Beranda Views Opini Duduk Perkara Opini “Revolusi Mental” Joko Widodo

Duduk Perkara Opini “Revolusi Mental” Joko Widodo

232
BERBAGI

Oleh Pepih Nugraha*

Pepih Nugraha (dok Pepih Nugraha)

Opini bakal calon presiden Joko Widodo “Revolusi Mental” yang dimuat di Rubrik
Opini Harian Kompas, Sabtu 10 Mei 2014, menuai banyak pertanyaan.
Terlacak di media sosial seperti Twitter, Facebook dan bahkan Kompasiana,
publik lebih suka menelisik dan mempertanyakan apakah benar itu tulisan (asli)
Jokowi atau orang lain yang membuatkan tulisan itu atas nama Jokowi, daripada
membahas isi tulisan itu sendiri.

Dalam suasana yang
sedang saling tunggu kelengahan, tak pelak tulisan Joko Widodo itu dianggap
sebagai celah masuk untuk “menyerang”. Tudingan plagiat pun merebak dan
karenanya apa yang dilakukan Joko Widodo lewat tulisannya tersebut digolongkan
sebagai kejahatan intelektual.

Beberapa teman
kemudian menyebut (mention) nama saya di Facebook agar saya
menjelaskan, atau setidak-tidaknya memberi komentar, perihal tulisan Joko
Widodo di halaman opini HarianKompas itu.
Opini publik kemudian membawa-bawa Harian Kompas,
media di mana saya bekerja, yang dikatakan sementara orang berpihak kepada
calon presiden tertentu. Untuk yang satu ini, saya sangat-sangat percaya
kredibilitas kolega saya di Desk Opini yang menggawangi rubrik opini ini.

Meski demikian,
atas desakan penyebutan (mention) saya di Facebook oleh beberapa kawan
dan terutama untuk mencari kebenaran atas praduga dan prasangka publik terhadap
opini Joko Widodo itu, saya membuka percakapan dengan Kepala Desk Opini 

Harian Kompas, Tati Samhadi, Senin
12 Mei 2014. Tujuannya untuk memperoleh fakta atau kebenaran atas isu yang
beredar di publik. Percakapan saya lakukan secara tertulis melalui surat
elektronik agar pertanyaan-jawaban tercatat sebagai bukti faktual.

Apa yang saya
tanyakan kepada Mbak Tat, demikian saya biasa memanggilnya, tidak lebih dari
pertanyaan publik juga yakni apakah benar itu tulisan asli Joko Widodo, apakah
benar “pengakuan” Joko Widodo sebagaimana dikutip sejumlah media online, bahwa
tulisan itu karya “tim penulis”-nya sedangkan ia hanya memberi garis-garis
besarnya saja.

Atas pertanyaan
saya kepada penanggung jawab Rubrik Opini Harian Kompas itu, beberapa menit kemudian saya
memperoleh jawaban tertulis dari Mbak Tat sebagai berikut: “Pepih, saya
sudah tanya lagi, itu artikel Jokowi sendiri yang nulis. Gagasan dia, buah
pikiran dia dan dia sendiri juga yang nyusun poin2nya, nggak bener dia pernah
bilang bukan dia yg nulis”.

Demikian apa ada
adanya jawaban Mbak Tat saya tuliskan kembali di sini langsung copas dari surat
elektronik.

Jelas terbaca
bahwa Mbak Tat berusaha menghubungi Joko Widodo atau setidak-tidaknya pihak
Joko Widodo beberapa saat setelah mendapat pertanyaan saya (mewakili publik
media sosial) dan jawaban Mbak Tat adalah sebagaimana tertulis di atas (italic).
Saya pikir dari jawaban ini duduk perkaranya sudah jelas dan jawaban ini
pulalah yang kelak akan saya gunakan untuk menjawab keraguan publik di media
sosial yang me-mention saya.

Terkait pertanyaan
publik yang juga saya sampaikan, yang menganggap bahwa Harian Kompasmemberikan keistimewaan
khusus kepada Joko Widodo sementara bakal calon presiden tidak hanya dia
seorang, Mbak Tat pun menjawabnya sebagai berikut:
“Ini juga
bukan privilege Jokowi, karena sebelumnya kita juga sudah pernah menurunkan
artikel Wiranto, Aburizal, Anis Matta, Dahlan Iskan, Gita Wirjawan, dan Anies
Baswedan. Kita juga mempersilakan kalau capres yg lain mau nulis, krn memang
salah satu tanggung jawab kita untuk memanggungkan gagasan dan pemikiran2 para
calon pemimpin itu, biar masyarakat tahu dan menilai sendiri. Kompas selalu
memberi perlakuan sama dan tidak partisan.”

Demikian jawaban
Mbak Tat kepada saya yang saya copas sebagaimana aslinya. Jawaban-jawaban Mbak
Tat sangat saya perlukan untuk menjelaskan kepada publik. Mengapa bukan saya
saja yang langsung menjelaskannya, bukankah saya sendiri orang Kompas? Mungkin ada
pertanyaan demikian. Memang benar saya orang Kompas,
tepatnya wartawan Kompas,
tetapi untuk urusan Rubrik Opini, saya tidak berpretensi untuk sok tahu. Ada
orang yang lebih berwenang dan lebih tepat menjelaskannya, dalam hal ini Mbak
Tat sebagai penanggung jawab rubrik. Maka, jawaban-jawaban dari Mbak Tat itulah
yang saya gunakan sebagai jawaban bagi siapapun yang bertanya perihal opini
Jokowi di Harian Kompas.

Harus saya akui,
tidak semua jurnalis atau editor Harian Kompas aktif di media sosial meskipun mereka
punya akun. Sementara, saya wajib aktif di media sosial terkait pekerjaan saya
yang diberi amanah mengembangkan media sosial Kompasiana dan Forum Kompas. Saya
juga tidak akan bereaksi kalau nama saya tidak dicolek atau di-mention teman-teman fesbuker.

Sebagai bagian
sopan-santun berinternet, “poke” atau “mention” di media sosial adalah sapaan
di mana (kalau bisa) kita menanggapinya (take it) . Saya bisa saja
mengabaikannya (leave it), tetapi karena ini menyangkut nama baik
media di mana saya bekerja, saya harus sebisa mungkin menerangkannya kepada
publik yang meminta penjelasan. Penjelasan yang saya berikan kepada publik
bukan dari opini atau pendapat saya, melainkan pendapat dari penanggung jawab
Rubrik Opini Harian Kompas.

Semoga saja
tulisan ringkas ini ada manfaatnya, setidak-tidaknya memberi penjelasan dari
sisi Harian Kompas yang telah memuat opini Joko Widodo dan menjadi perbincangan
khalayak luas. Soal Anda tidak percaya atas penjelasan atau pengakuan Joko
Widodo mengenai opini yang ditulisnya, itu sama-sekali bukan urusan saya,
silakan saja. Urusan saya sebatas menjelaskan duduknya perkara.

Palbar kala senja,
13 Mei 2014


* Pepih Nugraha adalah jurnalis Kompas dan pengelola Kompasiana. Artikel ini juga sudah dimuat di kompasiana.com
Loading...