Dukana Juru Tulis Kampung

  • Bagikan

Isbedy Stiawan ZS

SYAHDAN Kampung Kelinci berkuasalah seorang kepala kampung. Namanya Mad Galih Panduwianata. Ia keturunan dari keluarga terpandang, sebab sang ayahanda adalah bekas Kepala Negeri Batu Gajah.

Kepala Kampun Kelinci Mad Galih Panduwinata dibantu oleh seorang juru tulis yakni Subrata Adipaduka, dan membawahi para tukang kebun yang bertanggung jawab pada bidang dan wilayah masing-masing.

Kepala Kebun, dalam struktur pemerintahan modern, disebut kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Selama ini, dalam struktur organisasi pemerintah, para tukang kebun harus melapor kepada Juru Tulis atau sebaliknya Juru Tulis Subrata Adipaduka wajib mengontrol bawahannya itu.

Nah, sejak berembus bakal adanya pemilihan kepala kampung (pilkakam) di Kampung Kelenci, masalah ini jadi berubah total. Apalagi sejak dikabarkan sang Juru Tulis juga akan maju dalam Pilkakam Kelinci; siap ‘berival’ dengan Kakam Mad Galih Panduwinata yang akan maju untuk periode kedua jika lolos.

Meski rakyat Kampung Kelinci naga-naganya menyambut hangat kehadiran Subrata, sang Juru Tulis, untuk menggantukan Mad Galih, namun hampir semua Tukang Kebun–maaf istilah ini saya meminjam dari Iwan J. Sastra, karib baik saya yang ‘bergaya seniman’ itu–mulai menjauhi Juru Tulis.

Mereka kelihatan takut jika dipanggil Juru Tulis. Ketakutan para Tukang Kebun sesungguhnya hanya sepele. Kalau kehadirannya atau kerap bertatap muka dengan Juru Tulis, dan diketahui Mad Galih Panduwinata maka alamat akan dicopot dari jabatannya.

“Kini mata-mata Mad Galih di mana-mana. Di dinding gedung ini saja ada telinga dan mata,” kata Jadruk, salah satu Tukang Kebun.

Bisa dibayangkan, kata dia lagi, jika mata-mata itu melapor ke kepala kampung, selain pencopotan jabatan juga pengambilalihan kebun-kebun yang dikelola. “Kami akan kehilangan kebun, hilang mata pencarian dan kekuasaan,” kata Jadruk.

Itu sebabnya, Juru Tulis memaklumi, kalau akhir-akhir ini dirinya kesepian di tengah pikuk per-kampungan yang dipimpinnya. Sebagai motor bagi laju pemerintahan Kampung Kelinci, ia merasa ditinggalkan para Tukang Kebun.

Padahal, kata Subrata, dirinya harus mendengar apa yang telah dilakukan para Tukang Kebun dan menyimak keluhan mereka. “Kemudian saya cari solusi sebelum dilaporkan ke Kepala Kampung Kelinci,” ujar Subrata suatu senja saat mengobrol di Kedai Angkring Dusun Handak, seperti curhat ihwal dirinya belakangan ini.

Para Tukang Kebun belakangan ini mulai merapat kepada Kepala Kampung Kelinci Mad Galih Panduwinata. Meski mereka belum tentu mendukung dan menyokong Mad Galih tampil di panggung Pilkakam. Tetapi, sebab takut pada hantu pencopotan yang bisa terjadi kapan saja dan sifatnya dadakan.

Pelantikan pejabat di Kampung Kelinci–bahkan di Negeri Keratuan ini–selalu dadakan. Itu sebabnya, para calon dan pejabat di situ akhir-akhir ini teridap penyakit dag-dig-dug. Debar jantung yang keras, apakah akan dipromosikan memegang jabatan ataukah dicopot dari jabatan, dipindah ke kebun lain, maupun hanya menjadi staf ahli.

Begitulah, meski Pilkakam Kelinci digelar masih lama–mungkin saja tahun depan, namun aura politik mulai terasa memanas. Misalnya, kegiatan perayaan hari besar bisa dilaksanakan di dua tempat.

Satu acara diprakarsia sang Juru Tulis. Didukung masyarakat dan pergerakan pemuda di kampung itu. Di tempat terpisah acara dilaksanakan oleh Kepala Kampung Kelinci, dan kegiatan ini diklaim legal.

Sejak Juru Tulis mau maju menjadi Kepala Kampung, Mad Galih Panduwinata selalu jalan sendiri. Ide-ide–atau gagasan–sang Juru Tulis kerap dimentahkan.

“Heran saya, kalau ide dari Juru Tulis tak mau support, walaupun ide itu bagus. Aneh bin ajaib,” keluh Juru Tulis pada kesempatan lain.

Juru Tulis ini memang brilian. Banyak ide yang digelontorkan demi pembangunan Kampung Kelinci. Dari soal sumberdaya alam, pariwisata, senibudaya, religi, hingga sumberdaya manusia semisal membuka ruang-ruang kreativitas dan perekonomian rakyat, dan sebagainya.

Pendek kata, ujar karib saya Penghulu Negeri di situ, Juru Tulis tak habis-habis meluncurkan gagasan. Dia juga dikenal sangat dekat dengan warga Kampung Kelinci.

“Kedekatan sang Juru Tulis, bukan lipstik. Bukan pula politis. Tetapi keakraban manusiawi,” kata Penghulu Negeri.

Tidak berlebihan, Juru Tulis memang selalu dekat dengan siapa saja; pejabat di Kampung Kelinci, maupun warga biasa: pedagang cendol, angkringan, seniman, pemuda, pengangguran, dan abang-abang becak.

Sang Juru Tulis, Subrata, adalah figur tokoh masa depan di Kampung Kelinci ini. Kenapa tidak?

Kalau diingat-ingat ketaharmonisan Kepala Kampung dengan Juru Tulisnya, sejak bawahannya ini sudah terang-terangan akan maju pada pilkakam. Artinya, ini peluang yang akan memoerkecil lajunya kesuksesan dalam politik kampung.

Padahal, cerita Juru Tulis, dulunya saat harmonis keduanya bagaiksn kembar. Ke mana ada Mad Galih di situ ada Subrata. Kedua pejabat teras Kampung Kelinci saling memuji. Keduanya bahu membahu bangun kampung.

“Sekarang mereka seperti suami isteri yang telah bercerai. Karenanya para Tukang Kebun amat hati-hati mendekati Juru Tulis, kuatir dianggap membelot dan ujungnya dicopof dari jabatan Tekung Kebun,” kata penghulu lagi.

Akhir cerita, Juru Tulis saat ini benar-benar dukana. Meski niat untuk mengikuti pilkakam tak pernah luntur. Pertarungan sejati, kalau ini benar dianggap bertarung, di ring pilkakam. Siapa menang harus diterima kemenangannya, dan yang kalah kalau mungkin bisa dirangkul.

Itulah politik santun. Jauh dari dendam dan apa pun yang bakal menyengsarakan warga.*

  • Bagikan