Dokter Kiswoto Berpulang, Perginya Sosok Merakyat dan Dermawan

  • Bagikan
dr. Kiswoto

TERASLAMPUNG.COM — Kehilangan yang teramat begitu besar tidak hanya dirasakan oleh pihak keluarga dan kerabat almarhum H. dr. Kiswoto. Wafatnya dokter yang merakyat dan dermawan di usia ke-59 tahun pada Senin (30/8/2021) lalu sekira pukul 13.00 WIB di RS Abdul Moeloek, merupakan kehilangan sangat besar bagi masyarakat Kecamatan Candipuro, Sidomulyo, Penengahan, dan kecamatan lainnya di Kabupaten Lampung Selatan.

Selama hidupnya  dr. Kiswoto terkenal sebagai dokter yang familiar dan ternama di Kecamatan Candipuro, Penengahan, Sidomulyo, Way Panji, Palas, Pematang Pasir, Ketibung, Tanjungbintang dan beberapa Kecamatan lainnya di Kabupaten Lampung Selatan.

Jenazah almarhum dimakamkan di TPU yang tak jauh dari kediamannya di Desa Titiwangi, Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan. dr. Kiswoto telah berpulang untuk selama-lamanya meninggalkan seorang istri, Hj. dr. Irawati dan dua orang anaknya yakni dr. Riyan Ibrahim bertugas di salah satu Rumah Sakit (RS) di daerah Jember, Jawa Timur dan Dini Anggraini, SH seorang notaris serta empat orang cucu.

Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, almarhum dr. Kiswoto yang memiliki riwayat sakit jantung dan terpapar Covid-19 sempat menjalani perawatan di RS Urip Sumoharjo Bandarlampung. Selama 27 hari menjalani perawatan, kondisinya membaik dan hasil swab PCR dinyatakan negatif beliau dirawat dirumah selama 2 hari.

Hasil diagnosis dokter, ada pengentalan darah 200 kali lipat dari darah normal sehingga memengaruhi jantungnya lalu beliau dibawa lagi ke RS Bumi Waras. Karena di RS tersebut tidak ada dokter jantung, beliau dibawa ke Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek (RSUAM). Setelah lima hari menjalani perawatan di RSUAM, dr. Kiswoto menghembuskan nafas terakhir.

Pada saat jenazah dr. Kiswoto dipulangkan dari RSUAM Bandarlampung hingga sampai di kediaman pribadi almarhum di Desa Titiwangi, Kecamatan Candipuro sekira pukul 15.30 WIB, jenazah dr. Kiswoto disambut haru ratusan masyarakat dan handai taulan dari beberapa kecamatan di Lampung Selatan.

Masyarakat ikut berduka, mereka menangis haru dan memadati persemayaman terakhir almarhum. Ucapan doa dan ungkapan kesedihan yang amat sangat, juga membanjiri timeline di media sosial (medsos) facebook. Potret dr. Kiswoto, berseliweran di jagad maya diunggah oleh sejumlah warganet yang mengenal sosok almarhum.

Mengenai kemasyarakatan, kepedulian dr. Kiswoto kepada sesama diakui oleh semua pihak. Sosok dr. Kiswoto ini, bahkan dijadikan sebagai sosok anutan banyak kalangan masyarakat, guru kehidupan, guru politik dan sebagai tokoh masyarakat yang disegani di Kabupaten Lampung Selatan.

Semasa hidupnya, dr. Kiswoto dikenal sebagai sosok pribadi baik, ramah, bersahaja, serta taat beribadah. Selain itu juga, almarhum merupakan seorang dokter dermawan karena banyak membantu masyarakat kecil dan merakyat tanpa membedakan kedudukan.

Banyak pengakuan warga di Lampung Selatan yang datang berobat di klinik tempatnya praktek, tanpa membayar biaya berobat khususnya bagi warga tidak mampu, bahkan tak jarang pasien itu justru diberi uang dan sudah tidak terhitung berapa jumlah warga (pasien) yang ditolongnya itu.

Sosok anutan ini telah berpulang untuk selama-lamanya, karya dan pengabdian beliau telah tertulis indah dihati masyarakat di Lampung Selatan.

Semua kenangan dan berkesan telah terekam dengan baik. Doa teriring untuk dr. Kiswoto, tugas beliau di bumi sebagai sosok panutan bagi semua kalangan sudah usai dan saatnya menghadap Sang Khalik diiringi doa dari masyarakat Lampung Selatan yang sangat mencintai sosoknya.

Warga menghadiri pemakaman jenazah Kiswoto pada malam hari.

Almarhum Hi. dr. Kiswoto adalah anak ke tiga dari lima bersaudara yang lahir di Jakarta pada 18 Juli 1962 anak dari pasangan H. Irkasan dan Hj. Surtinah. H. Irkasan adalah seorang ASN di Jakarta yang bertugas di bagian perpajakan untuk wilayah Sumbagsel.

Setelah orangtuanya pensiun dari ASN, ayah dan ibunya pulang ke kampung halamannya di daerah Fajar Isuk, Pringsewu, Lampung hingga keduanya tutup usia.

Kiswoto mendapatkan gelar dokter dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah. Selepas kuliah dan menjadi seorang dokter, awal ia bekerja di perusahaan pertambangan pengilangan minyak di daerah Pantai utara selama 2 tahun. Setelah itu, ia diangkat menjadi ASN tahun 1988 dan ditempatkan tugasnya di Puskesmas Candipuro, Lampung Selatan. Sejak saat itulah perjalanan sosok dr. Kiswoto dimulai.

“Saya tugas di Lamsel ini, dan akan berakhir juga di Lamsel. Mengabdi menjadi dokter untuk masyarakat bahkan hingga akhir hayatnya, almarhum minta dimakamkan di Candipuro,” kata Agus Sujatmiko atau yang akrab disapa Miko salah sorang terdekat dr. Kiswoto yang menirukan ucapan almarhum semasa hidupnya kepada teraslampung.com, Jumat (3/9/2021).

Dikatakannya, ucapan itu juga pernah dilontarkan oleh almarhum semasa hidupnya kepada orang-orang terdekatnya yang memiliki idealisme atau tujuan dan visi yang sama dengan almarhum untuk kemaslahatan masyarakat.

Hal tersebut dibenarkan oleh Yanto, Sambudi, Ramhat Witoto, Yahman, Yudi, Rahmat, serta orang-orang dekat almarhum lainnya yang menganggap dr. Kiswoto sudah seperti orangtuanya sendiri dan sebagai bapak idiologis karena kesamaan visi sama-sama ingin berbuat yang terbaik untuk masyarakat Lampung Selatan.

Yanto mengatakan, saat pertama kali tinggal di Lampung Selatan yakni di Kecamatan Candipuro, banyak hal baik yang diperbuat oleh beliau. Ia memprakarsai pendirian sekolah Wathoniyah Islamiyah mulai dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).

“Sekolah ini didirikan, karena beliau ingin anak-anak yang tidak mampu di Kecamatan Candipuro bisa tetap mengenyam pendidikan,”ujarnya.

Untuk menutupi kekurangan gaji guru-guru yang mengajar dan juga untuk memenuhi perlengkapan lainnya di sekolah itu, kata Yanto, beliau ini rela mengeluarkan uang pribadinya.

“Sejak sekolah itu berdiri hingga akhir hayatnya, almarhum masih sebagai ketua yayasan di sekolah tersebut,”kata dia.

Hal itu juga dibenarkan oleh salah seorang ASN, yakni Toyib, S.Pd.I kepada teraslampung.com yang pernah mengajar di sekolah Wathoniyah Islamiyah tersebut selama lima tahun.

“Tahun 1990-1995 saya dulu mengajar di sekolah yang didirikan oleh almarhum dr. Kiswoto. Sosok alamarhum ini, sangat peduli dengan pendidikan, agama dan banyak membantu masyarakat kecil. Bagi saya, dr. Kiswoto adalah orang baik, bersahaja dan sebagai sosok panutan yang patut dicontoh bagi semua,”kata guru yang saat ini mengajar di SDN 2 Way Gelam ini.

Miko kembali mengatakan, sekitar 2 tahun bertugas di Candipuro, beliau berpindah tugas di Dinkes Lampung Selatan yang mana pada saat itu Kadiskes Lampung Selatan dijabat oleh dr. Jamsari. Pada tahun 2004, dr. Kiswoto menjabat sebagai Wakil Kadiskes Lampung Selatan.

“Saat itu beliau melanjutkan kuliahnya, mengambil jurusan kesehatan masyarakat dan meraih gelar S2 kedokteran. Alasannya almarhum mengambil jurusan tersebut, karena ingin memperbaiki pelayanan kesehatan di Lampung Selatan,”kata dia.

Kemudian istrinya, dr. Hj Irawati, berpindah tugas di Puskesmas Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan sebagai Kepala Puskesmas. Lalu dr. Kiswoto mengikuti istrinya dan tinggal di daerah tersebut dengan membuka praktek di Penengahan.

“Sekitar dua tahun ia bersama istrinya tinggal di perumahan dokter di Penengahan,”ujarnya.

Saat itu itulah Puskesmas Penengahan menjadi satu-satunya puskeskas rawat inap di Lampung Selatan bahkan di Provinsi Lampung.

“Saya ingin dekatkan pasien agar mengurangi biaya mereka, jadi yang menunggu dekat rumahnya maka dibuatlah rawat inap tersebut agar lebih efesien untuk keluarga pasien itu,” kata dr. Kiswoto saat itu.

Selain peduli terhadap pelayanan kesehatan masyarakat, lanjut Miko, almarhum dr. Kiswoto yang saat itu tinggal di Penengahan pernah menjadi penyeimbang dua organisasi NU dan Muhammadiyah.

Tujuannya: menyatukan dua organisasi Islam itu untuk mencari tempat-tempat ibadah yang mana di daerah Lampung Selatan yang mayoritas penduduknya muslim tidak ada sholat jumat supaya ada dilaksanakan shalat Jumat.

“Jika daerah itu memang tidak ada, maka di situlah diberikan seorang dai atau khotib baik dari NU atau Muhammadiyah untuk mengisinya. Almarhum ini menjadi penyeimbang, dan kepentingannya adalah untuk bersama,”tuturnya.

Mengenai pengelolaannya, yakni dari dana zakat atau sedekah. Dana itu, didapat dari rekan-rekannya almarhum dr. Kiswoto untuk bersedekah di situ. Dana itu digunakan sebagai biaya operasional dai atau khotib, seperti anggaran minyak bensin dan lainnya. Bahkan dari dana itu, bisa mengadakan inventaris kendaraan sepeda motor untuk dai atau khatib.

“Setelah dua tahun di Penengahan, beliau kembali lagi dan tinggal menetap di Candipuro. Jadi apa yang sudah dilakukan almarhum sejak awal tinggal di Lamsel ini, tidak hanya pelayanan kesehatan masyarakat tapi juga dari segi pendidikan, agama dan masih banyak hal kebaikan lainnya,”pungkasnya.

Dunia Politik

Sosok almarhum dr. Kiswoto memiliki pengalaman di kancah dunia politik. Pada tahun 2005 lalu, Ia pernah maju sebagai Calon Bupati (Cabup) Lampung Selatan berpasangan dengan kader PKS, Gufron Azis Fuadi. Setelah pencalonan dirinya sebagai Cabup Lampung Selatan pada tahun 2005 gagal, beliau dinonjobkan dari tugasnya di Dinkes Lampung Selatan. Padahal saat itu, almarhum adalah satu-satunya dokter paling senior atau tinggi di Kabupaten Lampung Selatan. Bahkan Ia juga sudah mengajukan surat cuti, namun tidak diurus oleh Pemkab Lamsel saat itu.

“Meskinya, almarhum ini layak dan tepat menjabat sebagai Kadiskes Lamsel karena pada saat itu untuk menjabat Kadiskes harus seorang dokter dan beliau ini satu-satunya dokter paling senior,”kata Miko.

Menurutnya, di daerah Pamatang Pasir, dr.Kiswoto  juga mendirikan klinik. Namun pasca pencalonan Cabup Lamsel 2005, klinik itu beliau tinggalkan dan dikelola oleh seorang dokter asal Lampung Timur.

Sekitar tahun 2007, ia mengajukan diri untuk pensiun dini sebagai ASN. Ia  mengundurkan diri sebagai ASN sebelum masa jabatannya berakhir.

“Bahkan saat itu almarhum pernah mengatakan, kalau dalam satu minggu tidak ada keputusan dia (dr. Kiswoto) tetap akan mengundurkan diri dari ASN,”ujarnya.

Selanjutnya, pada tahun 2010 lalu beliau maju kembali sebagai calon bupati (Cabup) Lampung Selatan berpasangan dengan Hi. Syahirul Alim, SH, MH dan kembali gagal. Meski dua kali gagal menjadi Cabup di Lamsel, beliau banyak mengajarkan politik santun dan bermartabat dan menjadi sosok anutan. Ia selalu memberikan saran masukan, agar masyarakat jangan selalu dibodohi dengan politik uang.

Benahi Pelayanan Kesehatan 

Miko mengutarakan, salah satu tujuan almarhum dr. Kiswoto mencalonkan diri sebagai Calon Bupati (Cabup) Lampung Selatan pada tahun 2005 dan 2010 lalu, tidak lain yakni ingin mengubah pelayanan kesehatan dan menjamin kesehatan masyarakat Lampung Selatan dengan sitem asuransi.

Anggarannya darimana? Lalu Ia cerita, anggarannya ini pada zaman itu yakni ada obat yang anggaran pertahunnya senilai Rp 3 miliar dan obat ini tidak habis akan ditarik lagi ke Dinkes. Kalau anggarannya kurang, akan ditambah lagi dengan nilai yang sama Rp 3 miliar. Obat-obat ini, nantinya didistribusikan lagi ke Puskesmas yang ada di Lampung Selatan.

“Jadi almarhum dr. Kiswoto berkeinginan dari anggaran tersebut setiap warga Lamsel dijamin kesehatannya. Dengan begitu, warga Lamsel yang mau berobat, tinggal berobat saja tidak harus memikirkan bagaimana biayanya. Itulah salah satunya ia maju mencalonkan diri sebagai Cabup Lamsel,”bebernya.

Pada saat itu, lanjut Miko, program dari pemerintah seperti Jamkesmas atau Jamkesda ini belum ada, tapi almarhum dr. Kiswoto sudah bicara dan memikirkan mengenai hal itu. Bahkan almarhum ini juga sudah berbicara dengan pihak asuransi, jika terlaksana maka yang akan membayar klaimnya itu yakni pemerintah daerah.

“Ternyata benar dan itu terjadi sekarang ini, yakni adanya program BPJS ada yang gratis ada juga yang bayar (mandiri). Menurut saya, cara berpikir dr. Kiswoto ini levelnya sudah sekelas menteri. Jadi apa yang akan dilakukannya kala itu jika terpilih menjadi Bupati Lamsel, benar terjadi seperti sekarang ini,”terangnya.

Semasa hidupnya, almarhum dr. Kiswoto tidak hanya membuka praktek di Kecamatan Candipuro saja, tapi juga di Kecamatan lainnya di Lampung Selatan seperti, Penengahan dan di Kecamatan Sidomulyo.

Banyak hal kebaikan yang dilakukan dr. Kiswoto semasa hidupnya, pada masa itu belum adanya program Jamkesmas atau Jamkesda hingga saat ini program BPJS, beliau sudah lebih dulu merencanakan program itu sebenarnya. Selain itu, belum adanya Puskesmas Rawat Inap, beliau juga sudah melakukannya lebih dulu pada masa itu.

Kemudian belum ada kendaraan pribadi atau partai yang dijadikan ambulan, beliau sudah lebih dulu melakukannya yakni menggunakan kendaraan pribadinya untuk membawa warga yang sakit ke Rumah Sakit (RS) bahkan juga pasien yang meninggal dunia.

Selain itu, almarhum dr. Kiswoto mendorong penyelesaian damai terkait insiden terbakarnya Mapolsek Candipuro beberapa waktu lalu oleh aksi massa, yang kecewa atas tidak adanya tindakan cepat pihak kepolisian setempat karena kerap terjadinya aksi pencurian kendaraan bermotor dan begal yang terjadi di wilayah tersebut.

Sebelum meninggal dunia, dr. Kiswoto menitipkan masalah tersebut kepada politisi NasDem Lampung, Wahrul Fauzi Silalahi yang juga mantan Direktur LBH Bandarlampung untuk membantu penyelesaian masalah tersebut.

Dekat dengan Para Tokoh

Semasa hidupnya, sosok dr. Kiswoto dikenal dekat dengan tokoh agama seperti almarhum KH Zainuddin MZ yang dikenal dengan sebutan dai sejuta umat. Kedekatan beliau dengan ulama kondang tanah air ini, karena pada masa itu beliau pernah menghadirkan KH. Zainuddin MZ di pengajian akbar yang digelar di lapangan sepak bola Bumijaya.

Ia  juga dekat dengan tokoh NU Lampung, KH. RM Soleh Bajuri dan KH. Syukron pendiri Ponpes Pematang Pasir, Lampung Selatan. Selain tokoh agama, beliau juga dikenal dekat dengan tokoh politik nasional seperti Zulkifli Hasan, Azis Syamsudin dan Taufik Basari. Lalu tokoh politik Lampung yakni M. Alzier Dianis Thabrani, Sjachroedin ZP, Wahrul Fauzi Silalahi dan tokoh politik lampung lainnya.

Almarhum dr. Kiswoto dikenal dekat dengan sastrawan Indonesia yakni almarhum WS. Rendra sebelum masa pergerakan reformasi dan musisi terkenal di Indonesia, yakni Iwan Fals ketika almarhum dr. Kiswoto masih duduk di bangku sekolah SMAN di Jakarta.

Kemudian kedekatannya dengan mantan Menteri Kesehatan (Menkes) RI yang pada saat wilayah Timur-Timur lepas dari Indonesia di era presiden BJ Habibie. Bahkan mantan Menkes RI tersebut, pernah datang menghadiri acara pernikahan anak pertama almarhum.

Sebagai seorang dokter, sosok almarhum Kiswoto juga dikenal sangat merakyat. Meskipun di beberapa kesempatan bisa sangat tegas, ia tidak suka berbelit-belit dan langsung pada poin penyelesaian masalah. Ia juga memeliki selera humor yang tinggi. Beliau dengan mudah menghibur melalui celetukan atau candaan .

Dokter Kiswoto menjadi referensi banyak orang atas pemikirannya dan hal kebaikan yang terjadi di masyarakat.

Selamat jalan bapak panutan, dermawan, merakyat dan bersahaja. Semoga amal baik yang pernah diperbuat semasa hidupmu, diterima Allah SWT. Amiin.

Zainal Asikin

  • Bagikan