Entah

  • Bagikan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Pascasarjana FKIP Unila

Entah adalah sebuah homonim karena arti-artinya memiliki ejaan dan pelafalan yang sama tetapi maknanya berbeda. Entah memiliki arti dalam kelas adverbia atau kata keterangan sehingga entah dapat memberikan keterangan kepada kata lain.

Entah juga dapat bermakna untuk menyatakan atau menjawab bahwa tidak tahu. Contoh: Entah apa yang dibawa tadi, saya tidak melihatnya. Ternyata diksi yang biasa kita pakai sehari hari itu memiliki multimakna, jika dilihat dari kaidah bahasa standard nasional kita. Namun entahlah mengapa kita sering tidak menghiraukan makna ke dalamnya, sehingga dalam menggunakannya seolah berlalu begitu saja. Bayangkan jika kata itu berubah menjadi “entahberentah” yang maknanya “tidak jelas”, “tidak tahu mengapa”.

Suatu peristiwa seorang mahasiswa program doktor menghadap promotornya. Ia  bertanya berkaitan dengan kekuatan teori yang akan dipakai olehnya dalam merekontruksi berfikir dalam disertasi. Promotor menjawab “entahlah”; jawaban ini sontak membuat yang bersangkutan bertanya tanya; …adakah yang salah pada dirinya ?.. setelah undur diri, usut punya usut, ternyata Sang Promotor kurang memahami apa yang ditanyakan oleh mahasiswanya; hanya karena menutup kekurangan diri, jawaban “entahlah” dijadikan perisai pelindung. Kasihan sang mahasiswa jadi korban entah nya promotor; yang itu membuat catatan pribadi makin panjang.

Persoalan “entah” ini tidak berhenti di sini jika ditilik dari sudut pandang Filsafat Manusia; karena kata ini merupakan ekspresi pertahanan ego untuk sesuatu yang tidak kita ketahui, tidak kita sukai, atau bisa jadi kedua duanya secara bersamaan. Oleh karena itu, perlu diperhatikan beberapa hal dalam penggunaan kata tersebut: Pertama, berikan  alasan logis. Salah satu kesalahan saat berkata tidak adalah memberikan alasan yang terlalu berlebihan. Seringkali, mereka yang awalnya bilang tidak, bisa berubah menjadi iya karena argumennya nampak tak logis sehingga mudah dipatahkan. Ketidaklogisan argument inilah sekarang yang banyak berseliweran, sehingga memaksa kita untuk mengatakan entahlah dalam menghadapi situasi yang terkadang tidak menyenangkan.

Kedua, selipkan candaan. Memang untuk sebagian orang jika sudah menolak sehalus apapun akan tetap membuat seseorang kecewa. Untuk meminimalisir perasaan terluka dari lawan bicara, ada baiknya kalau kita menyelipkan candaan ketika ingin menolak permintaan. Percayalah, humor atau candaan bisa meredakan rasa canggung dan ampuh dalam mengalihkan pembicaraan. Pemimpin yang kehilangan rasa humor maka akan tampak seperti patung bernyawa.

Ketiga: jangan lupa bilang maaf. Kata maaf adalah kata yang ajaib. Kalau kita mengatakannya dengan sungguh-sungguh dari dalam hati, maka orang lain akan menghargai keputusan yang kita ambil tanpa rasa sakit hati. Kata maaf juga bisa untuk menghindari konflik.

Keempat, berikan solusi lain. Salah satu cara menolak permintaan orang lain adalah dengan memberikan solusi lain. Ketika kita mengutarakan penolakan, iringi juga dengan memberi solusi lain.
Oleh karena itu, dapat diposisikan bahwa kata entah ini pada saat masih berada pada wilayah ontologi, menjadi bertafsir bebas. Namun, begitu diikat oleh epistemologi dan akiologi menjadi sangat bermakna sesuai dengan tujuan dan kegunaan. Sebab itu, dalam menggunakan diksi ini perlu dipikirkan tujuan dan kegunaan secara baik dan benar. Jika tidak maka niat baik akan menjadi berantakan karena kesalahan mengambil posisi apalagi intonasi penyampaian..

Karena kondisi demikian, maka sangat arif jika seorang pemimpin, terlepas organisasinya, dalam berkomunikasi sebagai pemimpin, harus bijak menggunakan diksi ini. Jika tidak, maka pemimpin seperti ini akan diberi label dari jauh oleh yang dipimpin sebagai “Mr.Entah”. Memahami, menguasai persoalan dengan baik dan benar, adalah kunci untuk tidak mengumbar diksi “entah”.

Tetapi nanti dulu…ternyata “Entah”… menjadi begitu indah jika di tangan penyair dan seniman; karena mereka sangat ahli dalam mengolah rasa, sehingga rasa entah menjadi nikmat untuk dinikmati bila ada ditangan mereka. Kita bisa perhatikan satu penggal kalimat ini “entah apa kan jadinya”; jika ini ditangan ahli bahasa akan diberi tanda baca; maka akan bermakna pada penegasan posisioning diri. Sedangkan ditangan seniman, mereka akan memiberi tanda nada, maka jadilah rasa indah yang membahana.
Itulah hidup bagaimana kita mau memaknainya dengan mematut diri kapan harus menegasi posisi, dan kapan harus berayun dengan rasa. Keduanya diperlukan, hanya bagaimana kita manusia mau jujur dalam menggunakannya.

Selamat ngopi pagi….

 

 

  • Bagikan