Beranda Headline DO dari UI, Arief Terpaksa Harus Menghuni RSJ Kurungan Nyawa

DO dari UI, Arief Terpaksa Harus Menghuni RSJ Kurungan Nyawa

7236
BERBAGI
Ariefaldi (26), warga Way Halim saat diamankan petugas Sat Pol PP Kota Bandarlampung usai memecahkan kaca gedung Satu Atap (Satap) Pemkot Bandarlampung.

Dandy Ibrahim|Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Kasus pemecahan kaca Kantor Satu Atap (Pemkot) Bandarlampung beberapa hari lalu, akhinya mengungkap tabir derita Ariefaldi (26) dan ayahnya. Pria muda yang drop out dari jurusan Bahasa Inggris Universitas Indonesia (UI) stres dan kerap mengungkapkan amarahnya kepada orang di sekitarnya.

Usai memecahkan  Kantor Satap Pemkot Bandarlampung, Arief pun dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Lampung di Kurungan Nyawa, Pesawaran.

BACA: Prang! Pecahlah Kaca Kantor Gedung Satu Atap Pemkot Bandarlampung

Mulyadi Tarigan, ayah kandung Arif, berharap anak sulungnya itu bisa sembuh total setelah mendapatkan perawatan di RSJ. Namun, hingga kini belum ada tanda-tanda Arif akan sembuh.

Menjelang Arif pulang dari RSJ (Arif hanya 21 hari dirawat di RSJ), kini Mulyadi Tanjung diliputi kecemasan.

“Saya lagi bingung bang, sebentar lagi Arif keluar dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Kalau di rumah saya takut dia berulah lagi,” ungkap Mulyadi Tanjung ketika ditemui Teraslampung.com di tempat dagangnya,di Pasar Tengah, Bandarlampung, Sabtu (28/4/2018).

Ayah tiga putra itu mengaku cemas,karena saat ini Arief belum benar-benar sembuh.

“Di RSJ itu cuma 21 hari bang, setelah itu dia harus keluar. Nah ini yang jadi masalah, di luar saya takut dia buat onar lagi. Kalau masuk RSJ biaya lagi,” kata Mulyadi.

Mulyadi mengaku, dirinya sebenarnya ingin sekali anak kesayangannya itu bisa sembuh total sehingga bisa menjalani kehidupan layaknya manusia normal. Sebab itu, ia sangat berharap ada uluran tangan dari pihak lain, terkait biaya perawatan anaknya yang baginya mahal.

SIMAK: Pernah Kuliah di UI, Ini Cerita Pilu tentang Pemecah Kaca Gedung Satap Pemkot Bandarlampung

Mulyadi Tanjung, berjualan boneka di Pasar Tengah, Bandarlampung, Sabtu (28/4/2018)
Mulyadi Tanjung, berjualan boneka di Pasar Tengah, Bandarlampung, Sabtu (28/4/2018)

“Kalau belum sembuh sudah harus pulang, saya khawatir keonakan akan ditimbulkannya lagi. Pernah suatu hari hari rumah saya didatangi orang dengan membawa parang karena orang tersebut ditimpuk batu oleh Arefi saat sedang mengendarai sepeda motor,”katanya.

Soal biaya perawatan yang dikeluhkannya, Mulyadi mengaku keluarganya sebenarnya pemegang Kartu Indonesia Sehat (KIS). Namun, kata Mulyadi, ia heran masih harus membayar iuran sebesar Rp.25 ribu per bulan ke BPJS sedangkan sepengetahuannya tidak ada iuran alias gratis.

“Arif punya KIS.Tetapi, kemarin waktu ia masuk ke RSJ, saya kena denda Rp.90 ribu karena saya telat bayar. Saya pinjam dulu uang ke saudara untuk nutupinnya,” kata suami Erlinawati sambil memperlihatkan kartu KIS-nya.

Sudah banyak upaya yang dilakukannya agar putra sulungnya itu sehat. Upaya yang dilajukann Mulyadi kebanyak ke penyembuhan alternatif. Alasannya Arief sangat susah untuk minum obat.

“Kalau disuruh minum obat, dia bilang ‘Ayah aja yang minum obat, ayah kan sakit’. Selalu gitu tuh kalau saya suruh minum obat dari rumah sakit,” kata Mulyadi.

Di tengah kegundahannya, dia berharap ada bantuan dari pemerintah agar anaknya bisa sehat kembali atau bisa berada dalam perawatan RSJ.

Profesinya sebagai pedagang kaki lima, penghasilan tidak menentu.

“Harapan saya ada bantuan dari pemerintah untuk ngobatin Arif. Penghasilan saya sebagai pedagang boneka paling Rp40 sampai Rp75 ribu per harinya. Belum buat makan dan bayar cicilan rumah sebulan Rp900 ribu. Berat, bang,” ujar Mulyadi.