Beranda Hukum Kriminal Diduga Teroris, Guru MTs dan Istrinya Dibekuk Densus 88 di Cianjur

Diduga Teroris, Guru MTs dan Istrinya Dibekuk Densus 88 di Cianjur

784
BERBAGI
Tim Densus 88 mengamankan sepasang suami istri terkait dugaan terorisme di Desa Gunungsari, Ciranjang, Cianjur, Kamis 14 November 2019. Keduanya diketahui baru saja tinggal di wilayah tersebut dan kemudian ditangkap karena diduga memiliki keterkaitan dengan jaringan teroris. Foto: pikiran-rakyat.com
Tim Densus 88 mengamankan sepasang suami istri terkait dugaan terorisme di Desa Gunungsari, Ciranjang, Cianjur, Kamis 14 November 2019. Keduanya diketahui baru saja tinggal di wilayah tersebut dan kemudian ditangkap karena diduga memiliki keterkaitan dengan jaringan teroris. Foto: pikiran-rakyat.com

TERASLAMPUNG.COM — Densus 88 Antiteror menangkap DS (24) dan DK (25), pasangan suami istri terduga teroris, di Desa Gunungsari, Kecamatan Ciranjang, Cianjur, Jawa Barat, Kamis, 14 November 2019. DS adalah seorang guru Madrasah Tyanawiyah Negeri (MTsN).

DS ditangkap saat akan menuju ke sekolah tempatnya mengajar di Kampung Cibanteng, Desa Gunungsari, Kecamatan Ciranjang. Sedangkan istrinya diamankan di rumah kontrakannya.

Humas MTsN  3 Cianjur, Agus Sutiana, mengaku pihaknya baru tahu penangkapan DS setelah didatangi pihak Polsek Ciranjang.

“Diamankannya bukan di sekolah, tetapi saat dalam perjalanan menuju ke sekolah,” katanya, Kamis (14/11/2019).

Tokoh agama setempat, Ustaz Ahmad Rifai (30), mengatakan DS mulai tinggal di Kampung Cihaur 1 sejak usia 13 tahun, setelah ayahnya menikah dengan warga di wilayah tersebut.

”Kalau ibadahnya termasuk bagus, dia juga sering azan dan ngaji. DS pun berprestasi di sekolahnya,” ujar dia.

Setelah lulus SMK, DS melanjutkan pendidiknya ke Perguruan tinggi di Bandung karena mendapatkan beasiswa dari sekolahnya. Namun, ia menilai saat kuliah perilaku dan pemikiran DS tentang ibadah serta agama mulai berbeda.

Keduanya bakan sempat berdebat terkait pandangan agama. DS juga diketahui banyak membahas soal jihad dan mati di jalan yang mulia. Bahkan, mengenai jaminan masuk surga apabila gugur dalam berjihad.

“Kami berdebat cukup keras soal pandangannya yang keliru. Apalagi soal cita-citanya mati mulia jika berjihad terhadap apa yang dianggapnya salah,” kata dia.

Menurut dia, DS juga memiliki agenda rutin setiap pekannya seperti pengajian di tempat dosennya di Bandung. Diduga, pengajian itu khusus untuk kelompok mereka.

Ahmad mengaku, sudah menyampaikan perubahan sikap dan perilaku dari DS kepada pihak keluarga, termasuk pernyataan dari masyarakat soal gerakan dan bacaan ibadah yang sedikit berbeda. Akan tetapi, ayah dari DS itu mengaku sudah sulit untuk membina anaknya tersebut dan justru menyerahkan putranya pada Ahmad.

”Sekarang sudah tidak berkomunikasi lagi dengan DS begitu dia mengontrak di Kampung Cibodas Desa Gunungsari. Dulu sih pas masih disini masih sering diingatkan supaya tidak terpengaruh paham pahala radikal,” katanya.

Pikiran Rakyat

Loading...