Beranda Views Opini Duka Lombok, Duka Kita Semua

Duka Lombok, Duka Kita Semua

530
BERBAGI

Oleh : Gunawan Handoko

”Minta tolong sekali, siapapun yang mendengar ini tolong sebarkan kalau ada tim, kami kebetulan berada di wilayah kabupaten Lombok Utara lingkungan Lekok Piko kecamatan Gangga. Disini hampir semua rata-rata terkena reruntuhan dan banyak memakan korban…Allahu Akbar….Ya Allah, bisa di bilang 90 persen rumah hancur disini. Minta tolong teman-teman yang mendengarkan ini. Wassalamu’ alaikum wr wb. Lekok Piko, kecamatan Gangga kabupaten Lombok Utara”. Itulah berita yang di kirim salah satu anggota relawan kemanusiaan yang saat ini berada di Lombok pada Senin, 06 Juli 2018.

Berita melalui berbagai media sosial telah cukup mewakili betapa porak-porandanya wilayah Lombok saat ini. Provinsi Nusa Tenggara Barat yang selama ini nampak tenang dan bersahabat, tiba-tiba di guncang gempa bumi yang dahsyat. Gempa berkekuatan 7,0 Skala Richter (SR) mendadak mengguncang wilayah Lombok, khususnya kabupaten Lombok Utara.

Meski tidak sedahsyat gempa bumi di Aceh beberapa tahun lalu, namun jumlah korban di Lombok, khususnya Lombok Utara cukup banyak berjatuhan akibat dari sulitnya tim SAR gabungan dalam melakukan evakuasi dan penyisiran akibat kondisi yang gelap dan komunikasi mati. Sementara gempa susulan terus saja terjadi yang berakibat bertambahnya jumlah korban maupun kerusakan. Dalam kegalauan hati, mereka hanya bisa saling pandang penuh tanya, siapa diantara mereka yang berlumur dosa, apa salah kita dan mengapa bencana tiba-tiba saja datang?

Kita tidak perlu memperdebatkan tentang tinjauan teologi, apakah bencana tersebut sebuah ujian, cobaan, peringatan, azab atau apapun namanya. Yang pasti, bencana ini terjadi semata-mata atas kehendak Tuhan dan Ia pasti telah mempunyai rencana lain di balik itu. Ini musibah kita bersama yang harus kita rasakan dan pikul secara bersama pula.

Dalam suasana seperti ini, sikap saling menyalahkan bukanlah hal yang bijak. Terlebih menjadikan bencana sebagai komoditas untuk kepentingan politik sesaat seperti bunyi status yang banyak beredar di media sosial, sungguh tindakan yang sangat tidak terpuji. Dalam kondisi seperti ini, selain bantuan makanan dan kesehatan, mereka sangat membutuhkan ketenangan dan kasih sayang, terlebih terhadap anak-anak dan para manula. Hal yang tidak kalah penting adalah memberikan pendampingan psikologi dalam recovery mental agar kembali bangkit dari rasa putus asa.

Di sinilah rasa dilematis seorang manusia di mulai, siapapun akan merasa miris ketika menyaksikan jasad manusia tertimbun bangunan dan tanah, ribuan manusia yang kehilangan rumah dan dipastikan dalam beberapa hari ke depan harus tidur ditenda-tenda darurat, rumah ibadah seperti masjid, mushola dan bangunan sosial lainnya.

Masih beruntung, masyarakat Lombok tidak serta merta protes, meski menjadi korban bencana. Sebagian besar lebih memilih pasrah dan meyakini bahwa semua ini terjadi karena musibah atau peringatan Illahi kepada umat manusia. Hanya saja barangkali yang mereka sesalkan, mengapa korban yang paling banyak justru di derita masyarakat yang masuk kategori sebagai ’yang lemah dan miskin’. Bukankah pada kenyataan sehari-hari mereka tergolong makhluk yang paling suci, pasrah dan tidak pernah menipu apalagi korupsi.

Sama halnya dengan masyarakat penghuni Gunung Merapi setiap kali menerima bencana, mereka tidak menampakkan rasa gelisah yang berlebihan. Mereka sangat percaya pada filsafat Cokro Manggilingan, yakni mengibaratkan hidup ini seperti putaran roda, kadang berada di bawah dan kadang di atas. Ketika terkena musibah, mereka menyadari bahwa posisi roda sedang berada dibawah yang suatu saat pasti akan berputar kembali ke posisi atas. Paham tersebut terbukti sangat ampuh dan mampu memberi kekuatan batin, membangkitkan semangat dan harapan bahwa pada suatu saat roda akan berputar.

Maka, sepahit apapun penderitaan yang menimpa diri, selalu masih ada asa dalam menatap ke depan. Boleh jadi filsafat ini juga dipercayai oleh masyarakat Lombok dalam menghadapi musibah saat ini. Kita semua berharap agar tim SAR dan berbagai pihak, khususnya Pemerintah segera dapat memberi pertolongan dan bantuan dengan baik, khususnya logistik makanan dan kesehatan. Pemerintah provinsi NTB harus cekatan dan tidak boleh gamang.

Kalau hanya untuk sekadar menyalurkan bantuan kemanusiaan, tentu tidak harus menunggu laporan rinci dari para camat seperti yang sering terjadi di berbagai daerah selama ini. Karena laporan dianggap masih mentah, maka pendistribusian bantuan pun terpaksa ditunda. Padahal korban bencana sudah menahan lapar berhari-hari.

Tidak ada salahnya untuk segera menerjunkan TNI, karena institusi TNI lah yang selama ini terbukti paling sigap dan terkoordinasi dengan baik setiap kali menangani bencana. Semoga Tuhan memberi kesabaran kepada saudara kita di Lombok yang saat ini sedang mengalami musibah.***

*Pemerhati masalah Sosial, tinggal di Kota Bandar Lampung

Loading...