Beranda Hukum Edi Santoso Dibawa Densus 88 Hanya Pakai Celana Pendek dan Kaos Singlet

Edi Santoso Dibawa Densus 88 Hanya Pakai Celana Pendek dan Kaos Singlet

132
BERBAGI
Suasana di depan rumah Supartinah, orangtua Edi Santoso di Jalan Selat Malaka 5, RT 08 Kampung Teluk Jaya, Kelurahan Panjang Selatan, Selasa (2/2/2016) malam, saat sekitar 10 anggota Densus 88 menggerebek Edi dan menggeledah rumah tersebut.

Zainal Asikin/Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror menggerebek rumah terduga teroris di Jalan Selat Malaka 5, RT 08 Kampung Teluk Jaya, Kelurahan Panjang Selatan, Selasa (2/2/2016) sore lalu sekitar pukul 16.30 WIB.

Dari dalam rumah tersebut, Densus 88 Antiteror menangkap Edi Santoso alias Sukri (40). Penangkapan tersebut, Edi diduga sebagai jaringan teroris Sansoto di Poso dan ahli dalam merakit bom. Selain itu juga, Edi Santoso pernah terlibat aksi perampokan bank di daerah Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu.

Ketua RT 8 LK II Kampung Teluk Jaya, Kelurahan Panjang Selatan, Tomi (48) mengatakan, sebelum Edi Santoso yang diduga sebagai jaringan teroris. Awalnya ada yang datang 10 orang membawa dua kendaraan mobil PLN dan mobil kijang Inova warna hitam, Selasa (2/2/2016) sore lalu sekitar pukul 15.30 WIB.

“Orang-orang itu, datang kerumah saya mengaku petugas dari PLN dan mengatakan mau ada oval. Lalu saya minta tunjukkan suratnya, mereka menunjukkan surat tugasnya yang Kop suratnya juga berlogo PLN,”kata Tomi kepada teraslampung.com saat ditemui di rumahnya, Rabu (3/2/2016).

Dari 10 orang yang datang itu, dua orang mengecek termis atau meteran listrik, lalu mengecek ke dalam ruangan yang ada di dalam rumahnya. Sementara beberapa orang lainya, menunggu di luar sembari duduk di teras rumah.

“Mereka bilang, kalau rumah saya aman dan tidak ada masalah dengan PLN. Lalu mereka meminta izin lagi, untuk mengecek listrik yang ada di depan rumah saya milik ibu Siti. Setelah dicek, rumah Siti juga tidak ada masalah,”ujarnya.

SIMAK: Densus 88 Mabes Polri Gerebek Rumah Terduga Teroris Edi Santoso di Bandarlampung

Tomi mengutarakan, mereka menanyakan kembali mau mengecek listik di rumah ibu Supartinah, yakni orangtua dari Edi Santoso. Di dalam rumah itu, ia melihatnya cuma ada Ibu Supartinah saja. Lalu mereka mengecek seluruh ruangan rumah tersebut, setelah di cek di ruangan dapur ada Edi Susanto.

“Begitu melihat Edi ada di belakang, lalu satu orang dari mereka menarik tangan saya keluar dari rumah dan bilang ‘pak RT cepat amankan warga’ dari situ saya baru tahu kalau orang yang datang mengaku orang PLN itu adalah polisi,”ungkapnya.

Setelah itu, kata Tomi, ia berlari menuju ke rumahnya untuk mengamankan anak istrinya. Ketika dirumah, anak dan istrinya sudah tidak ada di rumahnya. Ternyata anak dan istrinya sudah diamankan oleh polisi (Densus), lalu ia lari lagi kerumah warga-warga lainnya untuk segera mengosongkan rumahnya.

“Setelah warga saya beritahu, lalu saya di tarik lagi sama petugas itu suruh sembunyi di balik mobil PLN yang dibawa sama mereka. Lalu mereka mengambil senjata laras pendek yang ditaruh di dalam mobil PLN dan Kijang Inova,”kata Tomi.


SIMAK: Edi Santoso Pernah Masuk Jaringan Teroris MIB dan MIT

Selanjutnya, Edi Santoso dibawa keluar sama puluhan petugas bersenjata lengkap itu. Saat dibawa, Edi Santoso mengenakan kaos singlet, celana pendek dan menggunakan kain sarung.

“Tapi saya enggak tahu Edi itu terus dibawa ke mana sama petugas itu,  setelah itu barulah petugas kepolisian dari Polsek Panjang dan Polres ramai datang,”jelasnya.

Menurutnya, sejak Edi Santoso ditangkap, kakak Edi bernama Kartini bersama anaknya Sopana yang masih duduk di bangku SMP hingga saat ini belum diketahui keberadaannya. Nomor ponselnya juga tidak bisa dihubungi lagi.

Sementara Supartinah, ibunya Edi, sampai saat ini kondisinya masih terlihat lemah. Ia syok dan belum bisa diajak komunikasi banyak.

BACA: Terduga Teroris yang Digerebek di Bandarlampung Diduga Anggota Jaringan Santoso

“Dia (Supartinah) hanya menanyakan ke mana Edi. Ia mengaku kasihan sama Edi karena saat dibawa pergi tim Densus 88 masih dalam kondisi sakit,” katanya.

Tomi mengaku tidak mengetahui secara pasti bagaimana keseharian Edi Santoso. Sebab, katanya,  Edi pendiam.

“Istilah orang Jawanya “ngidak telek wae ora penyet” (menginjak kotoran ayam saja kotoran ayamnya tidak hancur) atau sangat pendiam. Istilahnya kalau nggak disentil atau diajak bicara orangnya ya nggak mau bicara saking pendiamnya,” kata Tomi.