Dosen Perikanan Unila Latih Kelompok Mina Rumpun Cahaya Pringsewu untuk Terapkan  Aplikasi Akuaponik Terapung

Bagikan/Suka/Tweet:

TERASLAMPUNG.COM, PRINGSEWU — Dosen Jurusan Perikanan dan Kelautan (PiK), Fakultas Pertanian (FP) Universitas Lampung (Unila) melakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dengan judul “Diseminasi Teknologi Budidaya Ikan dan Sayuran Organik dengan ‘Floating Raft Aquaponic System'” pada Kelompok Pembudidaya Ikan di Kecamatan Pringsewu, 30 Juli dan 1 September 2022 lalu. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari kegiatan tahun-tahun sebelumnya mengenai teknologi budidaya akuaponik.

Dosen PiK yang tergabung dalam Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Dosen Unggulan penerima hibah Pengabdian kepada Masyarakat DIPA BLU Unila Tahun 2022, yang diketuai oleh Oktora Susanti, S.Pi., M.Si.  Anggota tim terdiri atas Darma Yuliana, S.Kel., M.Si., Hilma Putri Fidyandini, S.Pi., dan Rachmad Caesario., S.Pi., M.Si.

Kegiatan “Aplikasi Teknologi Budidaya Ikan dan Sayuran Organik dengan Floating Raft Aquaponic System pada Kelompok Pembudidaya Ikan di Kecamatan Pringsewu, Lampung” merupakan kegiatan transfer teknologi kepada masyarakat, yang sejalan dengan salah satu visi LPPM Unila. Teknologi yang ditransfer adalah teknologi akuaponik dengan sistem Floating Raft Aquaponic. Floating Raft Aquaponic System adalah sistem akuaponik terapung yang memiliki beberapa keuntungan yaitu tanpa menggunakan listrik, dan biaya yang dibutuhkan lebih rendah dibandingkan sistem akuaponik pada umumnya.

Menurut Oktora Susanti, ketua tim, pada sistem ini memanfaatkan limbah berupa nitrogen dan fosfor anorganik yang dihasilkan dari pengurairan sisa pakan dan sisa metabolisme ikan.

“Pemeliharaan tanaman dengan sistem akuaponik tidak membutuhkan pupuk kimia sebagai nutrisi sayuran sehingga sayuran yang dipanen merupakan sayuran organik,” katanya.

Darma Yunila, anggota tim, menambahkan bahwa keuntungan lain yang dapat dirasakan oleh pembudidaya dalam penggunaan sistem ini adalah pemeliharaan yang lebih mudah karena penggantian air dapat dilakukan seminimal mungkin dan profit yang diperoleh akan berlipat ganda.

“Karena selain dari hasil panen ikan, pembudidaya juga dapat menikmati hasil panen dari sayuran. Secara ekologis, teknologi akuaponik ini sangat efisian dalam penggunaan sumberdaya air dan sesuai untuk diterapkan pada lahan terbatas,” kata Darma.

Mukhlisin, Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan Mina Rumpun Cahaya,  menyampaikan terima kasih kepada Tim Unila yang telah memberikan ilmu baru.

“Kami berharap kegiatan seperti ini terus dapat berlanjut. Semoga kami bisa mentransfer ilmu dan teknologi ini kepada kelompk-kelompok lain. Kami berharap untuk kedepannya ada kegiatan pendampingan tentang Teknik pengemasan dan pemasaran produk,” katanya.