Beranda Views Kopi Pagi Dunia Kita, “Keluarga” Model Baru

Dunia Kita, “Keluarga” Model Baru

192
BERBAGI
Nusa Putra 
Manusia terus berubah sepanjang waktu. Sangat banyak pemicu
perubahan itu. Perubahan iklim memengaruhi pola dan kebiasaan hidup manusia.
Perubahan sistem ekonomi, dari pertanian ke industri, secara revolusioner,
mengubah manusia. Perkembangan cara berpikir juga mengubah pola fikir dan
perilaku manusia. Itulah sebabnya kita mengenal beragam istilah tentang
manusia, manusia tradisional, menusua modern, manusia zaman es, manusia
agraris, manusia teknologis dan beragam istilah lain.
Dalam arus perubahan yang bersifat niscaya itu terkadang ada
kejadian yang berulang. Seperti siklus. Namun, meski terulang pastilah ada
perubahan dan perbedaan. Salah satu kejadian yang rasanya terulang namun dengan
banyak perbedaan adalah percintaan manusia sejenis.
Dalam kitab suci tertera kisah percintaan manusia sejenis yang
berakibat kehancuran suatu kaum sebagai bentuk hukuman dari Tuhan. Percintaan
antar manusia dinyatakan normal dan sesuai dengan tradisi dan kemuliaan bila
dilakukan oleh yang berlainan jenis. Itulah sebabnya percintaan antara sesama
jenis dinyatakan sebagai pelanggaran norma, ditentang dalam semua agama dan
banyak tradisi di seluruh dunia.
Namun, percintaan sejenis ternyata tak pernah mati. Bahkan
sekarang ini cenderung menjadi semakin banyak yang ikut serta dan berani
menunjukkan hubungan itu di depan publik. Kerap dengan cara yang sangat
menonjol dan menarik perhatian.
Pada 1989 saat melakukan penelitian kualitatif tentang kebiasaan
tawuran anak sekolah di Jakarta, aku sempat melakukan penelitian tentang sejumlah
siswi SMA yang melakukan percintaan sejenis dengan mahasiswi. Kala itu mereka
membentuk kelompok yang sangat tertutup yang dengan sengaja dirahasiakan.
Ada sejumlah persyaratan sangat berat dan ketat yang harus
dipenuhi untuk masuk ke kelompok itu. Mirip kelompok mafia. Di rumah dan di
sekolah/kampus, para remaja yang melakukan hubungan sejenis ini menyembunyikan
kebiasaannya dan berusaha bersikap normal. Mereka sungguh tidak mau orang lain
tahu tentang dirinya yang sebenarnya.
Mereka tidak berani terbuka karena menyadari bahwa masyarakat
bukan saja tidak menyukai, bahkan membenci, menghujat dan menyerang mereka
secara terbuka. Jika berani tunjukkan secara terbuka kebiasaan melakukan
hubungan sejenis, mereka pasti dilecehkan dan dihina.
Kini semuanya telah berubah. Para pecinta sejenis berani secara
terbuka menunjukpamerkan kepada publik aktivitas kebersamaan mereka, bahkan
seringkali dengan cara yang bagi sebagian orang terasa mengganggu dan
menjijikkan. Biasanya mereka sengaja memilih menunjukkan itu di keramaian
seperti mal, pagelaran musik, dan tempat wisata.
Di Bali ada club khusus kaum gay. Setiap malam dipenuhi pecinta
sejenis dalam acara yang meriah dengan musik dan alkohol. Di berbagai klub
malam dan diskotik para pecinta sejenis berani tampil dan beraktivitas dalam
kelompok-kelompok kecil. Semuanya serba terbuka, tak lagi sembunyi-sembunyi
secara rahasia.
Di sejumlah tempat di Jakarta muncul tempat-tempat berkumpul
para pecinta sejenis. Ada yang di pinggiran jalan. Beberapa di antara mereka
bahkan melakukan praktik menjajakan diri khusus untuk melayani kaum sejenis.
Inilah dunia kita. Dunia yang semakin sulit dimengeri, semakin rumit,
acak-acakan dan semrawut.
Di sejumlah mal, beberapa gay bahkan berani menggoda lelaki yang
menarik perhatian mereka. Para gay itu berani mengikuti lelaki tersebut ke
toilet dan menggodanya. Kerap terjadi perselisihan, karena yang digoda tidak
terima dan merasa terganggu.
Di mal-mal megah Jakarta semakin banyak pasangan sejenis jalan
bersama menunjukkan kemesraan. Suatu kali ada pemandangan yang sungguh
mencengangkan dan menimbulkan keheranan.
Dua lelaki, yang satu pemuda pribumi dan ganteng, pasangannya
lelaki bule berusia di atas lima puluhan. Lelaki bule memegang jemari si pemuda
dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya mendorong kereta bayi. Ia tampak
mendorong kereta bayi itu dengan sangat hati-hati sambil berbicara dengan isi
kereta. Ia tampak bermain ekspresi dengan penghuni isi kereta. Saat akan
berbelok jalan, si bule itu mendorong kereta bayi dengan sangat hati-hati.
Tampak sekali ia ingin penghuni isi kereta itu tidak terganggu. Sementara si
pemuda memegang pundak si bule dengan lembut.
Sungguh mereka menunjukkan keakraban pasangan suami istri,
dengan seorang bayi di dalam kereta bayi. Mereka memperlakukan bayi itu dengan
lembut dan hati-hati. Ternyata isi kereta itu adalah boneka bayi, bukan bayi
sungguhan. Mereka tampaknya menghayati hidup sebagai sepasang suami istri,
sebuah “keluarga”.
Pasangan sejenis tampil mesra di depan publik kini semakin
banyak dan biasa. Namun, pasangan sejenis tampil di depan publik sambil membawa
kereta bayi dan berisi boneka bayi rasanya menunjukkan sesuatu yang sama sekali
berbeda.
Cara mereka memperlakukan boneka bayi yang penuh kelembutan dan
kehati-hatian sebagaimana layaknya memperlakukan seorang bayi sungguhan,
menegaskan mereka menghayati hidup sebagi sebuah “keluarga” tentu
saja “keluarga model baru”. Tentu saja ini sebuah paradigma baru
kehidupan keluarga.
Kita sebagai orang yang berbeda dengan mereka, sungguh sangat
sulit  memahami penghayatan hidup mereka. Boleh jadi, ada di antara
pasangan sejenis itu memang sangat merindukan kehidupan keluarga yang
sesungguhnya, ada kehadiran buah hati sebagai ujud dan pengikat rasa cinta.
Tidak gampang bagi mereka untuk mengadopsi anak.
Fenomena yang terpapar di atas mungkin merupakan sebuah
penegasan tentang sifat hakiki manusia. Bisa saja manusia hidup tidak seperti
manusia pada umumnya. Mereka hanya tertarik pada manusia sejenis. Entah apa
alasan dan pemicunya. Namun, pada titik tertentu dalam kehidupannya, keinginan
manusia pada umumnya juga memenuhi ruang hati mereka. Kerinduan pada anak
muncul sebagai sesuatu yang tak terelakkan. Karena tak mungkin memenuhinya,
muncullah kehadiran boneka sebagai pengganti.
Para ilmuan, apakah psikolog, sosiolog, neurolog, bahkan filsuf
boleh dan bisa saja memberikan penjelasan tentang fenomena ini. Beragam
penjelasan dapat diberikan untuk mengurai mengapa ini bisa terjadi. Namun, satu
hal menjadi sangat jelas: MANUSIA MEMANG TAK MUNGKIN MEMUNGKIRI KODRAT HAKIKINYA.