Beranda News Anakidah Dugaan Rekayasa Penggerebekan PSK di Padang, Gerindra akan Panggil Andre Rosiade

Dugaan Rekayasa Penggerebekan PSK di Padang, Gerindra akan Panggil Andre Rosiade

1270
BERBAGI
Andre Rosiade. Foto: Tempo.co

TERASLAMPUNG.COM — Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani mengatakan partainya akan memanggil Andre Rosiade terkait peristiwa penggerebekan pekerja seks komersial atau PSK di Padang, Sumatera Barat. Ketua Fraksi Partai Gerindra DPR RI ini mengatakan DPP Gerindra akan mengklarifikasi hal itu kepada Andre.

“Sebagai ketua fraksi dan sebagai sekjen saya akan panggil Pak Andre,” kata Muzani di kantor DPP Partai Gerindra, Ragunan, Jakarta Selatan, Kamis, 6 Februari 2020.

Muzani mengatakan dia akan meminta penjelasan komprehensif dari Andre agar lebih memahami persoalan tersebut. Sejauh ini, informasi yang dia terima masih sepotong-sepotong dari pemberitaan media.

Menurut Muzani, pemanggilan terhadap Andre akan dilakukan dalam waktu dekat. “Mungkin besok atau hari ini,” ujar dia.

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat ini belum memastikan tindak lanjut yang akan diambil Gerindra setelah mendengar keterangan Andre. Dia tak merinci apakah partai bakal memberi sanksi kepada legislator Gerindra dari dapil Sumatera Barat I itu.

“Saya akan dengarkan dulu apa yang dilakukan oleh dia, apa maksudnya dan seterusnya. Kami akan klarifikasi, kami akan konfirmasi supaya mendapatkan penjelasan umum secara utuh,” kata Muzani.

Andre Rosiade tengah disorot setelah peristiwa penggerebekan pekerja seks online di Padang, Sumatera Barat pada 26 Januari lalu. Kepolisian Daerah Sumatera Barat menyatakan penggerebekan itu dilakukan atas informasi dari Andre.

Baru-baru ini, polisi menetapkan pekerja seks berinisial NN itu sebagai tersangka. Sejumlah pihak pun mengkritik Andre Rosiade terkait ini. Dia dianggap melakukan penjebakan terhadap pekerja seks online tersebut.

Dugaan Rekayasa dan Bantahan Andre

Dilansir Tirto edisi Rabu, 5 Februari 2020, kasus ini bermula ketika pada 26 Januari 2020 NN bersama muncikasri bernama Afriyanto menuju ke Kyriad Bumiminang Hotel Padang.

Tiba di lokasi, seorang pelanggan bernegosiasi dengan Afriyanto, berikut nomor kamar dan tarif. Percakapan itu dilakukan sekitar pukul 12.00 WIB dan kesepakatan tercapai. Afriyanto mengantar NN hingga ke depan kamar nomor 606.

Di dalamnya sudah ada pelanggan yang menanti.

“Tamu itu bilang, tunggu jam 14, ya, kamar belum ready,” kata  NN menirukan.

Sang tamu sempat bertanya ulang soal harga kepada NN ketika di kamar. NN mengklaim dirinya tidak tahu siapa sang pemesan. Si tamu memiliki uang tunai Rp500 ribu, Rp300 ribu sisanya dijanjikan melalui transfer.

NN tidak masalah dengan itu, namun si tamu ternyata kembali merundingkan tarif. Orang ini mengaku internet banking miliknya tidak bisa digunakan dan menawarkan sisanya diberikan setelah ‘main’. Agar NN percaya, dia dipersilakan memegang telepon seluler si tamu.

“Aku jawab, ‘tidak bisa. Kalau mau, abang turun saja dahulu ambil uangnya,'” sambung dia. Akhirnya si tamu mengalah dan mengeluarkan Rp750 ribu. Lelaki itu meminta NN menanggalkan pakaiannya. NN lantas meletakkan pakaiannya di ujung kasur dekat jendela, kemudian si tamu mengajaknya ke kamar mandi.

Di tengah ‘permainan’, bel pintu berdering. Si tamu bilang yang memencet tombol pasti petugas kebersihan.

“Padahal kamar rapi,” kata NN.

NN mulai curiga dengan gelagat tamunya kali ini. Si tamu keluar kamar mandi dan mengambil pakaiannya. NN mengikuti tapi tidak ikut ambil baju. Dia mencari handuk, tapi tak ada. NN semakin curiga ada yang tidak beres. Usah berpakaian, “dia buka pintu, aku duduk di belakang dia.”

Yang ditakutkan NN terjadi. Mereka digerebek. Orang-orang–yang belakangan diketahui dari Subdit V Cyber Polda Sumatera Barat–berdatangan masuk kamar, ada pula yang membawa kamera. NN yang terhimpit pintu berlari ke kamar mandi dan berteriak tak mau keluar jika masih telanjang. Seorang wartawan perempuan lantas mengambilkannya pakaian.

Bagaimana dengan si tamu? Ternyata dia adalah bagian dari skenario penggerebekan. Tapi si tamu menghilang begitu pintu dibuka.

“Kalau memang niat gerebek aku, begitu ketuk pintu, wartawan ada, aku tidak bisa lari, tidak bisa bohong. Bukti ada, aku juga bawa kondom. Kenapa harus ‘pakai’ aku dulu?” aku NN, lalu mengatakan si tamu itu sudah pakai satu kondom. Kondom lain dibuang.

NN tak mengenal si tamu. Sama sekali. Tapi ia menaksir lelaki itu berusia 40an tahu.

“Saya tidak pernah bertanya,” katanya.

Kini NN mendekam di Rutan Polda Sumatera Barat. “Keduanya (NN dan Afriyanto) tersangka,” ujar Kabid Humas Polda Sumatera Barat Kombes Pol Stefanus Satake Bayu Setianto kepada reporter Tirto, Selasa (4/2/2020).

Penangkapan NN berdasar Laporan Polisi Nomor: LP/39/A/I/2020/SPKT SBR. Keduanya dijerat Pasal 27 ayat (1) juncto Pasal 45 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE juncto Pasal 296 KUHP juncto Pasal 506 KUHP.

Bak sudah jatuh tertimpa tangga, NN pun harus menanggung beban tambahan lantaran Selasa lalu suaminya datang menengok dan menyatakan ingin cerai.

Kepada Titro Andre mengaku penggerebekan itu dilakukan untuk membuktikan bahwa di Padang memang ada prostitusi online.

Ia juga mengaku turut hadir dalam penggerebekan itu.

Menurutnya, ia melakukan penggerebekan setelah ada laporan masyarakat soal prostusi online di Padang.

“Saya dipilih oleh masyarakat [di] 11 kota/kabupaten. Di Padang saya dapat 70 ribu suara. Karena saya besar dan lahir di sana, masyarakat melaporkan, maka jadi perhatian saya. Masak saya diam saja?” ujar Andre kepada reporter Tirto, Rabu (5/2/2020).

Pada 26 Januari, ia menginjak kota itu dan bertemu dengan masyarakat yang menunjukkan aplikasi MiChat.

“Setelah itu saya telepon polisi untuk minta back up. Kemudian datang Polisi Siber, saya perlihatkan aplikasi itu,” ujar Andre Andre mengaku memang awalnya dialah yang maju paling depan, sebagaimana yang direkam dalam video. Tapi ketika masuk kamar, polisi dan 25 wartawan yang didahukukan. Dia lantas mengklarifikasi ihwal NN yang ‘dipakai’ terlebih dahulu.

“Logika dia ‘dipakai’ itu tidak ada. Pertama, karena [kondom] utuh. Kedua, karena masyarakat (si tamu) tahu mau digerebek. Masak punya waktu untuk ‘pakai’?” imbuh Andre.

Tempo | Tirto

Berita asli Tirto.id: di sini.

Loading...