Ditamasyakan Tuhan di Tepi Maut

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu-Ilmu Sosial pada Pascasarjana FKIP Unila

Menjelang berakhirnya waktu dini hari, sudah menjadi kebiasaan untuk mandi kemudian bersiap menghadap diri pada Sang Khalik. Entah apa sebab saat itu badan justru menggigil demam tinggi, padahal air yang digunakan begitu hangat. Kegiatan peribadatan rutin tetap dijalankan sampai menyelesaikan salat subuh. Namun badan makin tinggi suhunya, sementara perasaan makin dingin rasanya. Bahkah gigi dibuat gemeretuk. Kegiatan tetap berlanjut sampai menjadi saksi nikah pagi itu di salah satu hotel berbintang berpasangan dengan salah seorang petinggi salah satu angkatan di negeri ini.

Menjelang siang sudah tak terbendung harus dieksekusi ke dokter pribad. Ternyata disimpulkan harus istirahat total tiga hari. Jika tidak ada perubahan dan hasil periksaan laboratorium menunjukkan salah satu unsur darah dijumpai kelaianan, maka lanjut masuk karantina rumah sakit. Ternyata perkiraan dokter benar. Maka, hari ketiga resmilah naik tempat tidur hanya ditemani satu tiang penyangga tabung salur cairan. Istri pun sebagai orang terdekat jika ingin menemani harus melalui prosedur yang rumit sesuai standar kesehatan terkini.

Dimulailah perjalanan tamasya singkat yang tampak sekali semua skenario keilahian. Bagaimana tidak: semua berlangsung begitu singkat, cepat; sampai persoalan kamar rawat yang selama ini sangat sulit di dapat, ternyata tinggal satu dan seolah menunggu kedatangan penulis untuk berbaring di dalamnya seorang diri dengan sunyi, pada satu ruang di lantai empat gedung bertingkat di satu rumah sakit di Kota Bandarlampung.

Menatap sepi melihat dan menghitung tetes demi tetes buliran cairan melewati saluran bejana infus, ternyata kita diminta membaca tanda-tanda yang Tuhan berikan….”Demi masa bahwa manusia itu dalam keadaan merugi…….” Betapa tidak meruginya kita sebagai manusia ketika kita tidak mau membaca tanda tanda kebesaranNYA; satu tetes tidak turun saja, maka suka tidak suka, mau tidak mau, kita akan pindah ke alam lain, alam itu bernama kematian.

Di bawah tiang infus itu tidak peduli siapa kita, ningrat atau rakyat, guru besar atau murid, pejabat atau pesuruh. Dia betul betul ontologis yang membebaskan kita dari segala atribut duniawi; yang ada hanya harap dan pinta kepada Ilahirobi akan kodratnya. Jika kita hanya sebatas awam belaka, maka kita selalu berharap kesembuhan; padahal kita tidak mengetahui apakah kesembuhan itu bukankah petaka baru bagi kita. Atau kita meminta percepat datangannya maut; padahal selama ini kita selalu berdoa ingin panjang usia setiap merayakan Hari Ulang Tahun atau bahkan dalam doa setiap saat.

Betapa bodohnya manusia pada saat seperti ini, karena belum juga berserah diri akan datangnya kepastian dari-Nya. Sembuh atau maut itu bukan urusan manusia, manusia hanya diberi otoritas untuk berupaya dan tawaqal akan usahanya, itulah tepian hidup yang maksimal yang dapat kita jangkau, selebihnya adalah wilayah otoritas mutlak pemilik hidup.

Jika boleh dideskripsikan maka Tuhan saat itu tersenyum sambil bergeleng bagaimana mahluknya yang bernama manusia masih sering mendustakan nikmat-Nya; padahal dengan dihentikan sesaat saja tetesan itu, maka berubahlah, dan itu kapanpun bisa terjadi semua atas kehendak-Nya.

Bisa dibayangkan kesukaan nafsu yang kita layani selama ini, seperti makan pecel lele, nasi goreng, rendang padang, bestik, dan masih banyak lagi kelezatan yang lain. manakala rasa nikmat itu sementara dicabut, ternyata manusia menjadi seperti cacing kepanasan. Apabila digantikan semua itu diikat dalam satu ikatan nikmat dan diberikan atas rahmat-Nya melalui tetesan cairan yang berlabel infus; masih juga kita manusia mencari dan mencari, tanpa rasa malu pada Yang Maha Memberi, dan tidak berucap syukur; sekali lagi itulah tepian kehidupan yang dapat manusia jangkau; selebihnya itu bukan wilayah kita.

Pada saat seperti itu dihadapan Sang Maha Pencipta dengan tampak sekali kemahakuasaan dan kemahabesaran-Nya akan alam smesta dan isinya. Manusia tidak lebih hanya debu yang menempel pada kerohmanan-Nya. Tanpa rohman dan rohim-Nya; tidak mungkin kita mampu mendongakkan kepala di muka bumi ini, kecuali bagi mereka mereka yang sombong dan congkak.

Tamasya seperti ini sangat nikmat dirasa oleh kolbu, dan sangat bahagia pada rasa. Lebih dari tigapuluh tahun tidak pernah merasakan panasnya tempat tidur rumah sakit, dinginnya cuaca ruang perawatan, dan berdentingnya tetes infus. Semua mentingkahi irama kerahiman Sang Khalik.

Ternyata sakit yang ditimpakan Tuhan kepada kita itu adalah pintu masuk untuk mengenal-Nya lebih jauh; serta mengenalkan kepada kita bahwa sesungguhnya antara kehidupan dan kematian itu garis pisahnya bulir bawang yang kita kupas dan sangat tipis itu, ternyata masih lebih tebal. Ibarat tabungan, usia itu juga demikian: hanya bedanya tabungan uang bisa bertambah, sementara usia setiap hari selalu terdebit. Hanya manusia yang cerdas bagaimana mengupayakan debit umur itu menghasilkan pundi pundi amal untuknya, sebagai bekal menghadap Robb nanti di yaumil akhir . Sementara bagi mereka yang lengah, maka debit itu akan meninggikan kredit dosa yang harus di bayar di alam sana.

Oleh karena itu, benar adanya apa yang dikatakan ulama besar masa kini Kyai Bahauddin Nursalim yang mengatakan ”Jika kita memikirkan Tuhan dengan segala kebesaran-Nya, maka berhentilah berpikir, lalu tinggalkan, dan minum kopi saja, karena tidak akan cukup energi yang dimiliki manusia untuk melakukannya.”

Memikirkan tetesan infus yang masuk ketubuh secara hakekat maupun makrifatpun pengetahuan kita tidak mampu menembusnya, apalagi mau memikirkan betapa tepian Rahman dan Rahim-Nya pemilik hidup ini yang tak bertepi.

Selamat ngopi pagi sambil merenung diri…

You cannot copy content of this page