Beranda Kolom Sepak Pojok Dukung Herman HN, Cara PDIP Perbaiki Kesalahan di Pilgub Lampung

Dukung Herman HN, Cara PDIP Perbaiki Kesalahan di Pilgub Lampung

872
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Menjadi partai pemenang pemilu tetapi gagal mendudukkan jagonya pada pilkada itu hal yang menyakitkan. Setidaknya akan memalukan di mata publik. Dan itulah yang pernah dialami PDIP saat gagal pada Pilgub Lampung 2014. Ketika itu, pasangan yang dijagokan PDIP — Berlian Tihang dan Mukhlis Basri — hanya menempati peringkat ketika perolehan suara dan kalah telak dari pasangan Ridho Ficardo – Bakhtiar Basri.

Saat itu, kekalahan Berlian Tihang – Mukhlis Basri sudah bisa dibaca sejak awal: Mukhlis Basri mungkin dikenal sebagai kader PDIP dan sukses di Lampung Barat, tetapi siapa Berlian Tihang? Berlian adalah pejabat karier yang pernah menempati posisi puncak karier seorang PNS di level provinsi: Sekda Provinsi Lampung.

Namun, karier puncak seorang pejabat karier di daerah tidak secara otomatis ia akan dikenal luas, punya akar yang kuat dan jelas di masyarakat, dan memiliki tingkat keterpilihan yang tinggi. Saat itu, barangkali Ketua DPD PDIP Lampung Sjachroedin ZP ingin mengulang kisah sukses dirinya yang menang Pilgub karena menggandeng pejabat karier Djoko Umar Said.

Sementara itu, di arus bawah PDIP saat itu sudah berkembang wacana Herman HN yang akan mereka dukung. Herman HN harus gigit jari dan terpaksa mencari pasangan lain, Zainudin Hasan, dari PAN. Saat itu, Herman HN dan Zainudin Hasan (tepatnya dengan PAN) sama-sama bersimbiosis mutualisme: tanpa sokongan dukungan dari PAN, Herman HN terancam gagal maju Pilgub lewat jalur partai. Sedangkan Zainudin Hasan beruntung digandeng Herman HN karena popularitas Herman saat itu jauh di atas Zainudin Hasan.

Kader PDIP — juga publik awam seperti saya — tidak pernah tahu apakah suara-suara yang masuk ke DPP PDIP untuk dijagokan pada Pilgub Lampung sempati disaring dan diverifikasi atau tidak. Yang pasti, secara kasat mata, publik awam seperti saya pada 2014 lalu membaca pilihan PDIP saat itu kurang pas.

Nuansa berbeda sepertinya terjadi pada “musim Pilgub” 2018. Beberapa bulan sebelum wacana jago yang akan maju pada Pilgub Lampung 2018 marak di media massa, PDIP menunjuk Bambang D.H. sebagai pelaksana tugas Ketua PDIP Lampung. Ia menggantikan posisi mantan Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. Meskipun hanya sebentar menjadi nakhoda PDIP di Lampung, Bambang D.H. rupanya bisa menjadi “mata dan telinga” DPP PDIP. Ia mungkin belum sempat mengenal karakter para elite pengurus PDIP Lampung dan jajaran pengurus DPC PDIP di Lampung. Namun, ia sudah bisa membaca hal-hal tampak yang kemudian dijadikannya referensi dan inferensi untuk memberikan masukan kepada DPP PDIP.

Maka itu, ketika DPP PDIP pada akhirnya memutuskan mengusung Herman HN untuk menjadi calon gubernur Lampung pada pemilihan Gubernur Lampung 2018, sebenarnya keputusan itu tidaklah istimewa. Terutama ketika SK terkait penetapan Herman HN sebagai bakal calon Gubernur Lampung ditandatangani oleh  Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto dan Ketua Bidang Pemilu DPP Bambang D.H. 

Saya melihat faktor Bambang D.H. menjadi penting dalam konteks ini, sebab dia adalah satu-satunya pengurus DPP PDIP yang sempat menjadi nakhoda PDIP Lampung. Ia tentu saja lebih paham geliat politik dan pembangunan Lampung termutakhir dibanding pengurus DPP PDIP lainnya. Di luar itu — ini justru yang terpenting — PDIP sepertinya hendak memperbaiki kesalahannya pada masa lalu (Pilgub Lampung 2014).

Bagi orang awam yang berdiri di luar pagar seperti saya, penunjukan Herman HN sebagai bakal calon Gubernur Lampung pada Pilgub 2018 tidak begitu aneh. Akan menjadi aneh dan lucu — sekaligus menyiratkan suuzon yang besar — seandainya PDIP memercayakan perahunya untuk berlayar di samudera Pilgub Lampung kepada, misalnya, Arinal Djunaidi.

Masalahnya, perahu hanyalah syarat awal. Selebihnya adalah kerja keras dan nasib baik. Mendapatkan perahu PDIP hanyalah langkah awal Herman HN bisa lebih ringan melangkah ke palagan Pilgub Lampung. Ia bisa saja kalah atau terserimpung di tengah jalan jika terlalu ceroboh, terlampau jumawa, terlalu percaya pada sikap a-be-es (asal bapak senang) para ‘prajurit di lapangan’.