Dua SD di Sumba Barat Kembangkan Kebun Gizi

Kebun gizi yang dikelola oleh komunitas SDN Rajaka, Sumba Barat, Nusa Tenggar Timur.
Kebun gizi yang dikelola oleh komunitas SDN Rajaka, Sumba Barat, Nusa Tenggar Timur.
Bagikan/Suka/Tweet:

TERASLAMPUNG.COM — YAPPIKA-ActionAid bekerjasama dengan dua Sekolah Dasar Negeri (SDN) Rajaka dan SDN Inpres Hoba Jangi di Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengembangkan kebun gizi di sekolah dengan memanfaatkan lahan seluas 5 hektar.

Kebun gizi tersebut dimulai awal tahun 2022 dan sudah dua kali mengalami tanam dan panen sayuran, dan menurut Senior Program Officer YAPPIKA-ActionAid Hardiyanto program itu bertujuan untuk melakukan upaya pemenuhan nutrisi dan gizi siswa di Kabupaten Sumba Barat dengan skema Program Sekolah Aman.

“Kebun gizi ini penting untuk meningkatkan asupan nutrisi anak-anak di Sumba, yang penting hasilnya dikonsumsi dulu, kami tidak mendorong untuk menjual tapi dikonsumsi,” katanya dalam rilisnya yang diterima teraslampung.com Rabu 9 November 2022.

Hardianto menjelaskan, YAPPIKA-ActionAid mengawali implementasi kebun gizi ini dengan melakukan kajian sederhana bersama komunitas sekolah mengenai asupan dan pola makan anak di lingkungan mereka.

“Hasil kajian YAPPIKA-ActionAid di sekolah sasaran Program Sekolah Aman tahun 2022, di Kabupaten Sumba Barat 95 persen siswa berjalan kaki menuju sekolah dengan jarak 100 meter hingga 3 Km,” jelasnya

“Dari hasil kajian itu diketahui konsumsi energi dan proteinnya kurang dari 70 persen berdasarkan pada tabel angka kecukupan gizi. Hasil analisis Z-Score terhadap pengukuran tinggi badan siswa di SDN Rajaka yang menjadi salah satu sampel kajian YAPPIKA-ActionAid diperoleh dari 30 siswa perempuan dan laki-laki, 11 anak masuk kategori pendek dan 8 anak masuk kategori sangat pendek. Sedangkan status gizi berdasar perbandingan berat bedan terhadap usia, dari 30 sampel tersebut 11 anak masuk kategori gizi kurang dan 7 anak masuk kategori gizi buruk,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Komunitas Sekolah SDN Rajaka, Markus mengatakan kegiatan kebun gizi ini sangat penting bagi komunitas sekolah karena ini anak-anak sangat membutuhkan asupan yang bergizi.

“Kami menyambut baik kegiatan ini karena sangat penting, anak-anak bisa makan sayur, kami sangat berterima kasih kepada Yayasan Bahtera dan YAPPIKA. Hasil panennya digunakan untuk makan bersama siswa di sekolah, sebagian hasilnya dijual oleh komunitas sekolah dan sebagian lainnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga anggota komunitas sekolah dan guru,” katanya.

“Sedangkan yang yang kami tanam ada sawi putih, kangkung, pare pelut, tomat, kacang hijau, cabe. Dan kini mulai mengembangkan kolam ikan air tawar, yakni ikan lele dan ikan nila,” tambahnya.

Marcel, staf Yayasan Bahtera yang menjadi mitra YAPPIKA-ActionAid di Kabupaten Sumba Barat, mengatakan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan sudah dibuat kesepakatan sejak awal mengenai hasil panen

“Kami arahkan mereka untuk bersepakat membagi hasilnya, harus ada yang diserahkan ke sekolah untuk makan bersama,” ujarnya.

Dandy Ibrahim