Beranda News Pelayanan Publik DPRD dan Gubernur Lampung Dukung PLN Di-“Clash Action”

DPRD dan Gubernur Lampung Dukung PLN Di-“Clash Action”

612
BERBAGI
Unjuk rasa di Kantor PLN Lampung.

Mas Alina Arifin|Teraslampung.com

Bandarlampung—Para anggota legislator di DPRD Lampung dan Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. mendukung rencana pelanggan listrik di Lampung untuk melakukan gugatan clash action kepada PLN. Gugatan itu dianggap layak diajukan karena pemadaman aliran listrik yang sering dilakukan merugikan ekonomi rakyat.

“Yang paling jelas adalah banyak alat elektronik rusak dan biaya produksi di kalangan usaha kecil dan industri rumah tangga menjadi membengkak. Kami akan mengundang perwakilan PLN Lampung lebih dulu untuk mendapatkan alasan kenapa listrik di Lampung sering mati,” kata Imer Darius, aggota DPRD Lampung dari Fraksi Partai Demokrat, Rabu (4/9).

Imer Darius menagatakan selama ini komplain pelanggan untuk mendapatkan ganti rugi kepada PLN selalu gagal. Sebab pelanggan yang meminta ganti rugi kesulitan untuk mendapatkan bukti bahwa kerusakan alat elektronik miliknya disebabkan sering matinya aliran listrik.

“Dalam hearing nanti (pekan ini) kami akan menanyakan tentang proses ganti rugi dan clash action pelanggan. Kami akan mendukung warga yang melakukan clash action jika PLN tidak mau memberikan ganti rugi,” kata dia.

Menurut Immer Darius data PLN tentang kemampuan daya listrik di Lampung masih meragukan. Dengan adanya PLTU Tarahan, PLTU Ulu Belu, PLTA Way Besai, PLTA Batutegi, dan beberapa Pusat Listrik Tenaga Disel (PLTD) di Lampung seharusnya kebutuhan daya 1.000 MW untuk Lampung bisa dipenuhi dan tidak tergantung pada jaringan listrik interkoneksi Sumatera.

’Kami juga akan mempertanyakan berapa jumlah kebutuhan listrik di provinsi ini. Kalau nanti pasokan listrik dari pembangkit yang dihasilkan lebih besar daripada kebutuhan listrik, kami akan mempertanyakan ke mana kelebihan listrik itu dan mengapa sampai ada pemadaman?’’ ujarnya.

“Pemadaman listrik di Provinsi Lampung lantaran ada alat di pembangkit listrik yang rusak dan adanya pemeliharaan. Itu yang akan kita buktikan dengan berkunjung ke pembangkit listrik yang ada di Lampung ini,’’ tambahnya.

Menurut Immer rusaknya boiler PLTU Tarahan III juga layak dipertanyakan karena PLTU tersebut masih baru. Immer mengaku masih bisa memaklumi kalau peralatan PLN sudah kuno.

“Sangat aneh sebuah PLTU dengan peralatan baru tetapi sering rusak sehingga menganggu pasokan listrik.Buruknya kelistrikan di Lampung bisa mengancam investasi,” kata dia.

Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. juga mendukung rencana warga untuk melakukan gugatan clash action. Menurut Sjachroedin sering matinya listrik di Lampung akan berdampak buruk.

“Selain aksi kriminal, juga bisa memancing aksi kekerasan warga terhadap PLN Warga marah karena sangat dirugikan,” kata Sjachroedin.

Sejumlah pelanggan di Kota Bandarlampung mengaku jengkel kepada PLN karena meskipun listrik sering mati tetapi tagihan langganan listrik justru naik.

“Tagihan bulanan saya naik menjadi Rp 1 jutaan. Padahal pemakaiannya normal. Biasanya tagihan bulanan hanya Rp 500 ribu/bulan,” kata Adi 47, warga Kedaton, Bandarlampung.

Rahman, 39, pemilik usaha fotokopi dan warung internet, mengaku terpaksa harus membeli mesin genset seharga Rp 2 juta agar bisnisnya tidak terganggu. Meskipun bisnisnya bisa berjalan, menurut Rahman, keuntungannya berkurang karena dia harus membeli bensin untuk menghidupkan mesin genset.

“Kalau listrik padam 1-2 jam masih bisa ditolerir. Sekarang listrik padam bisa sampai 8 jam bahkan 12 jam. Itu jelas sangat merugikan kami,” ujarnya.

Direktur Operasional Listrik PLN untuk wilayah Jawa, Bali, dan Sumatera, Ngurah Adnyana, di Jakarta, Selasa (3/9) mengatakan krisis listrik di wilayah Sumatera yang terjadi akhir-akhir ini disebabkan defisit listrik dan telatnya pembangunan listrik berbahan bakar batu bara oleh sejumlah kontraktor asal Tiongkok. Seperti di PLTU Nagan Raya (2 x 110 MW) di Meulaboh, Aceh, PLTU Pangkalansusu (2 x 200 MW) di Sumatera Utara, dan PLTU Teluksirih (2 x 112 MW) di Sumatera Barat.

Manajer PLN Lampung, Nawaludin, mengatakan PLN terpaksa melakukan pemadaman listrik terpaksa dilakukan karena mengalami krisis daya akibat rusaknya PLTU Tarahan III. Selain karena rusaknya PLTU Tarahan 3 krisis listrik di Lampung juga terjadi rusaknya jaringan transmisi Sumatera Selatan—Lampung.  Jaringan transmisi itu selama ini berfungsi memasok listrik dari wilayah Sumatera bagian selatan ke Lampung jika Lampung mengalami kekurangan daya.

“Kami sedang berusaha keras memperbaiki PLTU Tarahan III. Kami menargetkan pada 17 September 2013 sudah beres,” kata dia.