Beranda Hukum Diduga Menganiaya, Caleg Terpilih Partai Demokrat Dilaporkan ke Polda

Diduga Menganiaya, Caleg Terpilih Partai Demokrat Dilaporkan ke Polda

366
BERBAGI
Zainal Asikin/teraslampung.com

BANDAR LAMPUNG – Dua korban penganiayaan yang mengalami bekas luka tembak
dan bacokan di tubuhnya karena dianaya, Hendri (37), warga Karang Sari dan
pamannya bernama Muhtar (55), warga Negeri Ujung
Karang, Kecamatan Muara Sungkai, Lampung Utara mendatangi Mapolda Lampung,
Minggu (20/7).

Keduanya melaporkan pelaku penganiayaan
yakni Samsoli, Aprisal, Zainal Abidin alias Zainal Jago, Igo, dan Joni
Badial (caleg terpilih dari partai Demokrat) ke bagian Pengawasan dan
Penyidikan (Wasdik) Direktur Kriminal Umum Polda Lampung. Para pelaku
tidak ditahan karena diduga mempunyai jaringan kuat yang membekinginya.

Dalam laporannya Hendri mengaku kelima pelaku yang telah melakukan penganiayaan
terhadap keluarganya. Mereka melakukan penganiayaan pada 19 Juni 2014 lalu menggunakan
senjata api dan senjata tajam. Meskipun sudah melapor ke Polres Lampung Utara,
kata Hendri, polisi tidak melakukan tindakan apa pun.
“Sebelumnya, saya sudah melaporkan kelima pelaku ke
Polres Lampung Utara. Yang saya laporkan adala Samsoli, Zainal Abidin alias
Zainal jago yang merupakan spesialis pembuat senjata api rakitan,
 Aprisal, Igo dan Joni Badial (Caleg terpilih dari partai
Demokrat). Karena tidak ada kejelasan proses hukum, kami melapor ke Polda,”
kata Hendri, Minggu (20/7).
Menurut Hendri, bukan hanya
keluarga saya dan warga sekitar saja yang menyaksikan penganiayaan yang
dialaminya bersama pamannya. “Bahkan anggota polisi pun melihat dengan jelas
kejadian itu didepan mereka,” kata Hendri kepada wartawan di Graha
Jurnalis Polda, Minggu (20/7).
Hendri mengaku penganiayaan itu berawal dari kasus penculikan
dan pencabulan yang menimpa putrinya yang masih di bawah umur. Meski dalam
posisi dirugikan (anaknya diculik dan dicabuli) , kata Hendri, keluarganya
justru menjadi sasaran penganiyaan.
“Kami merasa tidak mendapatkan perlindungan serta
kepastian hukum yang adil dan sesuai dengan peraturan undang-undang yang
berlaku. Saat ini saya beserta keluarga
mengungsi, terpaksa meninggalkan rumah saya karena khawatir keselamatan
keluarga saya terancam,” kata Hendri.
Menurut Hendri, akibat teror dan penganiyaan yang
diterimanya, dia dan pamannya menjadi cacat seumur hidup. Anak-anaknya pun
terpaksa berhenti bersekolah.
“Saya meminta agar penegak hukum baik Polda lampung
dan Polres setempat dapat menindak secara tegas para pelaku,” kata Hendri.

Hendri mengaku penganiayaan meruapakan buntut kasus  pencabulan yang dilakukan Andri Riyadi (21),adik ipar Samsoli. Menurut Hendri, Andri  telah melakukan pencabulan sebanyak
lima kali disertai pengancaman terhadap anak kandungnya berinisial HA (13)
masih duduk dibangku kelas dua SMP.
Andri sempat ditahan di Mapolres Lampung
Utara. Namun baru beberapa hari ditahan Andri kemudian dilepaskan karena ada
pihak yang menjamin. “Setelah Andri keluar dari tahanan, keluarga dari pelaku
selalu mengintimidasi mengancam akan membunuh seluruh keluarga kami,” kata Hendri.

“Mereka mengancam dengan mengatakan ‘ kok
berani-beraninya mau memenjarakan kami?!’,” tutur Hendri.

Baca Juga: Kronologi Penganiyaan Caleg Terpilih DPRD Lampung Utara terhadap Keluarga Hendri

Loading...