Diduga Jadi Korban “Human Traficking”, Anak-Anak Sumsel Ini Ingin Kembali ke Rumahnya

  • Bagikan
‎Yoga (kanan) Hendri (kiri), kedua anak jalanan yang diduga nyaris jadi korban perdagangan manusia.
‎Yoga (kanan) Hendri (kiri), kedua anak jalanan yang diduga nyaris jadi korban perdagangan manusia.

Feaby| Teraslampung.com

Kotabumi– Anak – anak jalanan asal Provinsi Sumatera Selatan yang diduga korban perdagangan manusia (human traficking) mengaku masih ingin kembali ke keluarganya masing – masing.

“Iya, om. Kami mau pulang. Kangen dengan keluarga,” kata Yoga Pratama (14), anak jalanan yang ‘diselamatkan’‎ warga Kotabumi, Lampung Utara, Selasa (31/1/2017).

Dengan senyum khas anak – anak, Yoga menceritakan awal dirinya sampai ke Lampung Utara dan dari mana asalnya. Yoga mengatakan, dirinya berasal dari Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Menurut Yoga, ia masih memiliki kedua orang tuanya yang tinggal di daerah Pasar Bawah, Lahat. Ayahnya bekerja sebagai buruh serabutan dan ibunya bekerja di warung makan.

“Saya temu Candra, Dede, dan Della di daerah Prabumulih waktu nyari uang di pasar. Saya dan Hendri diajak Candra ke Jakarta untuk cari uang. Sementara, Della memang sudah diajak,” ‎kisahnya.

Yoga kembali mengaku mengenal Della di tempat asalnya, Lahat sewaktu mengamen atau meminta – minta di sana. Namun, dirinya mengatakan, tak mengetahui persis bagaimana ceritanya sampai Della ikut bergabung dengan Candra di Prabumulih. Mereka berlima menumpang truk pengangkut batubara menuju Jakarta. Sayangnya, supir truk menurunkan mereka di Lampung Utara sehingga mereka terpaksa berkeliaran di Kotabumi.

Yoga membenarkan, ‎sehari sesudah tiba di Kotabumi, tepatnya Jum’at malam (26/1/2017), Della, rekan mereka dihampiri oleh laki – laki dewasa. Laki – laki itu memegang tangan rekannya dan terus memaksa Della untuk ikut dengannya. Melihat hal itu, dirinya beserta ketiga rekannya berusaha menyelamatkan dan membawa kabur Della sehingga tak sempat terjadi hal – hal yang tak diinginkan.

“Kemarin malam, Della juga mau diperkosa oleh laki – laki lain lagi. Di Tanjung Enim, Della juga nyaris digituin,” kata dia.

‎Menurut Yoga, Dede kerap dipukuli dan dimarahi oleh Candra bila tak menyetorkan uang hasil ngamen atau minta – minta kepadanya. Namun, perlakuan itu hanya menimpa Dede dan bukan dengan dirinya dan kedua rekannya yang lain. Dede sendiri merupakan warga Bandar Lampung yang merantau hingga Prabumulih.

“Cuma Dede saja om yang dimarahin. Kalau kami, enggak,” tuturnya.

Remaja belasan tahun ini‎ juga menceritakan sisi kelam keluarga rekannya, Hendri Gunawan (12). Hendri yang dulunya tinggal dengan ayah tirinya selalu dipukuli jika tak sanggup membawa uang sebesar Rp15.000 saat pulang. Bahkan, Hendri diusir ayah tirinya dari rumah karena hanya membawa uang sebesar Rp5.000 ke rumah. Itulah yang membuat Hendri akhirnya tak berani kembali ke rumah hingga sampai ke Kotabumi.

“Hendri diusir ayah tirinya dari r‎umah karena cuma bawa Rp5.000,” jelas dia.

Di tempat sama, Hendri meski terkesan malu – malu menjawab semua pertanyaan yang diajukan padanya, membenarkan apa semua yang d‎ituturkan oleh rekannya. Saat ditanyakan apakah masih ingin kembali ke rumah, Hendri terlihat kebingungan lantaran ingat dengan perlakuan ayah tirinya.

“Ibu cuma ngasuh adik – adik aja, om. Adik saya tiga. Saya sudah berhenti sekolah,” akuinya sembari menundukan wajah.

lampungchannel.com

  • Bagikan