Dugaan Pemerkosaan Anak di Bawah Umur di Lamsel, Ini Kata LPAI

  • Bagikan
Ketua LPAI Lampung, M. Zainuddin bersama Seto Mulyadi atau Kak Seto

Zainal Asiki | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN–Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), mengecam dan mengutuk keras para pelaku dugaan pemerkosaan anak  di bawah umur yang masih duduk di bangku kelas 6 MI atau SD di Kecamatan Candipuro serta dugaan perdagangan manusia (human trafficking) dilakukan terduga pelaku.

“Kami prihatin, miris d, an sangat kecewa adanya kejadian itu. Kami (LPAI) mengecam dan mengutuk keras terhadap para pelaku yang melakukan tindakan biadap kekerasan seksual terhadap korban Mawar (bukan nama sebenarnya) warga Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan,”kata Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Lampung, M. Zainuddin kepada teraslampung.com, Kamis (25/11/2021)

Zainuddin mengatakan, selain mengutuk keras perbuatan biadab yang dilakukan para pelaku tersebut, LPAI selaku lembaga yang selama aktif menjalankan kegiatan pemenuhan hak dan kepentingan terbaik untuk anak di Indonesia, mendesak Polres Lampung Selatan untuk segera membuktikan hal tersebut dan segera menetapkan para pelaku sebagai tersangka dan dilakukan penahanan, karena ini kasus asusila dan korbannya adalah anak dibawah umur.

Selain itu, pihaknya mendorong Polres Lampung Selatan agar para terduga pelaku tersebut dihukum secara optimal sesuai peraturan perundangan dan diberikan pemberatan hukuman, karena para terduga pelaku tersebut merupakan orang dewasa yang semestinya memberikan perlindungan aman terhadap anak sebagai korban kekerasan seksual.

“Kalau sudah jelas terbukti, maka harus segera mungkin menetapkan pelaku sebagai tersangka dan melakukan penahanan karena lebih cepat lebih baik. Kami mendorong proses hukum ini, agar dilakukan secepatnya dan meminta ada pemberatan hukuman terhadap para pelaku,”ujarnya.

Apalagi kasus ini, kata Zainuddin yang juga sebagai Ketua Dewan Pengawas LPAI Pusat, sudah dilaporkan dibagian Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Polres Lampung Selatan satu bulan lalu, kenapa tidak segera ditindaklanjuti laporan dari korban dan orangtua korban tersebut. Sementara pemeriksaan kesehatan dan visum sudah dilakukan, mestinya cepat menindaklanjutinya karena ini kasus asusila terhadap anak di bawah umur.

“Kita sudah punya Undang-Undang yang mengatur tentang permasalahan anak, mestinya pihak Polres Lampung Selatan langsung menindaklanjuti laporan tersebut dan kami akan mengawal kasus ini sampai tuntas”ungkapnya.

Dikatakannya, kasus anak dibawah umur ini, ada Undang-Undang sendiri yakni Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 atas perubahan UU No. 23 Tahun 2002. Sehingga untuk kasus anak tidak bisa disamakan seperti kasus kriminal lainnya, karena memiliki Undang-Undang sendiri yang mengatur tentang anak dan Indonesia sudah menerapkan itu.

“Bilamana ada kasus kekerasan seksual anak dan adanya laporan, maka aparat kepolisian harus segera menelusuri atau mengembangkan informasi yang dihimpun dari korban dan keluarga korban karena kasus anak ini memiliki Undang-Undang sendiri atau leks spesialis,”kata dia.

Apalagi pada saat awal, lanjut Zainuddin, ada petugas dari Polsek Candipuro sudah bertemu korban dan menanyakan langsung ke korban mengenai kejadian sebenarnya saat di rumah pelaku, harusnya saat itu pelaku diamankan dulu sambil mengembangkan kasusnya sesuai infromasi dari korban ada berapa lagi pelakunya. Tapi kenapa kasus kekerasan seksual terhadap anak tersebut, mau dilakukan rembuk pekon.

“Ini yang perlu ditanyakan, kenapa anggota Polsek itu tidak segera menahan pelaku. Apakah memang tidak paham UU Perlindungan Anak atau apa?. Memang benar untuk ditingkat Polsek belum ada bagian Unit PPA, mestinya anggota tersebut segera koordinasi dengan Polres Lampung Selatan yang ada Unit PPA-nya,”bebernya.

Ia menegaskan, pihaknya (LPAI) mengutuk keras tindakan biadap yang dilakukan para pelaku terhadap korban yang masih dibawah umur dan masih duduk dibangku sekolah warga Kecamatan Candipuro yang menjadi korban tindakan kekerasan seksual.

Selain itu juga, pihaknya meminta kepada pihak kepolisian Polres Lampung Selatan agar mengusut kasus tersebut termasuk wanita yang pertama membawa korban pergi ke pantai dan terduga pelaku lainnya, kaarena tidak menutup kemungkinan sebagai terduga pelaku muncikari.

“Kami berharap, kasus tersebut ditangani dengan serius oleh pihak Polres Lampung Selatan. Karena kita sendiri LPAI sudah ada kerjasama dengan Mabes Polri. Kami minta, terduga pelaku tersebut diberikan sanksi yang berat karena tindakan yang telah dilakukan terbilang kejam dan biadab,”terangnya.

Kemudian informasi yang kami dapat, kalau korban dikeluarkan dari sekolahnya tanpa alasan yang jelas inikan sangat miris sekali. Bagaimana kondisi psikis yang dialami korban, keluarga korban dan keluarga besar korban itu yang harus dipikirkan juga. Jika memang benar korban dikeluarkan dari sekolahnya, ini justru hal yang salah dilakukan oleh pihak sekolah yang seharusnya membela dan mendukung korban.

“Seharusnya yang dilakukan pihak sekolah, apa yang dibutuhkan pihak kepolisian untuk akurat data korban seperti identitas, akte kelahiran, KK dan ada bukti raport kalau korban benar masih sekolah dengan ditunjukkan bukti raport tersebut. Pihak sekolah harus membantu, bukan memberhentikan korban dari sekolahnya,”pungkasnya.

  • Bagikan