Beranda Hukum Dinilai Bohongi Rakyat Lampung, Ridho Ficardo-Bachtiar Basri Digugat Rp 25

Dinilai Bohongi Rakyat Lampung, Ridho Ficardo-Bachtiar Basri Digugat Rp 25

357
BERBAGI
Gambar Ridho Ficardo dan Bachtiar dalam masa kampanye Pilgub Lampung 2014.

BANDARLAMPUNG – Tim Advokat Gerakan Rakyat Lampung (TEGAR) menantang Gubernur Lampung Ridho Ficardo dan Bachtiar Basri hadir di persidangan untuk menghadapi tuntutan yang mereka ajukan di PN Tanjungkarang, Kamis (2/7).

“Mereka mestinya berani datang, bertemu langsung dengan rakyat seperti saat penyampaian janji kampanye pilgub lalu, yang langsung depan rakyat,” ujar Koordinator Team Advokasi Gerakan Rakyat (TEGAR) Indonesia, Agus Rihat P. Manalu kepada media, Kamis (2/7/2015), usai mendaftarkan  gugatan class action rakyat Lampung di PN Tanjungkarang,

Agus Rihat bersama advokat lainnya Masrina Napitupulu dan para penggugat, menemui awak media guna menjelaskan isi gugatan beregister No. Perkara 93/ Pdt.G/ 2015/ PN.TJK.

“Tergugat satu adalah Gubernur Lampung Ridho Ficardo dan tergugat dua Wakil Gubernur Lampung Bachtiar Basri. Keduanya satu paket yang gagal penuhi janji kampanye seperti perbaikan infrastruktur, kesehatan, pendidikan dan lainnya. Ridho-Bachtiar harus bayar ganti rugi materil senilai dua puluh lima rupiah. Sita kantor Gubernur Lampung untuk jaminan pelaksanaan putusan,” tegas alumnus FH Unila itu.

Salah satu penggugat, Ricky Tamba, mengecam keras Ridho-Bachtiar yang dituduhnya sudah membohongi rakyat Lampung.

“Setahun waktu yang lama untuk membangun, terlebih didukung kekuasaan, ribuan aparatur dan fasilitas lainnya. Saya ini petani di Lampung Timur, bila jagung, setahun tiga kali panen, bila singkong hampir dua kali. Nah ini apa? Bohong besar mau memberi dan melayani!”katanya.

Ricky menilai Ridho-Bachtiar bukanlah pemimpin rakyat. Dia tidak memilih Ridho-Bachtiar karena dinilai tidak dapat dipercaya, dan sekarang terbukti gagal memenuhi janji-janji kampanye setelah berkuasa.

Selain Ricky Tamba, warga Lampung yang mengajukan class action adalah  Gunawan (wiraswasta, Metro),  Syamsudin (wiraswasta, Lampung Tengah), Rizandi Tabrani (buruh, Bandar Lampung), Fadilatul Rahman Fikri (petani, Way Kanan), dan  Nurul Azmi (mahasiswa, Tanggamus).

Rls