Beranda Views Kopi Pagi Dul Pakir, Sawung Kampret, Don Ndruhun

Dul Pakir, Sawung Kampret, Don Ndruhun

37
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Seumur-umur Dul Pakir kerjanya menulis. Kawan-kawannya menyebut Dul Pakir penulis. Dul pakir rajin membuat cerita pendek. Maka Dul Pakir disebut cerpenis juga.

Tulisan-tulisan Dul Pakir berstruktur puisi tersebar di aneka koran dan buku antologi, sehingga Dul Pakir juga disebut  penyair. Dul Pakir juga membuat skenario sinetron, novel, dan film. Oh hiya, Dul Pakir juga mengajar di perguruan tinggi, mengajari mahasiswa menulis kreatif.

“Saya manusia bebas!” kata Dul Pakir, dalam hati, ketika menjejakkan pertama kali kakinya di dunia tulis-menulisi, beberapa puluh tahun lalu.

“Tapi kamu perlu ngempanin anak istri Dul! Kamu perlu rumah bagus, mobil bagus yang suaranya ‘wus-wus wus nyaris tak terdengar’, perlu pumpunan rekening di bank, butuh koleksi kartu kredit agar istrimu tak repot kalau belanja di mal…” kata suara dari sudut lain hati Dul.

Kreativitas bagi Dul adalah sebangun dengan setiap helaan napas. Untuk ukuran waktu, sekali menghela napas, itulah satu kreavitas. Mungkin sama dengan nilai waktu dan uang bagi orang sekelas Goenawan Mohammad, Jacob Oetama, Dahlan Iskan, Gita Wirjawan. Kalau Dul sekali tarikan napas mungkin satu frasa karya, maka bagi Dahlan Iskan satu tarikan napas mungkin berarti “Rp” sekian miliar. Maklum saja, Meneg BUMN itu punya usaha guedi sekali, asetnya banyak.

Begitulah Dul memaknai kreativitas. Tiap tarikan napas adalah kreativitas. Seperti seorang zuhud yang memaknai setiap tarikan napas adalah ngibadah kepada Gusti Allah.

Tapi akhir-akhir ini Dul sering tergoda oleh bujuk rayu teman-temannya Sebagian besar teman-temannya itu kesejahteraan melesat bak meteor. Dulu si Sawung Kampret yang ke mana-mana jalan kaki, sekarang tumpakannya sudah mobil keluaran terbaru yang lus mulus.

Mat Tampol yang ngomongnya saja terbata-mata dan sering disebut sebagai “The Man of Rancu” karena logikanya sering enggak lempeng, sekarang sudah punya rumah mewah 10 lantai di pinggiran kota. Kebun karet dan sawitnya ribuan hektare tersebar di Way Kanan, Mesuji, hingga ke Ogan Komering Ilir.

Mereka itulah yang akhir-akhir ini sering merayu Dul Pakir untuk berkomplot merampok nikmat dunia. Bila perlu merampok hati di Dul sekalian agar tidak melulu bertanya kata hatinya jika akan melakukan pekerjaan atau bahkan mendapatkan rejeki nomplok.

“Sudah, kalian pergi saja dari rumah saya! Jangan cas-cis-cus di rumahku hanya untuk merayuku agar aku seperti kalian!” teriak  Dul Pakir ketika Sawung Kampret dan ke rumahnya untuk menyampaikan pesan Don Ndruhun.

“Plisssss…nyantai saja bro…. Jangan teriak-teriak begitu. Ini pekerjaan gampang. Seperti kamu menghela napas dan mengembuskannya, beberapa detik saja. Kamu bikin kalimat-kalimat indah. Kalimat seperti yang akhir-akhir ini dibuat oleh Don Ndruhun. Puitis sekaligus prosais. Genre baru begitulah. Honornya bisa kamu pakai merehab rumahmu ini. Rp 150 juta bro! Mana ada  hare gene bisa dapat dui semudah meludah?” Sawung Kampret berusaha terus merayu.

Dul Pakir tepekur di kursi reyot. Kopinya nyaris tumpal karena tersenggol tangannya saat Dul hendak memperbaiki posisi duduk.

“Kerjamu gampang sekali. Hanya menyerahkan dirimu untuk menjadi orang yang mengikuti proses kreatif Don Druhun. Kamu sudah besar, berpura-puralah sedikit kau kalah dengan Don Ndruhun. Dia ingin agar Presiden dan para menteri menoleh ke arahnya. Dia perlu embel-embel satu satu untuk bisa ditoleh: ‘Tokoh Digjaya Tiada Tanding di Dunia Tulis’. Nah, kalau orang sekelas kamu saja menjadi pengikut dia, artinya dia benar-benar tokoh. Ayolah bro…Rp 150 juta!”

Emosi Dul Pakir mulai mereda. Ia seruput kopi pahit yang mulai dingin.

“Ini baru permulaan bro. Awalan. Cengkremeye. Nanti, tidak menutup kemungkinan Don Ndruhun akan mengirim Rubicon. Itu kalau kamu mau. Kerjamu nanti juga gampang. Jadi tim sukses Don Ndruhun. Don Ndruhun ingin jadi menteri.Eh, mungkin inin nyapres juga. Mentok-mentoknya jadi tangan kanannya presiden.  Ia perlu tim media yang kuat agar banyak yang menoleh kepadanya. Kamu tak perlu pakai otakmu. Kamu tinggal ikut wira-wira, rapat ini-itu. Kehadiranmu saja sudah sangat bernilai….” Sawung Kampret terus nerocos.

Dul Pakir menarik napas. Dadanya terasa sesak.  Matanya berat. Otaknya hang. Seluruh persendiannya lemas. Ia ingin sekali tidur.