Beranda News Obituari Empu Tari Suprapto Suryodarmo Wafat

Empu Tari Suprapto Suryodarmo Wafat

999
BERBAGI
Suprapto Suryodarmo (Foto: Facebook/Alexander Gebe)
Suprapto Suryodarmo (Foto: Facebook/Alexander Gebe)

TERASLAMPUNG.COM — Suprapto Suryodarmo (74), salah satu empu tari Indonesia yang disegani, wafat di Solo, Jawa Tengah, Minggu dini hari (29/12/2019) pukul 01.30 WIB.

Informasi yang dihimpun Teraslampung.com dari sejumlah sumber, Mbah Prapto, meninggal karena serangan jantung. Penari yang masih aktif hingga usia senja itu sempat dirawat selama beberapa jam RS dr Oen, tempat dia dirawat beberapa jam karena serangan jantung.

Kabar ihwal wafatnya Mbah Prapto pertama kali disampaikam budayawan Halim HD lewat akun Facebook.

“Telah pulang dalam damai bapak Suprapto Suryodarmo pada hari Minggu 29 Desember jam 01.30. Mohon maaf sedalam-dalamnya jika ada salah n khilaf almarhum,” tulis Halim HD.

Seniman Bramantyo Prijosusilo, salah satu murid Mbah Prapto, juga mengabarkan hal serupa.

Alexander Gebe, aktor Teater Kober Lampung yang pernah berguru pada Mbah Prapto, melalui akun Facebook mengungkapkan duka cita mendalam.

“Ternyata di Rumah Banjarsari adalah pertemuan terakhir kita “Mbah. Salam hormat. Damailah di Nirvana. Engkau orang yang sangat baik, terimakasih banyak mbah Suprapto Suryodarmo. Terimakasih sudah berkenan membuka kesadaran saya yang semula sempit menjadi sedikit lebih luas. Terimakasih sudah berbagi pada saya yg bukan siapa-siapa ini. Salam hormat saya mbah. Semoga Allh SWT memberi tempat terbaik untukmu. Selamat melanjutan perjalanan yang abadi. Terimakasih untuk segalanya. Innalillahiwainnalillahirajiun,” tulis Gebe.

Berdasarkan penelusuran Teraslampung.com di linimasa akun Facebook, sekitar 4,5 jam  sebelum wafat Mbah Prapto masih membagi tautan berita di Facebook. Ia membagikan tautan berita KBR.ID berjudul “Elsam: Proyek ‘Bali Baru’ Berpotensi Merampas Tanah Masyarakat Adat” pada Sabtu (28/12/2019) pukul 20.59 WIB.

Suprapto Suryodarmo, lahir 74 tahun lalu di Kampung Kemlayan Solo, yang dikenal sebagai tempat tinggal para abdi dalem seniman karawitan Keraton Surakarta.

Namanya dikenal sebagai koreografer andal yang dimiliki Indonesia saat ini. Ia banyak melahirkan penari-penari muda yang datang kepadanya untuk belajar. Untuk mendukung eksplorasi geraknya, Suprapto juga belajar silat, kungfu, dan meditasi.

Ia berguru tari pada koreografer S Ngaliman, serta Mloyo Widodo dan Guno Pengrawit untuk musik. Ketika koreografer Sardono W Kusuma belum hijrah ke Jakarta, Mbah Prapto banyak menghabiskan waktu belajar dengannya di Solo.

Wikipedia melansir, Suprapto Suryodarmo sudah mengakrabi dunia kesenian, khususnya seni tari sejak usia muda. Saat remaja, ia mengikuti ayahnya ke gunung, pepundhen, sendang, dan kuburan. Selama menemani sang ayah berpetualang, ia pun ikut menjalani laku seperti puasa, tidur di sendang atau pun kuburan untuk lebih mengheningkan sukma. Bakat seninya juga terbentuk oleh lingkungan sekitar, dan minatnya tumbuh saat sering mendengar lantunan gending atau langgam. Kemlayan, kampungnya, merupakan perkampungan tempat tinggal para pengrawit (musisi gamelan) keraton.

Pada 1966, Suprapto mendirikan kelompok kebudayaan Bharada (singkatan dari bhinneka raga budaya) yang berkumpul secara rutin di rumahnya untuk belajar dan melakukan gladhi (latihan). Pelatih-pelatih Bharada di antaranya adalah S. Ngaliman dan Mloyo Widodo, tokoh-tokoh terkenal dunia tari dan gamelan yang merupakan penjelmaan nilai-nilai spiritual dan artistik Jawa tradisional. Tahun 1967, ia masuk kuliah di Jurusan Karawitan ASKI Surakarta (sekarang ISI Surakarta), tak lama kemudian, ia terpilih sebagai ketua senat mahasiswa. Dengan posisinya tersebut, beberapa dia kali mengadakan lokakarya, pertunjukan, dan festival dengan mengundang seniman seperti penyair dan sutradara W.S. Rendra.

Suprapto pernah bekerja di ASKI dan di Organisasi ASKI untuk masyarakat umum, Pusat Kebudayaan Jawa Tengah, secara langsung di bawah Gendhon Humardhani antara 1972 hingga 1983. Gendhon Humardhani pulalah yang mendorongnya menuntaskan pendidikan sarjana mudanya di Jurusan Filsafat Universitas Gajah Mada. Pada saat bersamaan, ia mulai mempelajari Buddhisme dan Sumarah (penyerahan mutlak), sebentuk mistisisme Jawa yang melibatkan praktik meditatif melalui gerakan otomatis, selain Taichi, Kung Fu, dan Tarian Jawa Tradisional. Dengan Sudarno Ong, sebagai Pamong Sumarahnya yang utama.

Tahun 1974, ia memimpin sebuah tim yang terdiri atas penari, dalang, musikus, dan seniman visual dari ASKI dan Akademi Seni Murni Yogyakarta, ASRI, menciptakan Wayang Buddha. Wayang Buddha merupakan pementasan wayang gaya baru yang menggabungkan seni rupa, musik dan dunia pewayangan. Pertunjukan Wayang Buddha menceritakan kisah-kisah Buddhis seperti riwayat Buddha, Sutasoma, dan Kunjarakarna Dhramkathana. Karya ini dipertunjukan baik di festival-festival seni maupun dalam acara-acara keagamaan dan hari raya Buddha.

Sejak pentas bersama koreografer Sardono W. Kusumo) ke Jerman dalam Festival Pantomim Internasional tahun 1982, setiap tahun ia terus-menerus diundang ke luar negeri untuk memberikan workshop dan mementaskan karyanya di Eropa, Australia, Filipina, Korea, Jepang, dan Amerika Serikat. Ketika jaringannya mulai tersebar di banyak negara, tahun 1986, ia mendirikan Padepokan Lemah Putih. Di padepokan itulah kemudian lahir komunitas Sharing Movement.

Sebuah metode belajar yang selalu ia terapkan untuk murid-muridnya adalah srawung candi (mengunjungi candi). Setiap 1 Januari, ia selalu mengajak murid-muridnya keliling Candi Sukuh di lereng Gunung Lawu, candi Borobudur, candi Sewu, candi Prambanan, candi Gedong Sanga hingga candi-candi di Bali dan Toraja, untuk mengamati dan menghayati kekosongan relief dan batu-batu untuk menyerap energinya. Suprapto merupakan inisiator perhelatan seni di Ground Zero, New York, Amerika Serikat, pada 2001.

Loading...