Beranda Seni Film Diskusi Penala Budaya: Saatnya Para Sineas Lampung Merapatkan Barisan untuk “Go International”

Diskusi Penala Budaya: Saatnya Para Sineas Lampung Merapatkan Barisan untuk “Go International”

1035
BERBAGI
Dede Safara Wijaya

TERASLAMPUNG.COM — Sineas Dede Safara Wijaya menegaskan para sineas Lampung perlu mengelola kecerdasan artistik agar bisa mencipakan karya film yang bemutu dan sekelas dengan karya-karya sineas di level nasional.

Menurut Dede, upaya mengelola kecerdasan artistik harus dimulai dengan mau belajar dan tidak cepat puas dengan karya yang pernah diciptakan.

“Kelemahan di kita (para sineas Lampung), kita cepat puas. Banyak sineas muda Lampung yang tidak mau belajar lagi ketika sudah memproduksi film. Mereka merasa tidak perlu lagi ikut pelatihan atau workshop, padahal workshop-workshop itu penting,” kata Dede, dalam diskusi film dalam rangka Hari Film Nasional yang digelar Penala Budaya di Kosotel, Jl. P Antasari Bandarlampung, Sabtu (1/4/2017).

Dalam diskusi bertema “Film Lokal Go Nasional” itu Dede mengatakan para kreator film sebenarnya masih terus menciptakan karya-karya baru. Namun, katanya, mereka umumnya masih terkendala pasar.

“Pasar film di Indonesia termasuk Lampung sampai saat ini masih dihegemoni oleh film-film yang diproduksi dengan modal besar yang tunduk pada selera industri. Kita harus melakukan terobisan akar karya para sineas Lampung dikenal setidaknya oleh masyarakat Lampung itu sendiri,” kata alumni Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu.

Agung Sentausa

Agung Sentausa, sineas berlatar sarjana arsitektur yang pernah sukses dengan film “Garasi”, mengatakan problem yang dihadapi para sineas Lampung bukan khas Lampung.

“Artinya, problem ini juga dialami para sineas di daerah lain di Indonesia. Yang penting adalah memperkuat basis keterampilan yang sudah ada, menggali kekuatan material lokal, tanpa harus terpengaruh dikotomi lokal-nasional. Sebab, di era teknologi informasi yang makin maju seperti sekarang ini dikotomi itu sudah tidak penting lagi. Para sineas di Lampung memiliki peluang yang sama untuk maju dan bersaing dengan para sineas dari belahan bumi lain,” katanya.

Hal senada diungkapkan sastrawan dan pengamat seni-budaya Ahmad Yulden Erwin. Menurut Erwin, tantangan terbesar para sineas di daerah adalah mengatasi keterbatasan-keterbasan. Namun, keterbatasan tersebut bisa diatasi dengan belajar keras, saling bekerja sama, dan menciptakan karya-karya yang minimal memenuhi standar sinematografi,” kata Ketua Penala Budaya itu.

Erwin yakn para sineas Lampung bisa menciptakan karya bermutu jika mereka belajar keras, bekerja sama dengan baik, dan kreasinya melampuai standa baku dunia sinematografi.

“Soal pasar, jangan terlalu dipikirkan. Banyak sekali media yang bisa dimanfaatkan, misalnya lewat Youtube. Kalau itu terus dilakukan, harapan film Lampung akan go international akan terwujud,” katanya.

“Para sineas Lampung tidak perlu minder,” imbuhnya.

Erwin mengusulkan perlunya dikonkretkan adanya komunitas film di Lampung yang rajin menggelar diskusi bulanan tentang  film, mengapresiasi film lewat nobar, serta menggelar  workshop dengan pengajar yang berkompeten.

Mas Alina Arifin