Emosi

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu-Ilmu Sosial di Pascasarjana FKIP Unila

Mendekati azan subuh saat membuka piranti sosial ternyata ada berita masuk berupa tauziah dari seorang rekan lama tahun tujuh puluhan. Ia tinggal di daerah transmigrasi tertua yang sangat terkenal di Sumatera Selatan sebagai lumbung beras Sumsel.

Tausyiah itu  sebagai berikut : Dalam sebuah peperangan, Ali bin Abi Thalib ra terlibat duel dengan salah satu jawara kaum musyrik. Ali bin Abi Thalib berhasil menjatuhkan lawannya. Ketika Ali hendak membunuh musuhnya itu, sang musuh meludahi wajah Ali. Atas perlakuan musuhnya itu, Ali mengurungkan niatnya untuk membunuh dan meninggalkan musuhnya tersebut.

Orang musyrik itu pun memandang aneh sikap Ali. “Hendak ke mana kau?” ujarnya.

Ali menjawab, “Mulanya aku berperang karena Allah. Namun, ketika engkau meludahiku, aku khawatir aku membunuhmu bukan karena Allah tapi hanya sebagai balas dendam dan pelampiasan kemarahanku. Jadi, sekarang aku membebaskanmu karena Allah.”

Orang musyrik itu pun berkata, “Semestinya kelakuanku lebih memancing kemarahanmu hingga engkau segera membunuhku. Jika agama yang kamu anut itu sangat toleran, sudah pasti itu merupakan bukti bahwa agamamu benar.” (Ustd. Hi.Wahyono: 2022).

Bagaimana dahsyatnya keimanan Kholifah Ali dalam mengelola emosi sedemikian rupa, ternyata akal sehatnya tidak hanyut terbawa emosi. Akal sehatnya tetap tegak sehingga mampu memposisikan diri Ali sebagai pejuang, bukan pecundang, sekalipun untuk dirinya sendiri.
Sebelum lebih jauh melangkah, kita telisik dulu apa itu emosi. Dikutip dari berbagai sumber; Emosi diartikan sebagai dari reaksi terhadap situasi tertentu yang dilakukan oleh tubuh. Hal yang biasanya memiliki kaitan dengan aktivitas berpikir (kognitif) seseorang, yaitu sifat dan intensitas dari emosi, yang dikarenakan hasil dari persepsi akan situasi yang terjadi.

Emosi menjadi salah satu aspek yang memiliki pengaruh besar atas sikap manusia selama ini. Hal itu dibarengi dengan dua aspek yang lain, yaitu adanya daya pikir (kognitif) dan psikomotorik (konatif), biasanya emosi sering dikenal dengan aspek afektif, hal ini merupakan embrio dari penentuan sikap, yang menjadi salah satu predisposisi dari perilaku manusia.

Kajian lebih lanjut kita serahkan kepada teman teman dari Psikologi untuk mendedahnya, adapun tulisan ini lebih berorientasi bagaimana emosi berkelindan dengan filsafat manusia. emosi itu diperlukan sebagai daya dorong namun jika tidak dikendalikan dengan baik ternyata dapat merusak beberapa hal: Pertama, emosi dapat merusak nilai keihlasan seseorang saat berjuang di jalan Allah, karena emosi dapat menggiring pemikiran tidak rasional. Hal ini dapat kita simak manakala melihat orang berbelanja disaat menjelang berbuka; semua akan dibeli, ternyata keinginan itu hanya emosi belaka; begitu tiba waktu berbuka, makanan tadi tidak tersentuh bahkan sampai tiba waktu imsyak. Jadilah kita termasuk orang yang menyianyiakan rezki. Apakah puasa kita hari itu berhasil ? Hanya Allah yang Maha Mengetahui.

Dengan katalain bahwa menahan lapar, menahan nafsu sek, tidak berbicara kecuali yang baik dan benar, tidak melakukan perbuatan yang tidak diridhoi NYA; kita hampir semua bisa melakukan, namun manakala berhadapan dengan emosi, ternyata puasa yang satu ini amat berat jika kita tidak memahami mengelolanya.

Kedua, emosi dapat memprovokasi diri untuk balas dendam kepada siapa dan apapun, dan ini merupakan akhlak tak terpuji. Disekitar kita sekarang mulai tampak perilaku perilaku seperti ini, mereka sanggup berbuat apapun termasuk kecurangan, hanya karena ingin memuaskan emosi untuk membalas dendam. Padahal jika kita telisik dengan jernih, perbuatan yang kita bela untuk membalasnya, memang sebenarnya yang salah justru kita; namun karena ego yang ditonjolkan, maka apapun yang tidak sama dengan kita menjadi musuh kita.

Ketiga, mengelola emosi dengan tidak dendam merupakan energi positif, sehingga muncul sikap arif bijaksana dan memaafkan orang lain. Memaafkan lebih baik daripada melampiaskan dendam, sekaligus memunculkan rasa simpati orang lain. Walaupun perbuatan ini tidak mudah, namun jika dilandasi akan rasa ketaqwaan yang tinggi pada Alloh, maka semua itu tidak akan menjadi beban yang berat.

Keempat, mengelola emosi dengan baik juka akan memunculkan sikap lapang dada dan besar hati, sehingga memunculkan sikap untuk hidup berdamai dengan siapapun termasuk dengan waktu dan situasi, ini merupakan kata kunci untuk hidup rukun dan damai.

Semoga di hari-hari terakhir bulan Suci ini memberikan pencerahan pada kalbu kita, sehingga mampu menjadi pemenang kelak sesudahnya sebagai ahli mengelola emosi. Emosi sebagai daya dorong itu diperlukan tetapi bukan yang emosional, apalagi temperamental.

Salam Ramadan!