Beranda Teras Berita Diponegoro itu Seorang yang Terbuka dan Humoris

Diponegoro itu Seorang yang Terbuka dan Humoris

511
BERBAGI
Peter Carey (Foto: Hendi Jo/arsipindonesia.com)
Orang
Indonesia telanjur melihat Pangeran Diponegoro sebagai sosok serius, alim dan
mungkin sedikit kaku. Namun, di mata sejarawan Inggris tersebut, Pangeran dari Jawa itu justru merupakan sosok yang menarik dan sangat manusiawi.
PETER CAREY tak
menduga ketertarikannya terhadap Revolusi Prancis ternyata berujung kepada
sosok Pangeran Diponegoro. Ceritanya, suatu hari di awal tahun 1970-an, ia
tengah mengaduk-aduk dokumen lama terkait pengaruh revolusi Prancis terhadap
negeri-negeri luar Prancis di  sebuah museum di Belanda. Tiba-tiba matanya
terbentur kepada sebuah litograf yang memuat sosok Pangeran Diponegoro yang
sedang diiringi oleh para prajuritnya.
“Sekonyong-konyong
saya merasa penasaran dan tertarik kepada sosok lelaki berwajah mistis tersebut.
Seperti ada sebuah misteri yang harus saya pecahkan,” ujar sejarawan terkemuka
dari Oxford, Inggris tersebut.
Peter
lantas memutuskan untuk  meneliti hikayat sang pangeran Jawa yang lahir
pada 1785 itu. Saat tiba di Indonesia, lelaki Irlandia tersebut menemukan
kenyataannya  begitu populisnya Pangeran Diponegoro. Dari anak-anak TK
hingga kakek-kakek ompong, pasti hafal dengan sang pangeran yang selalu
ditampilkan berjubah putih itu.
Karena
jubah putih ini, banyak orang mengidentifikasi  putra tertua Sultan
Hamengku Buwono III tersebut sebagai pejuang Islam yang puritan. Tapi benarkah
pendapat tersebut? Untuk mendapat jawabannya, Hendi Jo dari arsipindonesia.com  mewawancarai lelaki yang
mengaku sudah “bergaul” dengan Diponegoro selama 40 tahun lebih tersebut.
Berikut
petikannya:
Peter,
setelah lebih 40 tahun anda melakukan penelitian terhadap kehidupan Diponegoro,
apa yang anda temukan dari sosok pangeran Jawa ini?
Saya
melihat Diponegoro sebagai sosok yang multidimensi. Suatu waktu, ia bisa
menjadi seorang tokoh mistik Islam. Tapi hari yang lain, ia juga bisa berubah
menjadi seorang sastrawan, pemimpin politik dan seorang panglima perang. Dan
soal terakhir ini, bahkan seorang Jenderal De Kock (pimpinan operasi militer
tentara Belanda dalam Perang Jawa) mengakui kegigihan Diponegoro. Dia bilang,
orang ini (Diponegoro) sepertinya terbuat dari besi. Ya itu dikarenakan
Diponegoro tidak kenal lelah untuk terus bertempur dan bertempur
Itu
kan yang bagus-bagusnya, anda melihat sisi manusiawinya dari seorang
Diponegoro?
Oh
ya, itu pasti. Para seniman Keraton Yogya kerap melukiskan Diponegoro sebagai
sosok menarik dan kharismatik (walau tidak bisa disebut ganteng seperti Arjuna)
hingga ia banyak disukai para perempuan. Secara terus terang dalam Babad
Diponegoro, sang pangeran pun tidak berlaku munafik dengan mengakui
kelemahannya “ yang mudah tergoda oleh perempuan”. Terkait dengan soal ini, ada
sebuah kisah menghebohkan ketika Diponegoro terlibat skandal dengan seorang
gadis Tionghoa yang menjadi tukang pijatnya pasca kekalahan mereka di Gawok
pada 15 Oktober 1826. Awalnya gadis Tionghoa itu adalah tawanan perang yang
diambil dari wilayah Kedaren dekat Delangu.
Sebagai keturunan raja-raja Jawa, ia pasti
memiliki banyak istri…
Oh
iya tentu saja. Ia memiliki 4 istri dan 4 selir. Dari mereka, Diponegoro
mendapatkan sembilan anak (lima putra dan empat putri). Mungkin ini terdengar
sangat buruk buat orang-orang zaman sekarang. Tapi untuk era abad 19 hal
tersebut dianggap  wajar-wajar saja, terlebih Diponegoro adalah seorang
bangsawan yang pada waktu itu memang sangat biasa memiliki banyak istri dan
selir. Menurut saya tidak tepat menghakimi masa lalu dengan standar masa kini
Konon
dia juga memiliki sisi humor yang lumayan?
Ya.
Walaupun sumber-sumber Belanda sering menyebut nya sebagai  lelaki yang
kaku dan keras, namun dalam kenyataanya Diponegoro  juga seorang humoris.
Dalam autobiografinya yang ia tulis dengan huruf Arab pegon, Diponegoro sempat
menceritakan sebuah pengalaman lucu dari medan tempur saat ia harus
desak-desakan bersembunyi di balik sebuah pohon kweni yang batangnya kecil
dengan seorang pamannya yang bertubuh agak gempal. Ia juga kerap mengirimkan
pakaian perempuan kepada para panglimanya yang dianggap pengecut.
Oh
ya, ada sebagian kalangan yang menyebut Diponegoro sebagai tokoh Islam puritan,
menurut anda?
Saya
tidak setuju dengan pendapat itu. Diponegoro adalah seseorang yang sangat
terbuka. Dalam keberagamaan, ia lebih cenderung menganut kejawenisme:
mempraktekan ritual mistik Islam sekaligus mengadopsi sikap-sikap asketis yang
diambil dari budaya Jawa: seperti ia sering bersemedi di Pantai Selatan,
gua-gua kapur di wilayah selatan Jawa. Bahkan ketika mengklaim sebagai ratu
adil (eru cokro), ia menyebut-nyebut nama Sunan Kalijogo dan Nyi Roro Kidul.
Tapi
dalam buku Kuasa Ramalan yang anda tulis, disebutkan cita-cita Diponegoro 
jika dirinya berkuasa adalah menerapkan hukum syariah?
Betul.
Tapi jangan bayangkan syariah yang disebut-sebut Diponegoro sebagai syariah
yang sering disebut-sebut oleh kalangan islam politik hari ini. Memang ia 
selalu mengacu kepada Turki Ottoman (terutama dalam struktur kepangkatan dan
strategi kemiliteran). Namun jangan salah, ia hanya menjadikan Turki Ottoman
sebagai acuan politik untuk melakukan gerakan. Kepada para haji yang baru
datang dari Mekah, ia kerap menanyakan “situasi politik terakhir” yang melanda
Turki Ottoman. Ia kagum terhadap Sultan Hamid dari Turki Ottoman dan menjadikan
namanya sebagai nama lain dari dirinya yakni Abdul Hamid.
 

Lukisan  G. Kepper (1900) mengisahkan Pertempuran antara pasukan Kolonel Le Bron de Vexela dengan pasukan Pangeran Diponegoro di Gawok (dok common.wikimedia.com)

Jadi
seperti apa “negara syariah” yang Diponegoro maksud?
Saat 
menuju tanah pengasingan di Sulawesi, kapal yang ia tumpangi melewati Lombok,
Flores dan Maluku. Kepada seorang perwira Belanda berkebangsaan Jerman yang
menjadi pengawalnya,  ia katakan bahwa daerah-daerah itu dahulu
 adalah negara-negara bagian di bawah Kerajaan Majapahit. Diponegoro juga
bernostagia betapa dahulu dirinya  kerap berdebat dengan Sentot Ali Basyah
Prawiro Dirdjo tentang negara yang akan mereka bentuk jika menang melawan
Belanda. Alih-alih mengacu kepada Turki, ia justru menyebut ia akan mendirikan
suatu negara seperti Majapahit namun dengan menambahkan unsur-unsur Islam ke
dalamnya.
 Kita
tinggalkan pribadi Diponegoro, sekarang saya ingin bertanya kepada anda: sejauh
mana perlawanan Diponegoro berpengaruh terhadap pihak Belanda?
Yang
jelas korban nyawa mencakup angka sekitar 8.000 tentara pribumi (tentara
bayaran) dan sekitar 7000 bule totok. Di pihak Diponegoro sendiri sekitar
200.000 orang tewas (penduduk Jawa totalnya saat itu 45 juta jiwa), angka
 yang tentunya cukup berpengaruh terhadap pengurangan jumlah penduduk
pulau Jawa saat itu. Belum ditambah 2.000.000 penduduk di Jawa Tengah dan Jawa
Timur yang secara langsung terkena dampak perang tersebut.
Apakah
ada faktor campur tangan pihak luar negeri dalam Perang Jawa, terutama dari
Turki Ottoman karena terkait dengan solidaritas antar kaum Muslim
 misalnya?
Sejauh
ini dari sumber-sumber Turki Ottoman saya belum menemukan mereka memberikan
bantuan kepada pasukan Pangeran Diponegoro. Tapi dari pihak Belanda, saya
menemukan data bahwa telik sandi pasukan mereka mencatat desas-desus adanya
sebuah kapal berbendera Inggris dan Amerika Serikat  yang berlabuh di
muara Kali Progo menurunkan senjata api dan sejenis mesin pembuat mesiu. Kapal
itu katanya memiliki tujuan sebenarnya ke Manila di Filipina.
Begitu
alotnya perang tersebut, hingga katanya jika Belanda tidak melakukan gencatan
senjata dengan Imam Bonjol di Sumatera, kekuatan militer mereka di Jawa akan
hancur lebur?
Ya
saya percaya itu. Sebenarnya Belanda akan sangat kewalahan jika harus 
menghadapi dua medan perang sekaligus. Makanya saat berhasil memaksakan
gencatan senjata di Sumatera, mereka langsung mengalihkan pasukan ke Jawa untuk
menumpas perlawanan Diponegoro. Setelah Diponegoro berhasil tertaklukan, mereka
pun balik menghantam Imam Bonjol kembali.
Ongkos
perang itu tentunya sangat mahal…
Anggaran
Belanda yang tersedot untuk perang di Jawa itu sebesar 25 juta gulden (setara
dengan 2 milyar dollar). Karena kebangkrutan itu pula pada fase berikutnya,
Belanda membuat kebijakan tanam paksa untuk mengembalikan kestabilan
pundi-pundinya. Ya dari  tanam paksa, mereka langsung untung 832 juta
gulden (setara dengan 75 milyar dollar).
 (Dalam
Sejarah Indonesia Modern, M. C. Ricklefs  menyebut  keuntungan sistem
tanam paksa menjadikan perekonomian dalam negeri Belanda stabil: hutang-hutang
 luar negeri Belanda terlunasi, pajak-pajak diturunkan, kubu-kubu
pertahanan dibangun, terusan-terusan diciptakan, dan jalan-jalan kereta api
negara dibangun. Hal yang sebaliknya terjadi pada masyarakat Jawa yang diperas:
penyakit  dan kelaparan bertambah merajalela dan kaum miskin melonjak
tinggi jumlahnya di desa-desa Jawa).
Menurut
Anda, apa yang menyebabkan perlawanan Diponegoro gagal?
Konflik
internal. Pertama, adanya pecah aliansi antara Diponegoro dengan Kiyai Mojo.
Saat awal bergabung dengan Diponegoro, Kiyai Mojo sangat berharap Diponegoro
bisa mengangkat sekaligus menerapkan nilai-nilai islam yang puritan. Alih-alih
demikian, Diponegoro malah mengadopsi kehidupan keraton ke markasnya yang bertempat
di Goa Selarong. Selain itu, gaya hidup Diponegoro yang lebih cenderung
kejaweni dibanding islamis membuat keduanya selalu terlibat dalam perdebatan
dan pertengkaran. Hingga akhirnya, Kiyai Mojo dan pasukannya keluar dari
barisan Diponegoro dan menyerah kepada Belanda. Kedua, saat Sentot Ali Basyah
Prawiro Dirdjo (salah satu panglima Diponegoro) memberlakukan pajak untuk
ongkos perang terhadap rakyat, itu ibarat blunder. Kondisi rakyat yang
sengsara akibat perang tentunya merasa berat jika harus ditarik pajak terus.
Lama-kelamaan dukungan rakyat pun sirna. Alih-alih memberi dukungan, mereka
malah memboikot asupan logistik untuk pasukan Diponegoro dan itu dilakukan
dengan perlindungan tentara Belanda.
Banyak
kalangan bilang perjuangan Diponegoro semata-mata disebabkan oleh soal tanah
moyang Diponegoro yang diserobot oleh Belanda untuk pembangunan jalan kereta
api. Benarkah?
Itu
tidak benar sama sekali. Perlawanan Diponegoro terhadap Belanda murni didasari
oleh ketidaksukaan sang pangeran terhadap tindakan sewenang-wenang yang
dijalankan oleh Belanda terhadap rakyat dan campur tangan Belanda terhadap
kehidupan di keraton. Buktinya, jauh sebelum peristiwa penyerobotan yang
terjadi pada Juli 1825 itu, pihak Diponegoro sudah mempersiapkan logistik,
amunisi dan mesiu hasil sumbangan para priyayi dan kerabat-kerabat keraton yang
tidak suka terhadap Belanda. Jadi kejadian tersebut hanya sebagai salah satu
pemantik saja.
Sebagai
peneliti yang sudah “bergaul” dengan Diponegoro selama 40 tahun lebih, menurut
anda bagaimana seharusnya orang Indonesia “memperlakukan” Diponegoro?
Saya pikir orang
Indonesia harus menciptakan suatu sejarah yang sehat mengenai Diponegoro.
Jangan sekali-kali “menyandera” Diponegoro hanya sebagai milik golongan islam,
nasionalis, jawa, kaum santri semata. Caranya, bebaskan semua orang menulis
apapun tentang Diponegoro, baik itu sisi kemanusiannya, sisi militer, sisi
kesantriannya, sisi kepatriotannya bahkan sisi mistiknya sekalipun. Semua harus
dibedah []

 Sumber: arsipindonesia.com
Loading...