Beranda Teras Berita Ekstremitas dan Absurditas ISIS

Ekstremitas dan Absurditas ISIS

205
BERBAGI
Oleh Satrio Arismunandar*

Gerak maju kelompok radikal
ISIS (Negara Islam di Irak dan Suriah) dan kabar tentang perekrutan warga
Indonesia untuk menjadi anggota pasukan ISIS telah meramaikan pemberitaan media
nasional akhir-akhir ini. Kehebohan muncul karena ISIS menghadirkan berbagai
dimensi, yang tidak muncul dalam gerakan-gerakan radikal Islam lainnya di Timur
Tengah, seperti Al-Qaeda, misalnya.
ISIS
kini telah memiliki tiga unsur yang menjadi syarat berdirinya suatu negara:
memiliki rakyat, wilayah kekuasaan, dan pemerintahan sendiri. Rakyatnya adalah
para pendukung militan dan warga Muslim Sunni. Wilayahnya adalah sebagian
wilayah Irak dan Suriah yang sudah dikuasai. Sedangkan pemerintahannya sudah
dideklarasikan, berbentuk kekhalifahan, di bawah pimpinan Abu Bakr el-Baghdadi.
Asal
mula keberadaan ISIS bisa dirunut ke kelompok Al-Qaeda Irak yang didirikan Abu
Musab al-Zarqawi, yang tewas dibunuh oleh agen intelijen AS dan Irak. Posisi
Zarqawi lalu digantikan oleh Abu Ayyoub al-Masri yang berasal dari Mesir. Tapi
Masri kemudian juga dibunuh oleh militer AS dan Irak. Maka Abu Bakr el-Baghdadi
kini tampil memimpin ISIS. Baghdadi disebut-sebut sebagai seorang ahli taktik
perang.
Fenomena
ISIS menampilkan sisi ekstremitas dan absurditas. Awalnya tampil melawan rezim
otoriter Bashar Assad di Suriah, yang berasal dari sekte Alawite. Tetapi
hubungan ISIS dengan kelompok oposisi sekuler dan kelompok Islam lain yang
menentang Bashar Assad juga penuh konflik, bahkan bentrokan militer berdarah.
Di Irak, praktis ISIS hanya diterima di kalangan terbatas Sunni, karena
bermusuhan dengan pemerintah yang didominasi Syiah, dan bermusuhan dengan warga
Kurdi, karena ISIS merebut wilayah Kurdi yang kaya minyak.
Meski
mengaku menganut ajaran Salafi, keradikalan atau lebih tepat sikap ekstrem ISIS
justru ditentang oleh kalangan Salafi lain. Pasukan ISIS terlihat sangat enteng
mengalirkan darah, membunuh, merusak, dan menghancurkan. Ini jelas bertolak
belakang dengan ajaran Islam dan tradisi Nabi Muhammad SAW, yang diyakini
mayoritas umat Islam selama ini.  ISIS tidak segan-segan menggunakan kekerasan
militer untuk menghantam siapapun yang dianggap berseberangan, meskipun
sama-sama Muslim Sunni.
Langkah
ISIS yang menghancurkan situs-situs budaya tiga agama samawi (Yahudi, Kristen,
Islam), seperti makam Nabi Yunus (Nabi yang dihormati semua Muslim), adalah
langkah ekstrem. Tindakan ISIS bahkan lebih ekstrem dari Taliban di Afganistan,
yang menghancurkan patung Buddha. Maka, jika ISIS sampai berhasil merebut kota
Mekkah di Arab Saudi, jangan-jangan bangunan Kabah juga akan dihancurkan,
karena dianggap sebagai berhala yang disembah orang.
Puncak
absurditas ISIS tampak jelas sekarang. Ketika rakyat Palestina di Jalur Gaza,
yang mayoritas Muslim, sedang sekarat dan berjuang mati-matian menghadapi
pemboman brutal oleh militer Israel, ISIS tidak terlibat dalam pembelaan
terhadap Palestina. Sejauh ini tidak ada satu pun pernyataan resmi dari ISIS
yang mengecam Israel atau memprotes pemboman masif terhadap warga sipil,
masjid, rumah sakit, dan sekolah PBB di Gaza.
Sebaliknya,
berita yang muncul di media, justru ISIS sibuk berperang melawan
saudara-saudarannya sesama Muslim di Irak, Suriah, dan entah wilayah mana lagi,
untuk menegakkan “kekhalifahan Islam” di Timur Tengah. Artinya, dengan
embel-embel nama “Islam,” ISIS lebih memprioritaskan kekuasaan untuk dirinya sendiri,
ketimbang membantu atau membela saudara-saudaranya sesama Muslim, yang terancam
oleh praktik genosida oleh militer Israel.
Sungguh
kontras. Di Gaza sendiri, warga Muslim dan warga Kristen Palestina kini justru
makin dekat, makin erat, makin bahu-membahu, dan bersatu padu menghadapi agresi
Israel, yang kebrutalannya sudah jauh di luar pertimbangan nalar dan akal
sehat. Warga Muslim dan Kristen Palestina adalah sama-sama korban dalam tragedi
kemanusiaan, yang tidak lagi dipisahkan oleh sekat ras, etnis, agama, atau
sekat primordial. Tidak ada manusia yang masih berhati nurani akan tega melihat
pembantaian terhadap warga sipil, yang menjadi tragedi rutin tiap hari di Gaza.
Tetapi
ISIS tidak peduli. ISIS lebih sibuk mengkonsolidasikan kekuasaannya dengan agenda
perebutan wilayah. Khususnya di daerah yang memiliki basis ekonomi tinggi,
seperti ladang-ladang minyak di wilayah utara Irak, yang menjadi kediaman etnis
Kurdi.  Kesibukan ISIS lainnya adalah merekrut pemuda-pemuda Muslim dari
seluruh dunia, untuk dijadikan pendukung ISIS yang siap berjihad dan mati
“syahid” (baca: mati konyol) demi kepentingan ISIS.
Sekarang
kehebohan tentang sepak terjang ISIS merambah ke Indonesia. Dalam beberapa hari
ini, sejumlah media nasional mengalami “demam ISIS.” Berita tentang rekrutmen
yang dilakukan ISIS, rumor akan dilakukannya deklarasi ISIS di sini dan di
sana, implikasi hukum bagi warga Indonesia yang bergabung dalam ISIS, dugaan
keterlibatan sejumlah tokoh radikal di Indonesia dengan ISIS, semua jadi bahan
kajian.
Sejumlah
organisasi Islam dan tokoh-tokoh Islam di Indonesia, seperti Majelis Ulama
Indonesia (MUI) dan Nahdlatul Ulama, juga sudah angkat bicara tentang bahaya
ISIS dan perlunya segera menangkal pengaruh ISIS. Panglima TNI Jenderal TNI
Moeldoko juga menegaskan, ISIS tidak boleh berkembang di Indonesia karena dapat
menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat. Sedangkan
Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Hak Asasi Manusia, Djoko Suyanto
menyatakan, banyak ormas Islam di Indonesia tidak setuju dengan keberadaan
paham ISIS. “Paham ISIS bukan masalah agama. Ini masalah ideologi,”
katanya.
Sebagai
ideologi, paham ISIS bertentangan dengan ideologi Pancasila dan Bhinneka
Tunggal Ika yang terdapat di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semua itu
jelas dan tegas. Bagi kita, kengawuran dan keblingeran ISIS, yang diwujudkan
dalam ekstremitas dan absurditas perilakunya, terang benderang seperti
matahari. Tidak perlu lagi penjelasan bertele-tele. ***
*Penulis adalah mantan jurnalis
spesialis politik Timur Tengah, meraih gelar Doktor Ilmu Pengetahuan Budaya
dari UI.Tulisan ini juga dimuat di satuharapan.com

Loading...