Beranda Hukum Korupsi Emir Moeis Bantah Dikorbankan dalam Kasus Suap Proyek PLTU Tarahan

Emir Moeis Bantah Dikorbankan dalam Kasus Suap Proyek PLTU Tarahan

105
BERBAGI
Emir Moeis dengan baju oranye KPK yang kekecilan dan diselempangkan di pundak. (Foto merdeka.com)

JAKARTA, Teraslampung.com- Tersangka kasus dugaan suap pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Tarahan, Lampung Selatan, pada 2004, Izedrik Emir Moeis , membantah dikorbankan dalam perkara itu. Tetapi, saat disinggung soal penyuapnya, politikus PDIP itu justru bungkam.

Emir selesai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK sekitar pukul 17.15 WIB. Saat keluar, dia hanya tersenyum saat dicecar para pewarta.

“Enggak apa-apa. Saya baik-baik saja,” kata Emir sambil tersenyum saat meninggalkan Gedung KPK, Selasa (17/9).

Emir hanya umbar senyum ketika ditanya soal pihak perusahaan yang diduga menyuapnya, yakni Alstom Inc., asal Amerika Serikat dan perusahaan asal Jepang, Marubeni. Tetapi, saat kembali ditanya di dalam mobil tahanan apakah dia merasa dikorbankan, dia menjawab santai.

“Enggak,” ujar Emir santai.

Emir yang disebut-sebut dekat dengan para petinggi Perusahaan Listrik Negara diduga menerima uang suap lebih dari USD 300 dolar, atau setara Rp 2.9 miliar dari konsorsium pembangunan proyek, PT Alstom-Marubeni.

Diduga, PT Alstom Indonesia yang berinduk kepada Alstom Incorporated, memberikan suap sebagai pelicin buat memenangkan perusahaan itu dalam pembangunan proyek PLTU Tarahan pada 2004. Saat itu mereka bersaing ketat dengan pabrikan asal Jepang, Mitsubishi. Hal itu lantaran, dalam tiga kali penawaran harga, Alstom selalu lebih tinggi dari Mitsubishi. Baru pada evaluasi penawaran keempat, Alstom menurunkan harga.

Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) yang pertama kali melacak dan mengungkap transfer uang suap itu. FBI pun sudah menangkap tiga petinggi Alstom Inc., cabang Negara Bagian Connecticut, Amerika Serikat, yakni William L. Pomponi, Frederic Pierucci, dan David Rothschild, diduga sebagai penyuap IEM. Ketiganya sudah disidangkan dan mengakui menyuap Emir. Tiga bule itu pun diancam pidana penjara selama 20 tahun di Negeri Abang Sam.

Menurut pengacara Emir, Yanuar P. Wasesa, kliennya mengakui mendapat uang USD 300 ribu, tapi berdalih bukan dari Alstom. Melainkan dari kawan Emir bernama Pirooz Sharafih. Pirooz diketahui adalah kawan Emir semasa kuliah di Institut Teknologi Massachussets (Massachussets Institute of Technology / MIT).

Yanuar mengakui, Pirooz pernah mengantar rombongan petinggi Alstom ke kompleks DPR dan mengenalkan mereka kepada Emir. Saat itu, mereka mempresentasikan produknya kepada Emir.(merdeka.com)