Beranda News Internasional Drama Penyanderaan di Kafe Lindt Berakhir, Tiga Orang Tewas

Drama Penyanderaan di Kafe Lindt Berakhir, Tiga Orang Tewas

248
BERBAGI
Seorang perempuan muda pelayan di Kafe Lindt, Martin Place, Sydney, berhasil lari keluar kafe tempat penyanderaan, kemudian diselamatkan oleh polisi. Drama penyanderaan berakhir pada Selasa diri hari. (Foto: BBC/reuters.com)

SIDNEY, Teraslampung.com — Kepolisian New South Wales, Australia akhirnya mengakhiri ‘drama’ penyanderaan yang sangat menengkan. Tiga orang dinyatakan tewas dalam insiden penyanderaan di Kafe Lindt, Martin Place, sebuah kawasan bisnis,  setelah polisi memutuskan untuk menyerbu lokasi penyanderaan pada Selasa (16/12) dini hari.

“Seorang pria berusia 50 tahun, seorang wanita berusia 38 tahun dan seorang pria berusia 34 tahun tewas dalam insiden penyanderaan tersebut,” kata Kepolisian New South Wales, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (16/12).

Selain itu,  dua orang lainnya cedera ringan dan dilarikan ke rumah sakit. Seorang polisi tengah dirawat akibat mengalami luka tembak.Korban lainnya, seorang wanita, juga dirawat akibat luka tembak di bahu.

Para petugas medis membawa tandu-tandu menuju kafe Lindt beberapa saat setelah terdengar suara keras dan kepulan debu membumbung.

Beberapa sandera kemudian keluar dari kafe sebelum tembak menembak berhenti. Penyerbuan itu disiarkan langsung di televisi, Senin (15/12).

Sejumlah orang tampak mengalami luka-luka sementara nasib penyandera, Man Haron Monis, belum diketahui sejauh ini.

Sebelumnya sandera-sandera diharuskan mengibarkan bendera kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS di jendela kafe. Tempat itu terletak di Martin Place, pusat perbelanjaan sibuk di kawasan keuangan Sydney.

Sejumlah media lokal melaporkan,  pelaku penyanderaan merupakan salah satu di antara korban yang tewas.

Drama penyanderaan yang telah berlangsung selama lebih dari 16 jam berakhir setelah serentetan tembakan dan ledakan dari granat kejut mengarah ke lokasi penyanderaan pada pukul 02:00 pagi waktu setempat.

Pelaku penyanderaan diidentifikasi sebagai Man Haron Monis, 50 tahun, seorang warga negara  asal Iran yang mendapat suaka dari Australia pada 1996. Ia juga diidentifikasi sebagai syekh gadungan yang memiliki sejumlah cacatan kriminal. Saat ini pun Monis masih menghadapi sejumlah dakawaan, tetapi bisa menghirup udara bebas karena ada jaminan.

Awal tahun ini, Monis, yang menggambarkan dirinya sebagai seorang “penyembuh spiritual”, dituntut atas perlakuan tidak senonoh dan kekerasan seksual dari seorang wanita Sydney pada tahun 2002.

Monis, juga dikenal sebagai Sheikh Haron, didakwa tahun lalu karena dinyataan terlibat dalam kasus pembunuhan mantan istrinya yang ditikam dan dibakar di sebuah apartemen blok Sydney.

Sydney Morning Herald (SMH), media Australia, melaporkan bahwa  Monis pernah dinyatakan bersalah pada tahun 2012 karena mengirim surat kebencian kepada keluarga dari delapan tentara Australia yang tewas di Afghanistan, sebagai aksi protes terhadap keterlibatan Australia dalam konflik di Afghanistan.

Situs blog  Monis berisi gambar grafis dari anak-anak yang diklaim merupakan korban dari serangan udara dari koalisi sejumlah negara, termasuk Australia, dan dipimpin oleh AS. Situs  tersebut juga memuat beberapa penampilan Monis di pengadilan, serta pernyataan Monis yang ditujukan kepada komunitas Muslim dan Perdana Menteri Australia Tony Abbott. Menurut SMH, situs tersebut sekarang sudah diblokir.

“Pelaku penyanderaan diduga merupakan simpatisan kelompok militan ISIS dan kelompok jihad internasional. Pelaku dianggap memiliki masalah kesehatan mental,” kata Adam Dolnik, seorang profesor di University of Wollongong, yang telah melatih polisi Sydney dalam proses negosiasi dengan pelaku penyanderaan, kepada Reuters, Selasa (16/12).

Dolnik menyatakan bahwa pelaku melakukan penyanderaan untuk mendapatkan perhatian.

Selama penyanderaan, sandera dipaksa untuk menampilkan bendera Islam. Aksi ini memicu kekhawatiran bahwa penyanderaan ini dilakukan oleh kelompok militan ISIS.

Sumber: reuters.com/sidneymorningherald.com/BBC