Dinkes Libatkan Volunter dalam Penyuluhan Bahaya HIV/AIDS

  • Bagikan

Mas Alina Arifin/Teraslampung.com

Rendie Arga (IST)

BANDARLAMPUNG —Untuk menekan jumlah penderita HIV/AIDS , Dinas Kesehatan Provinsi Lampung terus menggalakkan program penyuluhan terhadap  masyarakat terutama  di pusat lokalisasi Panjang dan sekitarnya.

Menurut Kepala Humas Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dr.Asih Hendrastuti  upaya untuk menekan jumlah penderita HIV/AIDS  di Lampung dengan terus menggiatkan para volunter melakukan sosialisasi dan penyuluhan tentang bahayanya penyakit tersebut.

“Sampai sekarang kami terus menggerakkan para volunteer yang bekerja pada malam hari untuk terjun langsung ke pusat lokalisasi Panjang melakukan penyuluhan tentang bahaya AIDS. Bahkan para muncikarinya juga aktif memeriksakan diri anak buahnya ke klinik maupun rumah sakit,” kata dr.Asih.

Selain itu, kata dr.Asih,  di Lampung ada beberapa  rumah sakit yang khusus melayani penderita HIV/AIDS mulai tahap VCT (voluntary counseling test), CST (care support treatment), PMTCT (pencegahan penularan dari ibu ke bayi) di RSUDAM. Bandarlampung, hingga LASS (layanan alat suntik steril).

Untuk VCT(Voluntary Counseling Test)  yakni di Bandarlampung (RSUDAM, RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo, Puskesmas Sukaraja), Lampung Selatan (RSUD Dr. H. Bob Bazar, S.K.M), Lampung Tengah (RSUD Demang Sepulau Raya), Lampung Utara (RSUD Ryacudu).

Sedangkan  CST (Care Support Treatment) yakni Bandarlampung (RSUDAM, Lampung Selatan (RSUD dr. H. Bob Bazar, S.K.M.Untuk  PMTCT (Pencegahan Penularan Dari Ibu Ke Bayi) di Bandarlampung (RSUDAM). Sedangkan, IMS (Infeksi Menular Seksual) yakni Bandarlampung (Puskesmas Sukaraja, Puskesmas Panjang), Lampung Selatan (Puskesmas Bakauheni),  Lampung Tengah (Puskesmas Bandarjaya) dan Lampung Utara (Puskesmas Kotabumi).

Sementara  PTRM (Program Terapi Rumatan Metadon) yakni RSJ dan  LASS (Layanan Alat Suntik Steril) di Bandarlampung (Puskesmas Kedaton).

Menurut Asih, pengobatan khusus pasien HIV/AIDS seluruhnya tidak dipungut biaya karena ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah kepada ODHA (orang dengan HIV/AIDS).

Selain itu, Provinsi Lampung dapat mempertahankan prevalensi HIV/AIDS 0,5 persen hingga sekarang 0,01 persen. Sedangkan persentase ODHA yang mendapat anti-treatment 100 persen hingga pengetahuan komprehensif masyarakat usia 15-24 tentang HIV/AIDS  95 persen.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Lampung menunjukkan bahwa penderita HIV/AIDS di Provinsi Lampung fluktuatif setiap tahunnya dan mencapai ratusan pasien.

Pada tahun 2011 tercatat penderita HIV 267 pasien sedangkan AIDS sebanyak 11 orang. Kemudian pada tahun 2012 tercatat ada 328 penderita HIV, sedangkan AIDS  0. Selanjutnya pada tahun 2013 ada 185 penderita HIV, dan 94 orang terkena AIDS. Dan pada Oktober tahun 2014 tercatat ada 182 terkena HIV dan 0 penderita AIDS.

Sementara itu, penggiat peduli HIV dan AIDS Lampung Rendie Arga mengatakan human immunodeficiency virus (HIV) sudah menjangkit kalangan remaja.Pada kurun  2002–2014 sudah ada 1.450 kasus.

Menurut Rendie, yang berisiko terinfeksi pada kelompok populasi kunci di antaranya pengguna alat suntik (penasun), pekerja seks, pelanggan pekerja seks, waria, serta remaja.

’’Bahkan, HIV sekarang sudah menyebar pada kelompok risiko rendah, yakni ibu rumah tangga,” kata ketua Gaya Lentera Muda (Gaylam) Lampung yang juga pembaca acara ini.

Untuk mengantisipasinya, pemerintah Lampung  bersama komunitas peduli AIDS dan HIV selalu menyosialisasikan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS pada kelompok kunci, masyarakat, dan stakeholder terkait.

Lalu  penguatan komunitas dalam mencegah infeksi baru dan mengintegrasi layanan HIV secara komprehensif dan berkelanjutan sampai tingkat Puskesmas.

“Oh iya, kita sedang menuju Hari AIDS Sedunia 2014, akan memusatkan di Pasar Seni, Enggal, 1 Desember 2014,” jelasnya.

Kegiatan para penggiat HIV AIDS Lampung dipimpin Dirut RSUDAM dr. Heri Djoko Subandrio. Leading sector-nya adalah Kanwil Kementerian HUM dan HAM Lampung  bertemakan “Cegah dan Lindungi Diri, Keluarga, dan Masyarakat dari HIV dan AIDS dalam Rangka Perlindungan  HAM”.

  • Bagikan