dengan realitas sama-sekali, juga tidak benar. Membaca The Da Vinci Code tak ubahnya membaca beberapa buku-buku sejarah teologi dengan fakta dan bukti-bukti historis yang cukup meyakinkan.

Ketegangan etis-estetis semacam itu mengingatkan saya pada kontroversi Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin tiga puluh tahun lalu. Kontroversi ini menyeret HB Jassin ke meja pengadilan atas tuduhan menghina Nabi (sebuah pengadilan sastra dengan bukti-bukti dan fakta-fakta agama). Begitupula novel The Satanic Verses (1989) karya Salman Rushdie, yang telah menuai kritik keras dari Ayatullah Khomeini. Tetapi, novel Rushdi diam-diam dibela oleh beberapa Indonesianis, termasuk Annemarie Schimel.

Pada masa kesultanan Aceh, polemik antara Hamzah Fansuri dan Nuruddin ar-Raniry juga sempat menyulut ketegangan antara ulama fikih dan ulama tasawuf. Ketegangan tersebut merupakan ‘kembar siam’ dari ketegangan masa lalu, yang bisa ditelusuri lewat tegangan antara Ibn Rusyd dan Al-Ghazali.

Pada tahun 2000 kontroversi serupa terjadi di Mesir. Saat itu beberapa agamawan menuduh novel Walimah `Asyab al-Bahr karya sastrawan Suriah, Haidar, telah melecehkan akidah Islam. Tegangan estetis-etis ini pernah diangkat oleh Said Taufiq dalam esainya, Tarik Ulur Estetika dan Etika: Membaca Polemik Budaya di Bumi Kinanah (2001). Tegangan berlanjut ketika anggota sebuah organisasi Islam di Mesir menuduh telah terjadi pelecehan nilai-nilai sosial dalam tiga novel yang diterbitkan oleh Lembaga Kebudayaan Mesir.

Ketegangan yang dianggap bermula dari perbedaan cara menyikapi estetika dan etika atau sastra dan agama belakangan ini cukup menyita sebagian besar pengarang di Tanah Air. Ribut Wijoto dalam esainya di harian Republika (2002) pernah secara tegas menganggap sastra agama tidak pernah ada, lantaran membedakan dengan kontras sastra dan agama. Pandangan itu mendapat kritik keras dari Oyos Saroso HN di harian yang sama. Oyos menganggap Ribut –dan beberapa sastrawan lainnya– terlalu simplistis dalam menarik garis perbedaan antara sastra dan agama.

Bila kita menoleh jauh ke belakang, tidak sedikit sastrawan kita yang mengungkapkan rasa cinta dan rindunya kepada Tuhan lewat syair atau puisi religius dengan sangat berani. Dalam esainya, Pramoedya Ananta Toer pernah menyebut dua buah sajak — masing-masing karya Hariadi S Hartowardojo dan Idrus — yang menurutnya cukup berhasil mengeksplorasi bahasa yang ‘nakal’ atau subversif dengan capaian diksi dan tema yang tidak biasa pada waktu itu:

Aku jumpa Tuhan di tikungan.
Kucabut keris terus kutikam
(kutipan sajak Hariadi S Hartowardojo).

Tuhan lama sudah bertukar
dengan Tuhan baru.
(kutipan sajak Idrus)

Pemberontakan seorang penyair terhadap Tuhan, menurut Pramoedya, tak mungkin mampu meruntuhkan kebesaran dan keagungan Tuhan. Justru tiap orang yang berpikir ke arah itu tidaklah akan mendapat penyelesaian yang memungkinkan ia bisa berpuas hati. Bukankah, “Aku adalah Khazanah Tersembunyi,” kata sabda Tuhan dalam salah satu hadis qudsi-Nya.

Afrizal Malna pernah menegaskan pandangannya tentang Tuhan sebagai wujud kemarahannya. Dari sini kemudian ia seperti Chairil Anwar yang ingin hidup seribu tahun lagi, tetapi hidup dengan tanpa Tuhan, sebagaimana saya kutip langsung dari salah satu esainya:

Untuk sepuluh tahun lebih, kemudian aku hidup tanpa Tuhan. Aku mulai belajar hidup tidak lagi dalam penghayatan ‘hidup bersama-Nya’, tetapi bersama diriku sendiri.

Budha? Aku merasa inilah sebuah agama antroposentris yang tidak mengenal kemarahan.

Afrizal tak hanya berhenti sampai di situ. Meski berkali-kali “Tuhan diusir” dan “diingkari” dalam teks sastranya, pada akhirnya Afrizal hanya mampu berkata, “Aku hidup tanpa Tuhan, tapi aku tidak pernah mampu menolak-Nya, karena aku sama sekali tidak menemukan alasan berarti untuk menolak-Nya.”

Dengan cara itu, Afrizal hendak menegaskan bahwa upaya pencarian seorang pengarang pada Hakekat Mutlak bisa dilakukan lewat karya sastra. Meski pada awalnya ia memandang Tuhan dengan rasa takut, bahkan dengan kemarahan, namun ia kembali lagi dengan rasa cinta dan keindahan eksistensi-Nya (sebuah proses pencarian yang sangat intens) yang asyik-masyuk ke dalam relung jiwa yang sangat privat, mengasyikkan, dan sangat penting di zaman seperti sekarang ini.

Hudan Hidayat, lewat cerpen “Khidir” (dalam Orang Sakit) menafsirkan dengan kritis surat Alquran (Surat Hud dan surat Baqarah) tentang penciptaan manusia pertama di muka bumi. Menurutnya, hanya “akal-akalan” Tuhan untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, karena memang Adam mau diturunkan menjadi khalifah di muka bumi. Tuhan sudah mentakdirkan kejahatan dan kebaikan secara bersamaan, karena itu tak penting lagi perangkat-perangkat yang mendukung kita sebagai manusia. Bukankah Tuhan sudah menskenario “kami” di pihak kejahatan dan “kamu” di pihak kebaikan? Sebab kalau tidak, apa artinya ayat-ayat Tuhan bagi manusia.

Setiap orang pada akhirnya akan menciptakan tafsirnya sendiri, dan sastrawan pun menciptakan tradisi mereka sendiri dalam memahami agama dan Tuhan. Agama dan Tuhan bagi mereka masa kini bukan lagi sebagai Tuhan yang bersifat maskulin, tetapi Tuhan feminin sekaligus maskulin atau Bapa sekaligus Ibu. Dialektika feminin-maskulin ini pada gilirannya akan menghasilkan gambaran tentang Tuhan yang benar-benar pengasih-penyayang (arrahman-arrahim).

*) Asarpin adalah pemerhati sastra, tinggal di Bandarlampung. Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 27 November 2005

Loading...