Dinas Pasar Lamteng:, Anggaran Besar Kinerja Kurang

  • Bagikan
Supriyanto/Tersalampung.com
Pasar Bandarjaya, Lampung Tengah. (foto dok bandarjaya.blogspot.com)
GUNUNGSUGIH- Alih-alih
meningkatkan PAD, anggaran besar tidak menjamin 
meningkatnya kinerja. Ini bisa dilihat di Dinas Pasar Lampung Tengah. Mungkin,
gambar kondisi yang memprihatinkan pada Dinas Pasar Lampung Tengah, hanya sekedar
kamuflase saja. Pasalnya, dinas yang mengelola hanya sembilan pasar daerah ini mempunyai
anggaran kegiatan mencapai Rp2 miliar lebih.
Ternyata
dana yang nilainya dapat dikatakan fantastis itu, tidak mampu mendongkrak PAD  yang di targetkan. Memang, bila dilihat PAD
yang di capai sebesar Rp1,8 miliar cukup besar persentasenya bila dibanding
dengan PAD yang dicapai tahun 2012 hanya sebesar Rp700 juta,  bahkan jauh melampaui  hingga mencapai 103 persen. Namun,  bila dilihat dari anggaran yang disiapkan  tersebut, PAD tahun 2013 hanya mencapai Rp1,8
 sangatlah tidak wajar, karena belum memenuhi
target alias tekor.
”Anggaran
Dinas Pasar dua miliar lebih itu sepenuhnya untuk membiayai kegiatan dan rutin
bukan untuk gaji PNS. Memang dalam anggaran itu ada untuk gaji, tapi untuk gaji
tenaga honor tentunya tidak besar amat,”kata sumber Teraslampung.com yang enggan
di tulis namanya.
Seharunya
dengan angaran yang dikelola dapat dikatakan cukup besar itu, Dinas Pasar dapat
lebih leluasan untuk melakukan kegiatan yang produktif. Setidaknya perolehan
PAD yang digali bisa sedikir t melebih modal. Dia menilai, kalau tahun 2013 PAD
dari dinas pasar hanya mencapai 1,8 miliar sangat tidak wajar karena masih
tekor. Sebab,  sembilan pasar daerah di Lamteng cukup potensial, seharusnya
dengan anggaran yang besar bisa memaksimalkan kinerja.
Bahkan,
menurut sumber, Dinas Pasar sebaiknya di gabung saja kembali ke dinas
perindustrian dan perdagangan, karena volume kegiatan pasar masih bisa
dikategorikan kecil dan cukup di kerjakan oleh kepala bidang. Kalau tidak, Pemkab
Lampung Tengah membentuk perusahaan daerah untuk mengelola semua pasar daerah
di Lampung Tengah, termasuk Pasar Bandarjaya Plaza. Itu lebih baik dibanding seperti sekarang
Pasar Bandarjaya, diserahkan ke pihak swasta untuk pengelolaannya.
”Saya
kira sebaiknya Dinas Pasar digabungkan kembali ke dinas perdagangan,
pengelolaannya cukup diserahkan kepada pejabat eselon tiga setingkat kabid.
Atau bentuk perusahaan daerah untuk mengelolanya,” kata sumber teraslampung.com.    
Untuk
membiaya kegiatan apa saja dana dua miliar itu, kata dia, bisa dilihat dari
jumlah program yang direncanakan. Lalu mana program yang tidak tercapai atau
belum bisa dilaksanakan. 
”Tapi saya kira, program yang ada sangat kecil
kemungkinan tidak bisa dilaksanakan. Kecuali kalau ada mesalah yang memang
mengharuskan ditunda,”katanya.
Anehnya,
kendati Dinas Pasar sudah menjadi Satuan Kerja Perangkata Daerah (SKPD) atau
dinas tersendiri, namun anggarannya masih di gabungkan dengan bidang
Perdagangan di dinas Perindustrian dan Perdagangan Lampung Tengah. Anggaran belanja
2013 lalu, untuk  kegiatan  bidang perdagangan dialokasikan sebesar
Rp4.983.905.200, dengan realisasi anggaran sebesar Rp4.319.407.320. Alokasi
anggaran tersebut, dipergunakan untuk membiayai 8 program terdiri dari 28 kegiatan. Dari
anggaran tersebut hanya separuhnya yang diakui Sekretaris Dinas Pasar Lampung
Tengah Benny Mustafa.
”Kami hanya
mengelola sekitar dua miliar lebih, selebihnya kami tidak bisa menjawabnya,”kata
Benny, beberapa waktu lalu.
Diakui
Benny, dari anggaran sekitar Rp2 miliar tersebut, diantaranya untuk  menggaji 54 orang  pegawai honorer sebagai tenaga salar dan
kebersihan yang tersebar di sembilan pasar. Pegawai honorer mendapatkan gaji
sebesar Rp460 ribu perbulan atau sebesar Rp298.080.000 pertahun.
Lalu
untuk membiayai  kegiatan sosialisasi
Perda No.04 dan 06 tahun 2012 kepada 300 orang, terdiri dari pengelola pasar,
pedagang, juru salar/sampah, di Kecamatan Seputih Banyak, Kotagajah, Seputih
Mataram dan Pasar Bandarjaya, dengan dana kegiatan mencapai Rp65 juta. Lalu. kegiatan
pembinaan dan penertiban pedagang kaki lima dan asongan, sebesar Rp42 juta.
Anggaran
tersebut juga, untuk peningkatan kebersihan di sembilan pasar daerah tersebut
mencapai Rp29 juta. Dana itu untuk memenuhi sarana kerja berupa cangkul garpu,
serok masing-masing 18 buah, lalu sepatu boat dan helm kebersihan masing-masing
81 buah, lalu arit, kotak sampah, sapu, dan sapu lidi. 
”Pengelolaan kebersihan
di dalam lingkup pasar daerah menjadi tanggungjawab Dinas Pasar, sedang di luar
pasar dikelola oleh Dinas Cipta Karya,”katanyanya.  
Sementara
itu, Pasar Bandarjaya Plaza pengelolaannya diserahkan kepada pihak ke tiga.
Menurut  Benny, untuk kegiatan kebersihan
pasar, khusus kebersihan dalam Pasar Bandarjaya Plaza penanganannya sudah
diserakhan kepada pihak ke tiga, yakni CV. Samosir Jaya. Sedang untuk
pengelolaan sampah Pasar Bandarjaya Plaza bekerjasama dengan CV.Gandhi Jaya.
 “Pengelolaan kebersihan dan pengelolaan sampah
Pasar Bandarjaya Plaza tidak dianggarkan melalui dinas pasar. Sedang untuk
kebersihan dan pengelolaan sampah di sembilan pasar daerah dianggarkan melalui
Dinas Pasar Lampung Tengah,” kata Benny.
Bila
melihat penggunaan anggaran yang ada, hanya sekitar Rp434.080.000 saja untuk kegiatan
yang riil, lalu selebihnya mungkin digunakan untuk membiayai berbagai kegiatan
yang sifatnya normative diatas kertas. Anehnya air bersih yang dibutuhkan
penghuni kantor untuk MCK tidak dianggarkan. Kamar mandi yang tidak tersedia
air bersih di abaikan begitu saja.

Kendati
demikian, Benny Mustafa masih berharap
 anggaran Dinas Pasar tahun mendatang harus
ditambah, dengan alasan untuk peningkatan PAD.  
“Untuk peningkatan PAD harus juga diimbangi dengan anggaran yang
dibutuhkan, sehingga banyak kegiatan yang dapat dilaksanakan demi peningkatan
PAD yang maksimal,”tegas Benny.

  • Bagikan