Beranda Hukum Narkoba Dikendalikan dari Lapas, Inilah Kronologi BNN Lampung Bekuk Pengedar 6 Kg Sabu...

Dikendalikan dari Lapas, Inilah Kronologi BNN Lampung Bekuk Pengedar 6 Kg Sabu Senilai Rp 10,8 Miliar

1747
BERBAGI
Barang bukti 6 kg sabu-sabu disita BNN Lampung.
Barang bukti 6 kg sabu-sabu disita BNN Lampung.

Zainal Asikin | Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG-Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Lampung, berhasil mengungkap peredaran narkoba jenis sabu-sabu seberat 6 kilogram senilai Rp 10,8 miliar lebih yang disita dari empat tersangka jaringan pengedar yang dikendalikan oleh Napi penghuni Lapas di Lampung.

Dari pengungkapan tersebut, BNNP Lampung menembak mati dua tersangka jaringan pengedar narkoba. Keduanya adalah Wiko Novian, warga Bukit Kemuning, Lampung Utara dan Supriyadi alias Alam, warga Kalianda, Lampung Selatan.

Selain itu juga, petugas juga melumpuhkan tersangka kurir, Rafi Febrianto warga Bukit Kemuning, Lampung Utara dan Hendrik, warga Telukbetung, Bandarlampung. Kedua tersangka, dilumpuhkan dengan timah panas di kaki keduanya.

Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Lampung, Brigjen Pol Tagam Sinaga menjelaskan kronologis penangkapan para tersangka jaringan pengedar sabu-sabu itu. Sebelumnya, petugas mendapat informasi akan adanya pengiriman 10 kilogram sabu-sabu, di wilayah Bandarlampung. Berdasarkan atas informasi tersebut, pihaknya langsung menindaklanjutinya.

“Penangkapan keempat tersangka jaringan narkoba ini, memang sudah menjadi target operasi kami selama ini. Sebelum melakukan penangkapan, Kami sudah membagi anggota menjadi beberapa tim untuk melakukan penangkapan terhadap para tersangka,”ujarnya, Jumat 13 April 2018.

Tagam mengungkapkan, petugas mengungkap empat tersangka jaringan pengedar sabu-sabu itu di tiga lokasi berbeda, pada Rabu 11 April 2018. Awalnya, tim sudah dibagi melakukan penangkapan terhadap tersangka Supriyadi alias Alam di rumah temannya di daerah Serang, Banten sekitar pukul 06.00 WIB saat tersangka sedang menonton televisi.

“Saat mau ditangkap, tersangka Alam langsung mengeluarkan senjata api organik jenis FN. Karena ada upaya perlawanan dan membahayakan nyawa petugas, terpaksa tersangka dilumpuhkan dengan tembakan. Tersangka akhirnya tewas, saat dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit,”ungkapnya.

Menurutnya, penangkapan tersangka Alam ini, selain sebagai DPO tersangka juga sudah menjadi target operasi. Tersangka juga, memang sudah dikenal sebagai pemain besar narkoba di wilayah Lampung.

Selanjutnya, kata manatan Kapolresta Medan, Sumatera Utara ini, petugas kembali menangkap dua tersangka lain jaringan Alam, yakni tersangka Wiko dan Rafi saat berada di samping Indomart di Jalan Raden Gunawan, Hajimena, Natar, Lampung Selatan sekitar pukul 22.00 WIB. Pada saat akan ditangkap, tersangka Wiko melawan dengan menembaki petugas menggunakan senjata api organik jenis FN.

Karena ada upaya perlawanan, petugas melumpuhkan Wika dengan timah panas dan tersangka akhirnya meninggal dunia saat tiba di Rumah Sakit. Sedangkan rekannya, tersangka Rafi dihadiahi timah panas dikaki karena berusaha melarikan diri.

“Tersangka Wiko dan Rafi ini sebagai kurir, keduanya ditangkap usai menyerahkan sabu-sabu kepada tersangka Hendrik,”terangnya.

Dari penangkapan keduanya, lanjut Tagam, saat itu juga petugas memburu tersangka Hendrik yang menerima barang haram (sabu) tersebut. Petugas berhasil menangkap Hendrik saat berada di SPBU Natar, Lampung Selatan sekitar pukul 23.00 WIB dengan barang butki sabu-sabu seberat 6 kilogram yang disembunyikan tersangka di ban serep mobil. Karena berusaha kabur saat akan ditangkap, petugas melumpuhkan tersangka dengan tembakan dikaki.

“Sabu 6 kilogram yang disita dari para tersangka, berasal dari Aceh yang rencananya akan diedarkan di wilayah Lampung. Sementara yang mengendalikan tersangka Alam untuk mengedarkan sabu-sabu kepada tiga tersangka lainnya, adalah seorang Napi penghuni Lapas di Lampung. Tersangka mengaku mendapat upah sebesar Rp 60 juta untuk mengedarkan 6 kilogram sabu-sabu itu,”pungkasnya.

Dikatakannya, terkait dengan pengungkapan tersebut, pihaknya masih melakukan pengembangan terhadap napi yang mengendalikan barang haram tersebut dari dalam Lapas.