Beranda News Nasional Digembosi, Ribuan Mahasiswa Tetap Turun ke Jalan Gejayan Yogyakarta

Digembosi, Ribuan Mahasiswa Tetap Turun ke Jalan Gejayan Yogyakarta

3472
BERBAGI
Ribuan mahasiswa memadati Jalan Gejayan Yogyakarta, Senin siang (23/9/2019) meskipun upaya penggembosan dilakukan sejak sehari sebelumnya.
Ribuan mahasiswa memadati Jalan Gejayan Yogyakarta, Senin siang (23/9/2019) meskipun upaya penggembosan dilakukan sejak sehari sebelumnya. Foto: dok Toto Raharjo

TERASLAMPUNG.COM — Meskipun ada upaya menggembosi rencana aksi mahasiswa untuk turun ke Jalan Gejayan, Yogya, ribuan mahasiswa tetap berunjuk rasa, Senin siang (23/9/2019). Penggembosan dilakukan dengan imbauan atau larangan dari pihak kampus agar mahasiswa tidak ikut demo dan penyebaran meme oleh para pendukung pemerintah dengan nada mengejek atau menyindir.

Ribuan mahasiswa dari beberapa kampus di Yogyakarta mulai berdatangan ke simpang tiga Gejayan, tempat aksi #Gejayan Memanggil. Mereka berangkat dari berbagai titik, mulai dari bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Islam Negeri (UIN).

Sampai simpang tiga Gejayan, para mahasiswa secara bergantian melakukan orasi, sembari menunggu para mahasiswa seluruhnya berkumpul. Mereka juga membawa beberapa poster dan spanduk yang berisi tuntutan dari massa peserta aksi.

“Ini adalah aksi kami murni, awas jangan sampai ada orang tidak dikenal masuk,” ujar salah satu Mahasiswa IST Akprind, Yogyakarta, Marviyuando dalam orasinya, Senin (23/9/2019).

Dalam aksi ini para mahasiswa juga menolak dengan disahkannya revisi UU KPK, dan akan disahkannya UU KUHP. Menurutnya pemerintahan Jokowi harus ikut bertanggungjawab dengan kasus kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan.

Para mahasiswa juga membentangkan spanduk dan poster yang berisi kritikan, kepada pemerintah. Meski susah ada ribuan mahasiswa berkumpul, namun akses transportasi dari arah Simpang empat Gejayan masih dibuka.

Mahasiswa yang Ikut Akis Gejayan Memanggil Mulai Padati Simpang Tiga Gejayan, Yogyakarta (foto: iNews/Kuntadi)

Sedangkan dari arah UGM sudah ditutup dan massa sudah berkumpul di tengah jalan. Begitu juga dari arah Pasar Demangan akses transportasi juga dialihkan agar tidak melewati simpang tiga Demangan. Sejumlah petugas kepolisian dan TNI nampak berjaga dan mengatur lalu lintas.

Tidak Didukung Kampus

Sebelumnya media sindikasi teraslampung.com di Yogyakarta, kabarkota.com, mengabarkan seruan aksi damai dengan tagar Gejayan Memanggil yang akan digelar pada Senin (23/9/2019) mengundang perhatian dari sejumlah kampus di Yogyakarta.

Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta melalui Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan & Alumni, Rohidin menyatakan, pada dasarnya pihak universitas tak melarang para mahasiswa untuk ikut aksi damai #GejayanMemanggil, selama sejalan dengan visi misi UII, dan tidak melanggar hukum

“Universitas mendorong Keluarga Mahasiswa (KM) UII untuk terlebih dahulu melakukan kajian secara matang dan memastikan pihak-pihak yang menjadi penanggung jawab kegiatan sebelum memutuskan mengikuti aksi,” kata Rohidin dalam pegumuman tertulis yang diterima kabarkota.com, Senin (23/9/2019).

Selain itu, pihaknya meminta DPM dan LEM UII sebagai penanggung jawab dan koordinator pengawalan aksi. “Jika poin-poin itu tidak diindahkan dan dipatuhi, maka Universitas melarang kepada Keluarga Mahasiswa UII untuk ikut serta pada aksi tersebut,” tegasnya.

Sementara Rektor Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, Johannes Eka Priyatma secara tegas menyatakan bahwa pihaknya tak mendukung gerakan Aliansi Rakyat Bergerak tersebut sehingga aktivitas di kampus tetap berjalan seperti biasa. Alasan penolakannya, karena tidak ada kejelasan, baik tujuan maupun penanggung-jawab aksinya.

Demo mahasiswa di Jalan Gejayan Yogyakarta (Foto: dok Putut EA)

“Universitas Sanata Dharma tidak terlibat dan terikat secara institusional dalam gerakan tersebut,” ucap Johannes dalam surat edarannya tentang Aktivitas Aksi Gejayan Memanggil, tetanggal 22 September 2019.

Johannes menambahkan, pihaknya akan melakukan berbagai tindakan preventif yang diperlukan, guna menjamin keselamatan, keamanan, dan ketertiban di lingkungan kampus. Baik, pada 23 September maupun setelahnya.

Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) USD Yogyakarta, Arya Nugraha melalui Surat Maklumat No. 053/Presiden Mahasiswa/BEM USD/IX/2019 menegaskan bahwa pihaknya telah menarik diri dari Aliansi Rakyat Bergerak, per 22 September 2019, pukul 23.30 WIB.

“Kami mengimbau kepada seluruh mahasiswa Universitas Sanata Dharma untuk tidak ikut andil dalam aksi gerakan Gejayan Memanggil,” pintanya.

Penolakan atas aksi tersebut juga datang dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Rektor UGM, Panut Mulyono mengatakan, pada 23 September 2019 ini, aktivitas akadrmik di kampus tetap berjalan seperti biasa.

“Partisipasi terhadap aksi tersebut diminta untuk tidak melibatkan UGM dalam bentuk apapun, dan segala hal yang dilakukan atas aksi tersebut menjadi tanggung-jawab pribadi,” imbaunya.

Sebelumnya, dalam Kajian “Rakyat Bergerak: Mengajukan Klaim atas Ruang Publik”, Aliansi Rakyat Bergerak berpendapat bahwa pengaruh besar elit politik dan jaringan oligarki terhadap arah kebijakan
negara telah secara historis mempersempit ruang partisipasi masyarakat sipil.

Selain itu, rangkaian peristiwa politik dan lingkungan beberapa waktu terakhir juga merupakan ancaman serius bagi masa depan demokrasi di Indonesia. Oleh karenanya, mereka akan menyampaikan sejumlah tuntutan.

Pertama, mendesak adanya penundaan untuk melakukan pembahasan ulang terhadap pasal-pasal yang bermasalah dalam RKUHP. Kedua, mendesak Pemerintah dan DPR untuk merevisi UU KPK yang baru saja disahkan dan menolak segala bentuk pelemahan terhadap upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Ketiga, menuntut Negara untuk mengusut dan mengadili elit-elit yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan di beberapa wilayah di
Indonesia.

Keempat, mereka juga menolak pasal-pasal bermasalah dalam RUU Ketenagakerjaan yang tidak berpihak pada pekerja. Kelima, menolak pasal-pasal problematis dalam RUU Pertanahan yang merupakan bentuk penghianatan terhadap semangat reforma agraria. Keenam, mendesak pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Ketujuh, mendorong proses demokratisasi di Indonesia dan menghentikan
penangkapan aktivis di berbagai sektor.

Hari ini, kita bergerak dan berada di tempat ini karena jengah dengan perilaku lancung para elit politik di Senayan dan istana sana. Saat banyak orang di Riau, di Kalimantan kesakitan karena terpapar asap, ketika hutan dibakar, lingkungan dirusak dan ruang hidup warga digusur atas nama investasi, tatkala petani diintimidasi oleh tentara, aktivis dikriminalisasi oleh polisi, suara-suara kritis dikebiri, koruptor justru berpesta pora dan para oligarkh besorak-sorai di atas penderitaan rakyat.Parahnya, bersama mereka, presiden dan DPR malah asyik bersekongkol menciptakan hukum yang semakin mengekalkan perangai jahat tersebut: KPK dibunuh, RUU pertanahan dimunculkan, pasal-pasal ngawur RKUHP disusun dan lain-lain hukum diciptakan untuk kian menciderai hak asasi manusia dan demokrasi. Kita bertambah yakin bahwasanya seluruhnya dibuat bukan untuk melindungi rakyat, apalagi ia minim partisipasi publik. Hukum dirancang secara serampangan untuk mengawetkan kepentingan kekuasaan para elit dan pemodal raksasa. Kita diperlihatkan hukum hari ini kian menindas, negara bertindak makin semaunya. Reformasi dikorupsi, reformasi dibajak, presiden dan DPR berkhianat pada rakyatnya.Maka, gerakan #gejayanmemanggil hari ini bukanlah gerakan tanpa arti, bukan gerakan tanpa makna. Ini adalah gerakan yang melampaui batas identitas, menembus demarkasi ruang dan waktu. Kita harus menanggalkan sekat yang mengikat itu. Kita hadir sebagai warga bangsa yang resah dengan tingkah negara yang pongah, sikap rezim yang lalim. Kita datang untuk memperjuangkan keadilan, membela mereka yang ditindas oleh kekuasaan dan lebih dari itu, kita sedang membela nilai, kita bergerak atas dasar kemanusiaan.Sudah barang tentu kita harus menolak ketika bangsa ini dibawa kembali ke rezim berdarah, Orde Baru!Sumber video: anonim

Posted by Yogi Zul Fadhli on Monday, 23 September 2019

KRJOGJA | Kabarkota.com

Loading...