Beranda Hukum Divonis Empat Tahun Penjara, Atut Merasa Pengacara Asal Lampung Jual Namanya

Divonis Empat Tahun Penjara, Atut Merasa Pengacara Asal Lampung Jual Namanya

642
BERBAGI

Atut Nilai Vonis 4 Tahun tidak Adil



Ratu Atut Chosiyah (Foto: dok Kompas)

JAKARTA, Teraslampung.com- Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, menvonis Gubernur Banten nonaktif Ratu Atut Chosiyah dengan hukuman pidana empat tahun penjara. Atut dinyatakan  terbukti secara hukum bersama-sama adik kandungnya, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan dan Pengacara Amir Hamzah-Kasimin, Susi Tur Andayani, melakukan suap kepada mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar sebesar Rp1 miliar, terkait pengurusan sengketa Pilkada Lebak.

“Menjatuhkan hukuman terhadap terdakwa dengan pidana penjara empat tahun serta denda Rp200 juta dan apabila tidak dibayar maka diganti dengan hukuman lima bulan penjara,” ujar Ketua Majelis Hakim Mathius Samiadji di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (1/9).

Vonis majelis hakim ini jauh lebih ringan dari tuntutan Jaksa KPK yang menuntut hukuman 10 tahun penjara ditambah denda Rp250 juta, subsider lima bulan kurungan, ditambah pidana pencabutan hak memilih dan dipilih dalam jabatan publik.

Atut dinilai melanggar Pasal 6 ayat 1 huruf a UU No 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP mengenai perbuatan memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim dengan maksud untuk mempengaruhi putusan perkara. Gubernur Banten nonaktif, Ratu Atut Chosiyah merasa tidak adil atas putusan Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) yang menghukum empat tahun penjara.

Meski hukumannya jauh lebih ringan dibanding tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Atut menilai vonis itu tidak adil.

“Jelas tidak adil. Karena ada satu hakim yang membebaskan saya,” kata Atut, usai persidangan.

Atut mengaku dirinya hanyalah korban dari kepentingan pengacara asal Lampung,Susi Tur Andayani, dan calon Bupati Lebak, Amir Hamzah. “Tiap  komunikasi dengan Akil (mantan Ketua MK), Susi selalu menjual nama saya dan paksa adik saya,” kata Atut.

Dalam persidangan, diketahui salah satu anggota majelis hakim, Alexander Marwata, menilai Atut tidak terbukti bersalah. Dengan begitu, menurut Alexander, Atut dan harus dibebaskan. Meski vonis untuk Atut tidak dengan suara bulat, Atut tidak secara otomatis bebas. Pendapat berbeda yang diajukan salah satu anggota majelis hakim itu dijadikan bagian putusan majelis hakim.

Hakim Nilai Wajar

Ketua Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta,  Matheus Samiadji, menilai, wajar pihaknya menjatuhkan vonis kepada Gubernur Banten Atut Chosiyah yang lebih ringan dari tuntutan tim jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi. Hakim menjatuhkan vonis empat tahun penjara kepada Atut dalam kasus dugaan suap sengketa pilkada Lebak.

“Dari satu sisi tuntutan hukum penuntut umum 10 tahun, tetapi majelis tidak sependapat dengan tuntutan itu. Meski pun dinyatakan terbukti, majelis menilai cukup wajar jika dijatuhi pidana empat tahun sekali pun tuntutannya 10 tahun,” kata Matheus, usai sidang.

Loading...