Beranda News Nusantara Erupsi Gunung Merapi Justru Dianggap Berkah, Ini Alasannya

Erupsi Gunung Merapi Justru Dianggap Berkah, Ini Alasannya

240
BERBAGI
Erupsi Gunung Merapi pada Jumat pagi (11/5/2018).Foto: Slamet Raharja/net
Erupsi Gunung Merapi pada Jumat pagi (11/5/2018).Foto: Slamet Raharja/net

TERASLAMPUNG.COM, Yogyakarta  — Gunung Merapi di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, mengeluarkan letusan freatik pagi ini Jumat (11/5/2018) pada pukul 07.40 WIB dengan durasi kegempaan 5 menit.

Letusan freatik merupakan erupsi yang didominasi uap air, disebabkan karena adanya kontak air dengan panas di bawah kawah Gunung Merapi.

Bagi sebagian besar warga desa yang dekat dengan Gunung Merapi yang kini banyak mengelola bisnis wisata dengan menyewakan rumah untuk penginapan wisatawan (home stay), letusan tadi pagi justru menjadi berkah. Sebab, banyak wisatawan dari luar daerah dan luar negeri akhirnya bisa menikmati keindahan letusan dari jarak jauh.

Suwarni, warga Cangkringan,Sleman, misalnya banyak warga di desanya yang kini menyewakan rumahnya untuk wisatawan pascaletusan hebat Merapi beberapa tahun lalu.

“Saat ini banyak rombongan tamu berdatangan ke desa-desa di kaki Gunung Merapi yang kini berubah jadi desa wisata. Ketika Gunung Merapi mengeluarkan letusan tadi pagi, mereka senang karena bisa menikmati sensasi letusan Merapi,” katanya,Jumat (11/5/2018).

Selain kini dikenal sebagai desa wisata, desa di kaki Gunung Merapi kini juga terkenal karena kopinya. yakni “Kopi Merapi”, yaitu sebuah kedai kopi yang dikenal luas di Indonesia.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kasbani menyampaikan bahwa letusan adalah letusan freatik yang tidak berbahaya.

“Letusan berlangsung tiba-tiba. Jenis letusan ini tidak berbahaya dan dapat terjadi kapan saja pada gunungapi aktif,” kata Kasbani, Jumat (11/5/2018).

Kasbani mengatakan, letusan jenis ini hanya berlangsung sesaat.

“Gunung Merapi sebelumnya juga pernah terjadi letusan freatik sejenis. Letusan fratik berlangsung satu kali dan tidak diikuti erupsi susulan,” ungkapnya.

Sebelum erupsi freatik ini terjadi, lanjut Kasbani, jaringan seismik Gunung Merapi tidak merekam adanya peningkatan kegempaan. Namun demikian, sempat teramati peningkatan suku kawah secara singkat pada pukul 6:00 WIB (sekitar 2 jam sebelum erupsi).

Pascaerupsi, kegempaan yang terekam tidak mengalami perubahan dan suhu kawah mengalami penurunan. Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan tidak mendekati puncak kawah.

Status Gunung Merapi hingga saat ini masih tetap normal (Level I) dengan radius berbahaya adalah 3 kilometer dari puncak kawah. PVMBG tidak menaikkan status Gunung Merapi dan masih terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik dari Gunung dengan ketinggian 2.968 m dpl tersebut.