Beranda Ruwa Jurai Lampung Utara Eks Anggota Gafatar Berharap Pemerintah Perhatikan Nasib Mereka

Eks Anggota Gafatar Berharap Pemerintah Perhatikan Nasib Mereka

93
BERBAGI
Sudaryanto (31), salah satu kepala keluarga eks. anggota Gafatar ‎menyampaikan harapannya agar Pemkab mau memperhatikan nasib mereka pasca dipulangkan dari Kalimantan Barat

Feaby/Teraslampung.com

Kotabumi–Para eks pengikut Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) Lampung Utara yang baru saja dipulangkan dari Kalimantan Barat berharap pemerintah memperhatikan nasib mereka. Sebab, mereka sama sekali tak tempat tinggal dan mata pencarian usai dipulangkan dari pulau Borneo tersebut.

“Selain tempat tinggal dan pekerjaan yang memang sudah enggak ada lagi, yang paling penting kami mau masyarakat dapat menerima kehadiran kami lagi dengan lapang dada,” kata Sudaryanto (31), salah satu kepala keluarga eks. anggota Gafatar yang sebelumnya tinggal di Desa Sedahan Jaya, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat sebelum dipulangkan ke Lampung Utara.

Bapak dua puteri ini mengaku tak memiliki rumah lagi untuk ditempati dirinya beserta anak dan isterinya selepas rumahnya dijual untuk modal hidup di Kalimantan Barat. Kepergiannya beserta keluarga kecilnya itu selain untuk mencari penghidupan yang layak tapi juga untuk mengikuti program kedaulatan pangan dari Gafatar yang diikutinya.

“Salah satu program Gafatar itu kedaulatan pangan yang intinya harus bertani. Makanya saya diajak ke sana oleh pak Dedi yang menjadi perintis di Kayong Utara,” kisahnya.


BACA: Anggota Gafatar Lampung yang Masih di Kalimantan Masih Ratusan Orang

Kendati bertujuan untuk merealisasikan program kedaulatan pangan dari Gafatar, namun lahan yang menjadi mata pencariannya tersebut tak disediakan gratis oleh Gafatar melainkan dibelinya sendiri menggunakan uang hasil penjualan barang berharga yang dimilikinya di tempat asal. Harga lahan di sana juga masih terbilang murah jika dibandingkan di Lampung Utara. Satu hektar lahan di Kayong Utara hanya dihargai Rp1 juta.

“Waktu tiba di Kayong Utara, belum ada rumah dan lahan yang disediakan untuk kami. Jadi, tanah dan rumah itu kami beli dan buat sendiri menggunakan uang pribadi yang kami bawa,” terangnya.

Sudaryanto menyatakan, sejatinya ia sama sekali tak berkeinginan untuk pulang ke Lampung Utara. Namun dikarenakan ‘dipaksa’ pulang oleh aparat akibat tragedi di daerah Mempawah, ia tak mempunyai pilihan lain selain mengikuti instruksi tersebut. Namun jika pemerintah tak mau memperhatikan nasib para eks. pengikut Gafatar, ia mengancam akan kembali ke Kalimantan Barat.

“Kalau memang enggak diterima oleh masyarakat dan pemerintah tak mau perhatikan nasib kami, tentu lebih baik saya kembali ke sana. Di sana, saya masih punya aset berupa tanah dan rumah,” ancam dia.

Harapan sama juga diutarakan oleh Rian (28), eks. pengikut Gafatar lainnya. Ia sangat berharap, Pemkab mau menyediakan tempat tinggal berikut lahan yang dapat digarapnya untuk menghidupi keluarga kecilnya. Sebab, kepulangan para eks. pengikut Gafatar ke tempat asal mereka masing – masing ini bukan atas kemauan sendiri melainkan atas kemauan pemerintah.

“Harapan saya, kalau bisa, saya dan keluarga kecil saya dapat hidup di Lampung. Jangan sampai terlantar,” pintanya.

Loading...