Beranda News Peristiwa Dua Warga Tanggamus Tewas Diserang Gajah, Ini Penjelasan Dinas Kehutanan

Dua Warga Tanggamus Tewas Diserang Gajah, Ini Penjelasan Dinas Kehutanan

905
BERBAGI
Tim Satgas Gabungan dan polisi di lokasi serangan gajah yang menyebabkan dua warga meninggal. (Foto: dokTim Satgas/ Dinas Kehutanan Lampung)

TERASLAMPUNG.COM — Dinas Kehutanan Provinsi Lampung mengklarifikasi berita tentang dua warga Dusun Tanjungjati, Pekon (Desa) Way Kerap, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus yang dibakarkan tewas diserang gajah, Rabu,15 Agustus 2018.

Menurut Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Syaiful Bachri, periswa yang menewaskan warga itu persisnya terjadi di kebun Tanjakan Mayit di areal kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) di Pesisir Barat, Rabu, 15-8-2018 sekitar pukul 01.30 WIB.

Korban yang meninggal karena diserang gajah, menurut Syaiful satu orang yakni Saudah (60). Saodah diserang gajah saat berada di kebunnya bersama suaminya, Nasrudin (65).

“Sekitar pukul 02.30 WIB, Tim Satgas yang terdiri dari unsur TNBBS, Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, WCS dan YABI bergerak menuju lokasi konflik. Saat Tim Satgas tiba di TKP, Nasrudin masih hidup berada di luar gubuk, dan Saudah dalam kondisi meninggal,” katanya, Kamis (16/8/2018).

“Selanjutnya Tim Satgas membawa Nasrudin ke Puskesmas Pekon Sukaraja Kecamatan Semaka untuk mendapatkan pertolongan, sedangkan jenazah Saudah diserahkan ke keluarga di Dusun Tanjung Jati, Pekon Way Kerap, Kecamatan Semaka, Tanggamus. Namun pada akhirnya Nasrudin meninggal sekitar jam 06.30 WIB,” imbuh Syaiful.

Syaiful mengatakan Nasrudin meninggal setelah sempat dirawat di Puskesmas Sukaraja, Tanggamus.

Menurut Syaiful, selain serangan 11 ekor gajah liar itu juga menyebabkan dua  gubug dan sejumlah tanaman rusak.

“Ketika mendengar suara gajah dekat gubuknya, suami istri ini bermaksud lari menyelamatkan diri, namun setelah keluar dari gubuknya mereka dihadang oleh kawanan gajah liar. Akibat amukan kawanan gajah liar tersebut, Saudah meninggal di tempat, sedangkan Nasrudin masih selamat, walau sempat terlempar,” katanya.

Syaiful mengatakan, pascaserangan gajah liar pihaknya bersama Tim Satgas meningkatkan meningkatkan koordinasi berbagai pihak terkait dalam upaya penanganan konflik antara manusia dengan satwa liar.

Antara lain dengan melajukan blokade/penjagaan secara rutin di lokasi yang berbatasan langsung dengan TNBBS serta pemasangan GPS Sollar pada salah satu gajah untuk memantau pergerakan kawanan gajah.

“Kami juga telah menginstruksikan kepada para Kepala KPH yang memiliki wilayah kerja yang rawan konflik dengan satwa liar untuk mengingatkan masyarakat agar tidak bermukim di gubuk dalam kawasan hutan serta mengaktifkan pos blokade di daerah-daerah tertentu,” katanya.

“Kami juga telah mengusulkan  ke Kementerian LHK untuk segera membentuk CRU di TNBBS sebagai upaya penanggulangan konflik antara manusia dengan satwa liar gajah yang sering terjadi Terkait dengan gajah liar yang sering masuk kebun dan perkampungan, saat ini Tim Satgas mengupayakan penggiringan kelompok gajah tersebut masuk kembali ke dalam kawasan TNBBS,” tandasnya.