Beranda Hukum Dugaan Polisi Salah Tangkap, Kapolda Lampung Tuding ada Rekayasa Cerita Kematian Tarmuzi

Dugaan Polisi Salah Tangkap, Kapolda Lampung Tuding ada Rekayasa Cerita Kematian Tarmuzi

315
BERBAGI

Zainal Asikin/Teraslampung.com

Karti, istri almarhum Tarmuzi, didampingi kerabat dan pengacaranya saat bertemu dengan Kapolda Lampung, 23 Oktober 2015 lalu untuk meminta keadilan dan perlindungan.

BANDARLAMPUNG-Terkait kasus meninggalnya Tarmuzi (39) warga Pekon Pemerihan, Kecamatan Bengkunat Belimbing, Pesisir Barat karena dianiaya anggota polisi. Kapolda Lampung Brigjen Pol Edwar Syah Pernong menuding bahwa adanya rekayasa cerita dalam kasus tersebut.

“ada yang mengarahkan para saksi saat memberikan kesaksian di kepolsian, kami tidak bisa sebutkan siapa orangnya. Yang jelas, orangnya sudah diketahui dan diidentifikasi,”kata Edwar, Sabtu
(31/10).

Jendral Bintang Satu ini mengutarakan, adanya rekayasa cerita ini terungkap, setelah petugas dari Propam dan tim yang dipimpin oleh Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Kombes Pol Zarialdi, turun langsung ke lokasi tempat kejadian perkara (TKP) di wilayah Kabupaten Pesisir Barat melakukan penyelidikan. (BacaKorban Salah Tangkap dan Dugaan Penganiayaan Oknum Polisi Akhirnya Meninggal

Tidak hanya itu saja, lanjut Edwar, petugas juga mendapatkan mbeberapa asukan-masukan dari masyarakat setempat.

Dari hasil penyelidikan, dapat diketahui siapa orang-orang yang sudah mengatur dan mengarahkan
para saksi ini untuk merekayasa cerita.

“Saksi ini sudah diarahkan, nanti kalau kamu ditanya dan ada yang tanya kamu harus begini dan seperti ini ya. Jadi orang ini, memberi arahan kepada para saksi keterangan yang tidak sebenarnya
terjadi,”terangnya.

Menurut Edward,  mereka meminta kepada orang-orang yang berada di sekitar lokasi kejadian perkara, agar menceritakan hal yang tidak sebenarnya kepada pihak yang menanyakan tentang
kematian Tarmuzi, sehingga kematian Tarmuzi yang tidak ada tindak pidananya, dibuat seolah-olah ada tindak pidananya.

“Itu merupakan suatu pelanggaran, dengan sengaja menyimpangkan maka menghambat proses penyidikan perbuatan pidana. Rekayasa kasus dan mengarahkan para saksi, menghambat proses
penyidikan karena dengan sengaja menyimpangkan persoalan yang sebenarnya. Orang-orang yang mengarahkan tidak benar ini, bisa dijerat dengan Pasal 371 KUHPidana tentang fitnah,”tuturnya.

Edward menjelaskan, dari Hasil investigasi secara internal, tidak ditemukan adanya kekerasan yang dilakukan polisi dan pemeriksaan terhadap Tarmuzi.

“Tarmuzi ini diambil dalam keadaan setengah sadar dan muntah-muntah. Tidak mungkin petugas periksa orang yang kondisi sedang muntah-muntah,”jelasnya.

Edwar menegaskan, bahwa meninggalnya Tarmuzi diakibatkan karena terjadianya kecelakaan tunggal, bukan diakibatkan adanya kekerasan yang dilakukan polisi. Tarmuzi dan Suparto mengendarai sepeda motor dari Bengkulu, melihat ada kegiatan selektif lalulintas karena rasa
ketakutannya keduanya berbalik arah ketika melihat polisi.

“Dalam kecepatan tinggi, keduanya menabrak salah satu pembatas trotoar hingga terlempar jatuh dari motor. Di lokasi kejadian banyak saksi masyarakat yang melihatnya, tapi mereka tidak berani membantu Tarmuzi. Karena pada saat dilihat, Tarmuzi kondisinya sudah ngorok saat terjatuh,”katanya.

Pada saat anggota polisi datang, kata Kapolda, Tarmuzi kondisinya masih dalam keadaan ngorok. Lalu petugas membawa Tarmuzi ke Rumah Sakit Umum Daerah Liwa di Lampung Barat, dalam perjalanan didalam mobil Tarmuzi muntah-muntah. (Baca: Terkait Tewasnya Gajah Yongki, Tiga Warga Jadi Korban Penganiyaan Polisi)

“Karena muntah-muntah, maka diberhentikan dulu di Polsek Biha, lalu dipanggilkan petugas medis. Begitu dicek oleh petugas medis, Tarmuzi harus segera dibawa ke Rumah Sakit,”ujarnya.

Petugas sudah menghubungi pihak keluarga Tarmuzi, namun keluarganya baru datang setelah dua hari Tarmuzi dirawat di Rumah Sakit.

“Itu pun mereka datangnya dengan membawa organisasi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),”tuturnya.

Ditambahkannya, pihaknya tidak memfokuskan masalah tersebut, menurutnya, saat ini para penyidik mengutamakan untuk pengungkapan kasus kematian gajah bernama Yongki di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Untuk hasil laboratorium gading gajah bernama Yongki, pihaknya belum menerimanya dan masih menunggu hasil dari uji lab tersebut.

“Kita melakukan agenda prioritas, yakni pengungkapan jual beli gading gajah, jaringannya dan selanjutnya pengungkapan terhadap orang-orang yang berusaha menghalanginya,”tandasnya.

Diketahui, Tarmuzi warga Pekon Pemerihan, Kecamatan Bengkunat Belimbing, Pesisir Barat, meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Abdoel Moeloek (RSUAM), pada Jumat (23/10/2015) lalu sekitar pukul 06.00 WIB akibat mengalami luka gegar otak.

Pihak keluarga Tarmuzi, menuding adanya kekerasan yang telah dilakukan polisi hingga Tarmuzi meninggal dunia. Tarmuzi dituduh sebagai pelaku pembunuh gajah Yongki, dalam proses introgasi polsi Lampung Barat diduga memukuli Tarmuzi hingga sampai gegar otak.

Selain Tarmuzi, polisi juga diduga melakukan kekerasan terhadap Suparto dalam proses
pemeriksaan.

Loading...