Beranda Teras Berita Dongeng Malam yang tak Terstruktur

Dongeng Malam yang tak Terstruktur

194
BERBAGI
Oleh Sunardian Wirodono
Patung Rara Jonggrang (dok)
Syahdan menurut sahibul kenthiriyah, adalah Rara Jongrang
yang pusing alang-alang kepalang. Bukan karena melihat Bandung Bandawasa bakal
memenuhi permintaannya yang musykil, tapi karena betapa bangsatnya lelaki itu.

Dari beranda fesbuknya ia tahu, ternyata Bandawasa ikutan
pula dalam membendung sungai Citarum, yang diadakan Dayang Sumbi. Itu
setidaknya menurut Taufiq Ridho, sekjen PKS. Lantaran informasi dari partai dakwah, tentu saja valid. 

Menurut informasi itu (yang kemudian dibantah TR sebagai
salah kutip, dan pengunggah kutipan pertama adalah pkspiyungan, nah, baliknya
ke situ-situ juga ‘kan), Bandawasa ternyata membantu Sangkuriang ngebut membuat
sampan dalam proyek Tangkuban Perahu. 
Jadi, siapa yang membuat seribu candi di
Prambanan? Jangan-jangan dia minta tolong Dora Emon, yang punya kantong ajaib
seperti Hashim Djojohadikusumo yang ngurus pundi-pundi uang Prabowo?

“Kurangajar! Dasar, playboy cap bebek,” Rara Jonggrang segera
memerintahkan orang-orang desa untuk konser gejog lesung meski masih malam buta.

Rara Jonggrang sendiri whatsappan dengan Dayang Sumbi.

“Kita kerjain dua laki-laki brengsek itu,…” kata Jongrang
pada Dayang Sumbi.

“Qiqiqiqi, hayuk, Teh Jonggrang,…” Dayang Sumbi membalas.

Rara Jonggrang agak jengkel juga disebut teh (emangnya merk
minuman). Namun karena Jonggrang membutuhkan bantuannya, diempet juga rasa
kesalnya. Solidaritas kaum perempuan sedunia mesti dibangun. Katanya pada
Sumbi, “Bilang pada Sangkuriang, dia curang karena meminta bantuan Bandawasa,…”

“Emang laki-laki cemen! Mereka berkoalisi kalau ada maunya.”

“Kalau Sangkuriang dan Bandawasa bisa mengujudkan
permintaanmu, membendung Citarum dan membuat sampan, kamu mau dikawin anakmu
sendiri? Atau kamu mau poliandri?”

“Oh, nee, not! Enggaklah yaw! Teteh sendiri, juga nggak mau
‘kan diperisteri pembunuh ortu teteh?”

Tiba-tiba, Sangkuriang mengirim sms pada Dayang Sumbi,
“Jangan mudah terprovokasi! Ini pasti gara-gara berita hoax itu. Agama sering
dipakai dalih untuk jualan. Tak ada logikanya Bandawasa ikutan proyek Tangkuban
Perahu ini dodol,….!”

Sementara itu, Bandawasa tak sabar langsung nelpon Rara
Jonggrang, “aku fokus ngerjain seribu candi, eh, kau tuding aku ikutan proyek
Tangkuban Perahu? Itu fitnaaaaaahhhhh, fasis, pemerkosaan, terstruktur,
sistematis dan massif! Aku protesssssssss!”

“Dasar lelaki!” Dayang Sumbi membalas sms Sangkuriang, “Eh,
kamu ternyata juga naksir Rara Jonggrang ya? Sempet-sempetnya ngelaba.”

Hatta, singkat cerita, terjadilah apa yang terjadi. Saking
marahnya, Sangkuriang menendang sampan yang dibuatnya, “Huaaathowwww,…!” 

Sangkuriang kesakitan terkaing-kaing. Ia lupa sampan itu
sudah berubah menjadi gunung Tangkuban Perahu. Ia kemudian juga menjebol
bendungan Citarum, hingga membuat walikota Ridwan Kamil kerepotan karena
Bandung pun kini kebanjiran. Kemarahan membuat hilang ingatan dan mata rabun.
Rabun colek.

Dalam pada itu, sehabis mengutuk Rara Jonggrang jadi batu,
Bandawasa pun ke Bandung, menemui Sangkuriang. Dua lelaki jomblo itu jadi
akrab. Itulah sejarahnya, Bandawasa diberi nama oleh Sangkuriang sebagai
Bandung Bandawasa. Sementara di Yogya, sebagai balas jasa, dipakailah nama
Sangkuriang untuk sebuah warung burjo, yang memang milik orang Sunda.

Akhir cerita, dua lelaki jomblo itu pun berkelana. Menemui Rhoma
Irama untuk begadangan, walaupun begadang tidak ada artinya. Cunthel.
Loading...