Beranda Hukum Divonis 10 Bulan, Mahasiswi Menangis

Divonis 10 Bulan, Mahasiswi Menangis

26
BERBAGI

Zaenal Asikin/Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG – Yosi Agustina (19), warga Jalan Tupai Kelurahan Segalamider, Kedaton, Bandarlampung dihukum 10 bulan penjara karena terbukti bersalah menyimpan, memiliki, menguasai narkotika jenis sabu seberat 0,6 gram. Mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Bandarlampung itu dinyatakan secara sah dan bersalah melanggar pasal 127 ayat 1 UU RI No35 tahun 2009 tentang narkotika.

“Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa Yosi Agustina selama 10 bulan kurungan penjara dikurangi masa tahanan yang telah dijalani,” kata Poltak Sitorus, Selasa (22/7).

Yang memberatkan terdakwa, kata Poltak, terdakwa tidak mendukung program pemerintah yang saat ini sedang gencar-gencarnya memberantas narkotika. Sedangkan yang meringankan, terdakwa sopan dalam persidangan.

Vonis yang dijatuhkan hakim lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Chairul Susanto yang sebelumnya menuntut terdakwa selama satu tahun tiga bulan penjara. Atas putusan tersebut, terdakwa dan JPU menyatakan menerima.

Saat sidang terdakwa terlihat sangat menyesali perbuatannya. Ia tampak menangis. Terdakwa beberapa kali mengusap air mata dengan menggunakan tangannya.Saat keluar sidang, terdakwa tetap menangis.

Terungkap dalam persidangan, terdakwa ditangkap team Opsnal Dit Res Narkoba Polda Lampung setelah mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa di rumah terdakwa kerap dijadikan tempat pesta narkoba. Mendapat informasi itu, petugas dair Dit Narkoba Polda Lampung langsung melakukan penyelidikan dan menangkap terdakwa dirumahnya.

Kemudian, polisi melakukan penggeledahan dan ditemukan 1 plastik bening berisi kristal putih yang diduga sabu seberat 0,6 gram dari kantong terdakwa, buah korek api gas dan 1 alat hisap sabu (Bong) yang berada diatas meja.

“Selanjutnya, terdakwa dibawa ke kantor Narkoba Polda Lampung untuk diperiksa dan saat dimintai keterangan, terdakwa mengaku mendapatkan barang haram tersebut dari Ipung dan Suhat (DPO),” kata hakim.