Beranda Teras Berita Endang Efendi, Menikmati Manisnya Salak Pondoh Organik

Endang Efendi, Menikmati Manisnya Salak Pondoh Organik

1380
BERBAGI
Endang memanen salak

PAGAR ALAM--Pada saat menghadapi beratnya cobaan hidup, sering muncul ide-ide atau gagasan kreatif untuk memperbaiki keadaan. Itu pula yang dilakukan Endang Efendi (45 tahun), pria kelahiran Garut, Jawa Barat, yang merantau ke Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan.

Endang bersama keluarganya merantau ke Beringin, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan (Sumsel) pada tahun 1987. Namun karena di tempat baru ini tidak menjanjikan tak lama kemudian mereka pindah ke Pagaralam dan menanam kopi serta sayuran di pinggang Gunung Dempo ini. Di kota berhawa dingin ini, ia pun dapat jodoh seorang gadis yang berasal dari Jogjakarta, Sutini.

Pada awalnya ekonomi keluarga petani kopi ini cukup lancar dari hasil penjualan kopi setiap panen dan usaha sampingan menanam sayur-mayur dan hortikultura lainnya. Namun melihat kemajuan ekonomi para tetangga yang lebih cepat dari berdagang biji kopi, Endang pun tergiur untuk mengadu nasib menjadi pedagang pengumpul kopi setiap musim panen.

Pada awalnya memang keuntungan berdagang kopi cukup lumayan. Hasilnya lebih besar dibandingkan dengan berkebun kopi, sementara tenaga tidak terlalu terkuras seperti pada saat berkebun.

Namun malang tidak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Pada tahun 1998—saat reformasi di Tanah Air sedang berkecamuk—harga kopi melambung mencapai Rp16 ribu/kg. Saat itulah Endang menghabiskan modalnya untuk menampung kopi petani dengan harapan harga kopi bakal terus melonjak melampaui angka Rp20 ribu/kg.

Tapi manusia boleh berencana, Tuhan berkehendak lain. Tak lama setelah ia menampung kopi, harga kopi justru jatuh hingga Rp7 ribu/kg. Saat itulah Endang bersama istrinya Sutini “menangis” menyesali nasib. Modalnya ludes ditelan angan-angan.

Karena saking marahnya, Endang pun membabat 1 ha tanaman kopi yang sudah 15 tahun menghidupinya. Namun ia bingung mau diganti dengan tanaman apa yang hasilnya lebih baik sehingga ekonomi keluarganya bisa stabil kembali.

“Saat pulang ke Jogja, muncul ide bagaimana jika menanam salak pondoh yang memang belum adapetani di Pagaralam menanamnya. Apalagi jika salak yang ditanam merupakan salak organik,” ujar Endang di kios salak miliknya di Kelurahan Rejosari, Kecamatan Pagaralam Utara.

Endang pun menjual sawah. Dari hasil penjualan sawah itu ia membeli 2.500 batang bibit salak pondoh yang sudah siap tanam. Bibit tersebut ditanamnya di lahan bekas kopi dengan jarak tanam 2 kali 1,5 meter dengan mengatur dalam satu rumpun hanya dua batang salak yang dibesarkan, sementara anakan yang tumbuh di sekililingnya dijadikan bibit atau dibuang untuk jadi pupuk.

Termasuk jumlah daun harus diatur agar salak tetap terkena sinar matahari. Tanaman salak membutuhkan kecukupan air untuk tumbuh dan berkembang. Di Pagaralam air tercukupi karena curah hujan di dataran berketinggian 800-1000 meter ini cukup tinggi. Bahkan hujan turun sepanjang tahun tanpa ada kemarau yang ekstrem.
Namun setelah merawatnya selama tiga tahun, bukan buah yang dipanen, melainkan bunga salak tidak satu pun yang menjadi buah. Sekali lagi Endang menerima cobaan berat dalam perjalanan hidupnya.

Tapi kali ini ia tidak berputus asa dan tetap merawat batang salaknya. “Pokoknya bagaimana salak yang batangnya sudah besar dan bunganya banyak ini bisa berbuah. Demikian tekad saya waktu itu,” kenang ayah dari tiga anak ini.

Karena itu, ia bertanya ke sana kemari mencari tahu bagaimana caranya agar bunga salak menjadi buah. Termasuk menghubungi para petani salak di Jogjakarta. Akhirnya ia mengetahui bahwa agar bunga salak betina menjadi putik harus dikawinkan secara manual dengan bunga salak jantan.

Setelah tanamannya diperiksanya satu persatu, ternyata tidak ada pohon yang jantan. Selanjutnya ia mencari salak hutan yang jantan, lalu ditanam dan menunggu lagi tiga tahun sampai salak jantan berbunga.

Baru kemudian dikawinkan secara manual dengan bunga salak betina. Selama menunggu salak tersebut menghasilkan, untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, Endang menanam sayur-mayur dan hortikultura lainnya.

Adapun cara mengawinkan bunga salak adalah dengan menaruh sebagian bunga salak jantan yang sudah mekar pada bagian atas bunga salak betina yang juga mulai mekar. Kegiatan mengawinkan bunga jantan dengan bunga betina tersebut dilakukan secara berkala, tiga hari sekali. Pada awalnya Endang melakukannya sendiri, namun sekarang sudah ada pekerja yang menggantikannya.

Dalam menjalankan budidaya salak, Endang pernah mencoba mengawinkan bunga jagung jantan dengan bunga salak betina dan ternyata menjadi buah. Meski buahnya lebih manis dan harum, namun kecil-kecil dari ukuran normal. Akhirnya percobaan tersebut tidak dilanjutkannya.
Karena ingin mendapatkan salak organik maka tanaman hanya dipupuk dengan abu sisa pembakaran, limbah pabrik pengolahan teh, dedaunan salak yang sudah dipanhkas, serta bahan organik lainnya seperti kotoran ternak.

Soal penyakit, menurut Endang, sampai kini belum ditemukannya. Hanya hama sering mengganggu, yakni tupai dan babi. Kedua jenis hama ini masih banyak di sekitar kebunnya. Maklum di Pagaralam banyak kebun kopi dan hutan tempat berkembangnya babi dan tupai.      

Menjadi Mitra Binaan

Sejak tahun 2005,  Endang menjadi mitra binaan PT Perkebunan Nusantara VII (PTPN VII) UnitUsaha Pagaralam. Pada awalnya ia menerima pinjaman Rp10 juta yang digunakan untuk membangun pagar kebun. Maklum yang ditanamnya buah-buahan sehingga rawan pencurian dan hama babi.

Pada tahun 2008, ia kembali mendapat pinjaman dari PTPN VII sebesar Rp20 juta untuk ekstensifikasi atau perluasan kebun seluas 3 ha sehingga kebunnya kini menjadi 4 ha. Mulai tahun 2011, kebun yang 3 ha ini pun mulai berproduksi.

Kini dengan areal salak seluas 4 ha, Endang memanen salak 700 kg/ha/bulan. Berbeda dengan tanaman lain, salak berbuah sepanjang tahun dengan masa produktif 40 tahun tanpa tergantung cuaca hujan atau kemarau dengan jadwal panen 2 minggu sekali. Rata-rata produksi berkisar 2—2,5 kg/batang/bulan.

Buah salak yang diberi merek “Salak Dempo” tersebut dijual dengan harga antara Rp10 ribu-Rp12.500/kg. Dari penjualan salak, Endang meraup pendapatan di atas Rp7 juta/ha/bulan.
Jika pada awalnya buah salak dijual dalam bentuk buah segar, mulai tahun 2011 buah salak diolah menjadi keripik dan dodol, setelah mendapat pinjaman modal periode ketiga dari PTPN VII sebesar Rp30 juta.

Cara pembuatannya ia pelajari melalui internet. Namun karena bahan bakunya sudah berupa salak organik maka dodol dan keripik salak diproduksi tanpa bahan pengawet sehingga daya tahannya bisa dua bulan.

Jika penjualan salak dilakukan secara tradisional dengan memajangnya di kios di tepi jalan, maka penjualan keripik dan dodol lebih banyak via internet. “Bisa pesan secara online, barang sampai baru dibayar atau sebaliknya,” kata dia.

Produksi dodol dan keripik salak dikelola istrinya, Sutini, sementara Endang fokus mengembangkan budidaya salak di kebun dengan dibantu 3 pekerja. Sementara untuk memproduksi keripik dan dodol salak, istrinya mempekerjakan 5 orang.  

Atas kepeloporannya itu Gubernur Sumsel Alex Nurdin memberinya penghargaan sebagai petani perintis penanaman salak di Sumsel. Lalu, bersama istrinya, Endang sering diikutkan dalam promosi baik oleh PTPN VII maupun Pemerintah Kota Pagaralam di berbagai kota di Tanah Air.
Lalu untuk mendukung pemasaran salak organik dengan merek dempo yang diproduksinya, Endang juga mengurus Sertifikat Organik dari Lembaga Sertifikasi Organik Sumatera Barat.

“Jadi, buah salak kami dijamin tak mengandung residu bahan-bahan kimia,” tegasnya.

Pengembangan Salak

Melihat keberhasilan Endang mengembangkan kebun salak di Pagaralam, pada tahun 2010 lalu Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel merangkulnya untuk pengembangan salak di daerah Rimbacandi, Pagaralam seluas 80 ha. Lahan seluas itu ditanami dengan 40 ribu batang bibit salak pondoh organik.

Bibit diproduksi Endang dan dibeli Dinas Perkebunan lalu dibagikan secara gratis kepada petani yang berminat menanamnya. Dalam program ini, Endang memberikan supervisinya sekaligus membentuk Kelompok Tani Dempo dengan 17 anggota.
Sambil menunggu salak berbuah, petani anggota kelompok menanam sayur dan hortikultura di kebun salak yang masih kecil tersebut sebagai tumpangsari.
“Melihat perkembangannya, diprediksi tahun depan salak tersebut sudah mulai berbuah,” ungkap Endang.

Untuk menampung produksi salak itu nantinya, Kelompok Tani Dempo sudah meneken kerja sama dengan pusat buah-buahan di Jakarta. Selain ini juga sudah dijajaki kerja sama dengan sejumlah pedagang besar buah-buahan di Palembang, Bengkulu, dan Lampung.

Dengan begitu, Endang yakin meski tahun depan produksi salak bakal melimpah, harga tidak bakal anjlok. Apalagi ia juga sudah mengajari para istri petani salak mengolah buah salak menjadi keripik dan dodol. Soal pemasarannya Endang yang bertanggung jawab.

Justru ia menilai hambatan dalam pengembangan salak di Pagaralam adalah keterbatasan bibit. Bibit yang diproduksi Endang tidak mencukupi, sementara bibit salak dari Jogjakarta harganya mahal,sekitar Rp12 ribu/batang sebagai akibat tingginya biaya transportasi. Belum lagi keterbatasan lahan yang umumnya sudah ditanami kopi dan tanaman lainnya.

Kepada petani yang ingin memulai penanaman salak, Endang menyarankan agar jarak tanamnya 2 x 2 meter. Lalu setiap 2.000 batang bibit salak betina minimal harus ada 100 batang bibit salak jantan.

Untuk menentukan bibit salak jantan adalah dari batang induknya. Jika bunganya bulat merah maka itu berarti salak betina dan jika bunganya panjang berarti jantan. Penanamannya pun harus diatur dalam setiap 20 batang salak betina terdapat satu salak jantan agar dalam proses pengawinan lebih mudah.

Kendati sudah menikmati hasil keringatnya, Endang sekeluarga belum berpuas diri. Ia ingin membangun pusat penjualan oleh-oleh di Pagaralam seperti “Bakpau Telo” di Malang, Jawa Timur. Namun Endang ingin melengkapinya tidak saja dengan rumah makan, tapi juga dengan penginapan.

Untuk mendukung terealisasinya rencana tersebut, kini Sutini sudah membentuk kelompok perajin yang memproduksi tidak saja keripik salak, tetapi juga keripik kentang, rengginang, keripik ubi, dan lain-lain.

“Dengan begitu nantinya oleh-oleh dari Pagaralam tidak lagi teh dan kopi bubuk robusta, tapi banyak yang lainnya,” Sutini berkeinginan.

Bahkan, sekarang Endang dan Sutini banyak didatangi petugas bagian kredit berbagai bank pemerintah dan swasta yang menawarkan kredit untuk pengembangan usahanya tersebut. Padahal sewaktu akan memulai usaha penanaman salak tempo hari, ia keluar masuk kantor cabang perbankan minta kredit, namun tidak satu pun yang menerima proposalnya dengan alasan prospek budidaya salak di Pagaralam masih meragukan.

Selama ini belum ada petani yang membudidayakan salak di daerah dataran tinggi ini sehingga dikhawatirkan salak tidak berbuah. Apalagi jenis salak  pondoh yang di tempat asalnya di Jogjakarta ditanam di dataran rendah dan sedang.

Belum lagi soal jaminan pasar juga belum ada kepastian, apakah salak laku dijual dengan harga yang menguntungkan alias di atas biaya produksi sehingga kredit yang diberikan bisa dilunasi.

“Mungkin karena tingkat risiko yang tinggi dan prospek budidaya salak masih meragukan, semua proposal yang saya ajukan ditolak,” kenang Endang yang sudah naik haji bersama istrinya dari hasil berjualan salak. Selain itu, mereka pun juga mampu membiayai kuliah dua putranya di perguruan tinggi di Palembang dan Jakarta.

Seiring perjalanan wantu, ternyata naluri bisnis seorang Endang yang hanya tamat sekolah menengah atas itu ternyata makin tajam. Mudah-mudahan keberhasilan Endang bisa menginspirasi petani lainnya dan perbankan tidak lagi menolak proposal kredit mereka dengan alasan prospeknya meragukan. Itu saja! (tim)

Sumber: rajaorganik.com

Loading...