Drainase Kota Pembawa Musibah

  • Bagikan
I.B. Ilham Malik

Dr. Eng. Ir. IB Ilham Malik

Musibah yang dihadapi oleh orangtua dan keluarga bocah yang hanyut di saluran drainase kota, bukan saja mengusik keprihatinan mereka, tetapi juga mengusik keprihatinan publik. Warga kota banyak yang membagi informasi ini diberbagai media sosial sembari menambahi kata-kata, lindungi dan jauhkan anak-anak dari saluran drainase.

Hari ini, seolah drainase menjadi biang masalah, potensi masalah keselamatan warga. Dan terutama ketika hujan lebat turun. Debit air yang sebegitu besar dan ber-arus kencang, memang menimbulkan potensi bahaya bagi mereka yang terjatuh di saluran drainase kota. Terlebih lagi bagi anak-anak.

Kasus hanyutnya anak di saluran drainase kota, bukan kali ini saja. Setidaknya sudah terjadi 3 kali lebih, kejadiannya. Semua itu berlalu begitu saja. Kebijakan soal pembenahan drainase kota terjebak pada penanganan banjirnya saja. Itupun tak juga kunjung terselesaikan. Sementara, ketika bicara tentang drainase kota, kita bukan saja bicara soal mengalirkan air dan mencegah banjir. Tetapi berbagai dimensi pun harus tersentuh dan menjadi bagian dari perencanaan drainase kota. Hingga ke tahapan implementasinya.

Sebagai contoh. Seluruh drainase kota, terutama di kawasan permukiman dan padat lalu lintas, semua harus dibuat tertutup. Saya tidak akan membahasnya dari sisi teknis drainasenya, karena ada baiknya kita menunggu para ahli drainase menulis pendapat-pendapatnya dan membagi pengetahuannya kepada kita ditulisan lain. Dengan membuat saluran tertutup, maka kemungkinan adanya bahaya yang mengancam manusia, dapat diperkecil. Kita bisa lihat diberbagai jalan utama kota kita pada saat ini. Sebagian sudah dibuat tertutup, dan bagian atas drainasenya menjadi trotoar. Dari sisi keselamatan dan kenyamanan pengguna kendaraan dan pejalan kaki, hal ini sangatlah membantu menekan potensi masalah.

Bahwa dengan tertutupnya saluran drainase itu maka masalah pembersihannya menjadi sulit, saya kira setiap unsur di pemerintahan yang memang paham soal drainase dan pemeliharaannya, bisa punya cara untuk mengatasinya. Diberbagai kota lain, di Indonesia maupun di luar negeri, sudah ada begitu banyak cara untuk membuat dan merawat saluran drainase tertutup. Para ahli di perguruan tinggi, terutama di Institut Teknologi Sumatera (Itera) bisa diajak bicara untuk menemukan solusinya. Bukan saja solusi teknisnya, tetapi juga solusi non teknis. Jika melibatkan ahlinya, mudah-mudahan akan dimudahkan jalan penyelesaiannya.

Sekarang kota mendapat tambahan syarat Ketika bicara drainase. Bukan hanya bicara soal daya tampung drainase dan lokasinya dimana. Tetapi juga harus memasukkan unsur keselamatan warga. Dan akhirnya tantangannya menjadi semakin kompleks. Salahsatu contohnya, ketika membuat jalan, harusnya bersamaan juga membangun drainase jalan raya (yang juga bagian dari drainase permukiman). Dan drainasenya tertutup.

BACA JUGA:   Kenapa Ribut Soal Satgas Covid DPR dan Ramuan Herbavid-19?

Selama ini, soal pembangunan secara bersamaan antara drainase dan badan jalan, tidak juga kunjung terselesaikan. Alasannya adalah pembagian kegiatan antara membangun jalan (yang berada di bina marga) dan drainase (yang ada di cipta karya). Persoalan pemisahan tanggung jawab dalam satu proyek pembangunan yang harusnya menyatu, membangun jalan dan drainase jalan, menimbulkan masalah yang akhirnya berkelanjutan. Masalah drainase menjadi tidak terselesaikan.

Saat ini ada banyak harapan masyarakat kepada pemerintah kota agar dapat membenahi sistem drainase kota. Bukan saja karena ada musibah yang melanda warga yang hanyut di saluran drainase, tetapi juga karena ada begitu banyak genangan dan banjir melanda permukiman dikala hujan turun. Kejadian yang berulang-ulang, menimbulkan kejenuhan. Lambatnya penanganan, juga menimbulkan kebosanan untuk meminta. Namun,  sebagai bagian dari warga kota, tentu saja kita bisa merasakan adanya harapan dari sebagian warga kota lainnya yang kurang beruntung, yang terkena genangan dan banjir di saat hujan. Mereka menaruh harapan dan keinginan agar tidak lagi merasakan masalah air akibat saluran drainase kota yang belum baik.

Kita juga menyadari dan mengetahui bahwa pemerintah memiiki keterbatasan anggaran. Program pembangunan kota, juga termasuk program rutin dan anggaran rutin, menuntut alokasi anggaran dan bahkan menyedot anggaran kota. Pajak, retribusi dan juga bagi hasil, bahkan hutang, telah digali oleh pemerintah kota agar dapat membuat pemerintah memiliki banyak uang.

Kalau Pemkot sudah banyak uang, maka mau membangun apapun dan dimana pun menjadi tidak ada masalah. Sekarang ini, yang menjadi masalah adalah keterbatasan anggaran, keterbatasan sumber daya manusia yang mumpuni, dan keterbatasan aturan main. Akibat banyaknya keterbatasan ini, pemerintah akhirnya punya alibi untuk tidak mau dituntut akibat tidak bisa cepat menyelesaikan masalah yang ada.

Di sinilah sebenarnya alasan utama kenapa perlunya perencanaan yang baik. Suatu pemerintahan perlu membuat rencana yang baik, membuat kajian sebagai bahan pengambilan keputusan yang perlu dilakukan, adalah karena pemerintah punya keterbatasan anggaran, dan punya keterbatasan kemampuan manusianya. Oleh sebab itu, hendaknya semua pihak tidaklah alergi dengan yang namanya perencanaan yang matang.

Sekarang ini, ketika kita bicara tentang perencanaan yang matang, seringkali banyak yang mengatakan, untuk apa lagi perencanaan? Saat ini saatnya untuk kerja, untuk beraksi. Yap, benar sekali. Jika pemerintah punya uang yang banyak dan orang yang handal. Juga dokumen pembangunan yang bisa dipertanggungjawabkan. Tetapi, pada kenyataannya tidak begitu.

BACA JUGA:   Denting Islam, Peradaban Nusantara, dan Lingkungan Hidup 

Pemerintah memiliki keterbatasan dalam anggaran dan sumber daya manusia yang andal. Seperti yang kita bisa lihat pada hari ini, apa yang membuat kota kita tidak juga kunjung mempertontonkan kehidupan yang “tradisional dalam bingkai modernitas”, adalah karena banyaknya keterbatasan itu. Soal drainase, bahkan kota pun belum memiliki dokumen masterplan drainase. Dokumen yang pada dahulu kala pernah dibuat pun, kita sudah tak lagi tersimpan sebagai rujukan.

Menjawab soal drainase perkotaan, menuntut pemerintah dan perguruan tinggi untuk duduk bersama, berdialog dengan mengajak kalangan pengusaha yang ada di kota ini. Kita harus memiliki kota yang modern tanpa tercerabut dari jati diri setempat. Dan itu semua, tentu saja, hanya bisa diwujudkan ketika ada kesamaan pandangan, ada buku petunjuk, ada buku pedoman dan pengarah dan ada kontrol dan evaluasi. Semua itu juga akan bisa berwujud ketika siapa melakukan apa dan kapan, terbentuk dalam kesamaan pandangan, komitmen dan kesiapan anggaran serta sumber daya manusianya, yang dibahas dan disepakati bersama.

Kota sudah membutuhkan penyelesaian di masalah drainase. Persoalan banjir dan atau genangan, juga munculnya ancaman keselamatan warga yang dekat dengan saluran drainase, harus dapat dihentikan segera. Karena semua pihak memiliki keterbatasan, maka duduk bersama antara pemerintah kota, perguruan tinggi, dan pelaku usaha untuk menemukan jalan keluar di persoalan drainase ini, menjadi sangat penting.

Pemerintah bisa meminta perguruan tinggi untuk melakukan kajian masalah manajemen sumber daya air yang didalamnya ada soal drainase kota. Pemerintah juga bisa meminta pihak swasta untuk memanfaatkan program penataan drainase kota sebagai bagian dari investasi swasta karena disana ada penempatan kabel telekomunikasi, energi, air bersih, sanitasi dan lainnya. Ini sebuah proyek jangka panjang yang sangat strategis. Nanti perguruan tinggi akan membuat skemanya, membuat kajian ilmiah dan draf kebijakannya, naskah akademiknya, yang selanjutnya akan disahkan oleh pemerintah kota dan dewan.

Dengan begitu, ada langkah maju kearah penyelesaian masalah drainase perkotaan di Bandar Lampung, yang bisa saja menjadi rujukan bagi kota dan kabupaten lain di Pulau Sumatera. Selama ini, semua masih terhenti pada persoalannya saja. Tapi Langkah penyelesaiannya mengalami kemandeg-an. Saya meyakini, Walikota Eva Dwiana, memiliki kepekaan dalam menyelesaikan masalah ini. Karena drainase kini juga memiliki dimensi kemanusiaan. Drainase yang buruk menyebabkan munculnya masalah sosial dan kemanusiaan dalam kewargaan-kota.***

Dr. eng. Ir. IB Ilham Malik, dosen tetap pada Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Sumatera (Prodi PWK-Itera)

  • Bagikan