Digusur, Para Pedagang di RSU Ryacudu “Ngluruk” ke Kantor Pemkab Lampung Utara

  • Bagikan

Feaby/Teraslampung.com

Para pedagang asongan di RSUD Ryacudu Kotabumi mengadu ke Pemkab Lampung Utara, Kamis sore (25/2/2016).

Kotabumi–Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RUSD) Ryacudu, Kotabumi, Lampung Utara mengusir para pedagang asongan yang telah belasan atau bahkan puluhan tahun berjualan di pelataran parkir RSUDR. ‎Akibatnya, para pedagang asongan tersebut tak dapat lagi mengais rezeki untuk sekadar menyambung hidup keluarga mereka sejak lebih dari sepekan lalu.

Para pedagang itu nglurug ke kantor Pemkab Lampung Utara, Kamis sore (25/2/2016) sekitar puku 14.15 WIB untuk mengadukan nasib mereka.

“Kami ini sudah belasan dan bahkan puluhan tahun mengandalkan hidup di sana (RSUD,red). ‎Tapi, sejak Senin pekan lalu, kami sudah enggak boleh lagi berjualan di sana,” kata Lita, salah seorang pedagang yang mendatangi kantor Pemkab, Kamis (25/2).

Pihak RSUDR, kata dia lagi, beralasan para pedagang asongan tak dapat menjaga kebersihan manakala berdagang di RSUD sehingga membuat kotor RSUD. Padahal, setiap kali berdagang di RSUD, ia dan rekan – rekannya selalu mematuhi peraturan RS dan menjaga kebersihan RS.

“Kami ini mau dagang ke mana lagi, pak. Enggak ada tempat pak. Kami ke sini (kantor Pemkab,red) ingin ngaduin gimana nasib kami dengan larangan berdagang di sana,” tutur perempuan berjilbab ini sembari menyeka air matanya yang jatuh.

‎Keluhan serupa juga disampaikan Zubaidah, pedagang asongan lainnya. Menurutnya, semenjak dilarang berdagang di RSUDR, ia dan rekan – rekannya kehilangan mata pencarian. Karena, mereka bingung mau menjajakan ke mana dagangan yang biasa mereka jual di lingkungan rumah sakit.

“Kalau kami diusir seperti ini, yang mau kasih makan keluarga kami siapa?. Kami cuma ingin bertahan hidup dengan mencari nafkah yang halal tapi kok malah dilarang,” tegas perempuan yang telah berjualan sekitar 30 tahun di lingkungan RSUD ini.

Lita, pedagang asongan di RSUD Ryacudu Kotabumi, tak kuasa membendung air matanya ketika mengadukan nasibnya.

Tak lama berselang, Asisten I Sekretaris Kabupaten, Yuzar terlihat menemui para pedagang asongan yang duduk di depan Aula Kantor Pemkab lantaran kebingunan harus menemui pejabat yang mana terkait persoalan mereka.

Dalam percakapan dengan para pedagang, Yuzar mengatakan ‘pengusiran’ para pedagang ini dikarenakan oleh penghargaan ‎yang sedang diikuti oleh Pemkab. Sayangnya, ia tak menjelaskan secara rinci seputar penghargaan apa yang sedang diikuti oleh Pemkab sehingga terpaksa mengusir para pedagang asongan di RSUD. Kendati begitu, penghargaan yang dikatakan oleh Yuzar kemungkinan besar ialah penghargaan Adipura yang telah dijadikan target utama oleh Pemkab.

Menariknya, saat dikonfirmasi usai percakapan dengan para pedagang asongan, Yuzar membantah bahwa alasan pengusiran dikarenakan khawatir akan mengurangi penilaian penghargaan Adipura yang sedang diikuti oleh Pemkab.

“Bukan karena Adipura tapi memang tujuannya untuk kebersihan dan kenyamanan RS. Yang jelas, kami akan pikirkan solusi terbaik supaya mereka dapat tetap berdagang di sana,” terang Yuzar.

Di lain sisi, Direktur RSUDR, Maya Metissa mengakui bahwa alasan melarang para pedagang asongan berjualan di lingkungan RSUD dikarenakan sedang mengikuti penghargaan Adipura dan akreditasi RSUD. Sejatinya, pihaknya telah memikirkan akan memindahkan para pedagang tersebut ke tempat permanen. Sayangnya, kebijakan ini terbentur oleh minimnya lokasi di RSUD.

“Dalam pemilihan Adipura, pedagang asongan itu dilarang. Akreditasi pun tidak boleh pedagang asongan berdagang di Rumah Sakit,” paparnya.

‎Menyikapi keluhan para pedagang ini, Direktur RSUD akhirnya memilih mengalah dan kembali memperbolehkan para pedagang asongan untuk berdagang di RSUD sepanjang berdagang di lokasi yang telah ditentukan seperti di samping UNIT Gawat Darurat (UGD) RSUDR. Penertiban lokasi berdagang bagi para pedagang asongan ini demi kenyamanan dan ketertiban serta kebersihan RSUDR.

“Sebetulnya mereka itu sudah diperbolehkan tetap berdagang di sini (RS,red) asal tertib. Untuk sementara ini, mereka masih boleh berjualan sepanjang berjualan di titik – titik yang telah ditentukan‎ di RS dan tertib,” kata dia.

  • Bagikan