Beranda Hukum Korupsi Diperiksa KPK Hingga Jelang Magrib, Nunik tak Jawab Pertanyaan Wartawan

Diperiksa KPK Hingga Jelang Magrib, Nunik tak Jawab Pertanyaan Wartawan

5833
BERBAGI
Wagub Lampung Chusnunia Chalim meninggalkan Gedung KPK setelah diperiksa selama kurang lebih 8 jam, Selasa petang (26/11/2019). Foto: RMOL

TERASLAMPUNG.COM — Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim atau Nunik sebagai saksi untuk tersangka HA dalam kasus suap proyek di Kementerian PUPR tahun 2019, Selasa, 26 November 2019.

“Saksi tadi datang ke KPK sekitar Pk.09.45 WIB dan selesai dilakukan pemeriksaan pada sekitar Pk17.30 WIB,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, Selasa, 26 November 2019.

Menurut Februi, Nunik  didalami pengetahuannya tentang aliran dana terkait proyek di Kementerian PUPR dalam perkara ini.

Pendalaman terkait dengan pernyataan mantan anggota DPR RI Fraksi PKB yang juga mantan Ketua PKB Lampung, Musa Zainuddin.

Keluar dari Gedung KPK sekitar pukul 17.55 WIB, ia hanya terdiam saat disapa para wartawan. Ia hanya tersenyum. Para wartawan pun gagal mendapatkan satu-dua kalimat pernyataan terkait pemeriksaannya.

Nunik diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Direktur atau Komisaris PT Sharleen Raya (JECO Group) Hong Artha John Alfred (HA).

Hong Artha ditetapkan sebagai tersangka pada 2 Juli 2018 lalu. Ia merupakan tersangka ke-12 dalam kasus di Kementerian PUPR tersebut.

Ia memberikan suap kepada Kepala BPJN IX Maluku dan Maluku Utara Amran Hi Mustary senilai Rp10,6 miliar. John juga memberikan suap kepada mantan anggota DPR RI 2014-2019 dari Fraksi PDIP Damayanti Wisnu Putranti sebesar Rp1 miliar.

Dalam kasus itu, Amran telah divonis 6 tahun penjara dan denda Rp800 juta subsider 4 bulan kurungan karena menerima Rp2,6 miliar, Rp15,525 miliar, dan 202.816 dolar Singapura. Sedangkan Damayanti divonis 4,5 tahun penjara dan denda Rp500 juta subsider 3 bulan kurungan karena terbukti menerima 278.700 dolar Singapura dan Rp1 miliar.

Pemeriksaan terhadap Nunik kemungkinan besar sama alasannya dengan pemeriksaan terhadap Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar, yaitu ditemukannya bukti baru dalam kasus korupsi Kementerian PUPR.

Bukti baru itu adalah pengakuan mantan Ketua PKB Lampung, Musa Zainuddin, yang membeberkan dugaan aliran dana ke sejumlah petinggi PKB.

Mantan anggota DPR RI dari PKB dapil Lampung itu dihukum sembilan tahun penjara karena terbukti menerima suap Rp 7 miliar untuk meloloskan proyek infrastruktur Kementerian PUPR di Maluku dan Maluku Utara tahun anggaran 2016. Uang itu berasal dari Direktur Utama PT Windhu Tunggal Utama, Abdul Khoir.

Dari dalam penjara, mantan Anggota Komisi Infrastruktur DPR ini mengirimkan surat permohonan Justice Collaborator ke KPK pada akhir Juli 2019. Dalam surat itu, Musa mengaku bahwa duit yang ia terima tak dinikmati sendiri. Sebagian besar duit itu, kata dia, diserahkan kepada Sekretaris Fraksi PKB kala itu, Jazilul Fawaid dengan jumlah Rp 6 miliar.

Setelah menyerahkan uang kepada Jazilul, Musa mengaku langsung menelepon Ketua Fraksi PKB Helmy Faishal Zaini. Ia meminta Helmy menyampaikan pesan ke Muhaimin bahwa uang Rp 6 miliar sudah diserahkan lewat Jazilul.

Keterangan Musa tak pernah terungkap di muka persidangan sebelumnya. Musa mengaku memang menutupi peran para koleganya lantaran menerima instruksi dari dua petinggi partai. Dua petinggi PKB, kata Musa, mengatakan Cak Imin berpesan agar kasus itu berhenti di Musa.