Beranda News Budaya Esei, Eseis, Warganegara

Esei, Eseis, Warganegara

286
BERBAGI
Emha Ainun Nadjib. (dok teraslampung.com)
Oleh Emha Ainun Nadjib

Esei bukan tulisan ilmiah yang dipersyarati oleh
kaidah-kaidah keilmuan, kecerdasan dan kejernihan terhadap fakta, serta oleh
teguh dan tajamnya logika. Tetapi beban esei bisa lebih berat, karena esei
harus lebih meluas dan mendalam dibanding ilmu. Esei tidak hanya sekedar
mencerdasi menjernihi fakta melainkan juga nuansa dan rasa. Esei tidak harus
hanya menteguhi dan mentajami fakta, tetapi juga memerlukan kepekaan,
kelembutan, lantip dan waskita.

Esei bukan karya akademis dengan
batasan-batasan ketat ‘administrasi persekolahan’. Tetapi esei justru harus
mengenali pemetaan seluruh pagar-pagar akademis, sebagai bagian paling
elementer dan baku dari fakta-fakta. Pemahaman esei terhadap batasan-batasan
akademis itu justru merupakan salah satu langkah primer agar kemudian menemukan
bahwa kehidupan ini tidak dikurung di dalam pagar, melainkan menjauh dan
melebar hingga ke cakrawala, menembus keremangan dan terjebak di dalam
kegelapan.
Para pekerja ilmiah dan akademis
sangat merasa ketakutan terhadap kegelapan, sementara esei justru mengembarai
dan menembus kegelapan sebagai metoda yang paling effektif untuk menemukan
cahaya. Sebenarnya dunia ilmu dan etos akademis juga sangat melandasi
perjalanan pencariannya dengan pekerjaan penelitian. Perbedaannya, para
peneliti esei mengarungi kehidupan dengan jiwa ‘telanjang bulat’, sementara
para ilmuwan dan akademisi memasuki hutan rimba remang-remang kehidupan dengan
membawa pagar-pagar dan kurungan-kurungan yang sangat dijadikan pegangan
kegiatannya, sehingga sekaligus juga sangat mengurung, membatasi dan
memenjarakannya.
Prinsip-prinsip ilmu dan disiplin
akademik sama sekali tidak boleh diremehkan oleh esei, sementara penulisan ilmu
dan karya akademik sama sekali tidak dituntut untuk mengandung, membawa atau
memancarkan nuansa dan keindahan sebagaimana yang dibebankan kepada esei.
Padahal esei bukan puisi. Akan
tetapi esei tidak diperkenankan untuk hadir tanpa rasa poetika. Esei bukan
cerita pendek, bukan novel, bukan reportoar teater, namun esei diharuskan
bercerita, diwajibkan mengekspressikan suasana, itupun cerita dan suasana harus
merupakan kandungan yang implisit, yang tersirat, yang samar, sebab kalau
tidak: ia dituduh sebagai puisi atau cerita pendek atau novel atau reportoar
teater.
Demikianpun esei tidak boleh
mengelak dari tanggung jawab ilmu dan pemetaan akademik, tetapi kalau esei
terlalu terpaku pada hal-hal tersebut: ia akan dituduh sebagai artikel ilmiah
dan dibatalkan kehadirannya sebagai esei.
Esei tidak boleh mengingkari ilmu,
tetapi tatkala ia menghadirkan dirinya, esei tidak diakui sebagai tulisan
ilmiah. Esei tidak boleh meninggalkan segala sisi dan kandungan kehidupan
sosial, tetapi ketika ia hadir membawa hasil pergulatan sosialnya, ia dilarang
untuk dipakai sebagai rujukan ilmu sosial. 
Esei berendah hati kepada Tuhan dan
mengapressiasi peri-kehidupan manusia beragama, tetapi esei tidak sah untuk
dianggap sebagai patokan bagi para pembelajar dan penggiat Agama. Esei mendalam
dan menyentuh sebagaimana puisi, tapi jangan sekali-sekali menyebut esei adalah
puisi. Esei mengalir dan mendekap hati pembacanya seperti cerita pendek atau
novel, tapi jangan taruh buku esei di rak cerita pendek dan novel. Esei
menggeluti mengunyah menyelami apa saja di samudera kebudayaan, tetapi tidak
dibenarkan penulis ilmu kebudayaan mengutip kalimat-kalimat esei dengan
mempercayainya sebagai kebenaran.
Kebenaran kebudayaan berdomisili di
Ilmu Kebudayaan, bukan di hamparan esei-esei kebudayaan. Kebenaran Agama
bertempat tinggal di almari buku-buku Agama, bukan di serpihan kemesraan
kata-kata esei. Kebenaran Ilmu Kehidupan berada di kuasa tangan para Ilmuwan,
bukan di lembaran esei-esei yang mensyukuri kehidupan.

Eseis
Di dalam pengalaman personal saya,
esei sangat memudahkan masa muda saya dan sangat menyelamatkan masa tua saya
sekarang ini.
Kenapa memudahkan? Karena esei itu
sangat ‘longgar’ di banding ilmu dan logika yang sangat ketat, teguh dan setia.
Karena itu, uraian tentang esei di bagian awal tulisan ini sebenarnya jangan
terlalu dipercaya, dan tak usah dijadikan pegangan, sebab kandungan ‘dramatisasi’nya
cukup tinggi. Pada kenyataannya saya sebenarnya tidak benar-benar paham esei
itu apa. Kalau tulisan ilmiah, atau ilmu itu sendiri, memberi dua kemungkinan:
dipahami atau tidak dipahami. Sedangkan esei: ‘boleh’ tidak benar-benar
dipahami, tanpa orang yang tidak benar-benar memahami itu harus disebut tidak
paham.
Lihat saja, saya coba kutipkan salah
satu wacana baku resmi tentang esei. Setelah 40 tahun lebih merasa menulis
esei, ternyata bukan yang demikian itu yang disebut esei :

“Esai adalah suatu tulisan yang
menggambarkan opini penulis tentang subyek tertentu yang coba dinilainya.

Sebuah esai dasar bisa dibagi
menjadi tiga bagian yaitu:

Pertama, pendahuluan yang berisi
latar belakang informasi yang mengidentifikasi subyek bahasan dan pengantar
tentang subyek yang akan dinilai oleh si penulis tersebut.

Kedua, tubuh esai yang menyajikan
seluruh informasi tentang subyek.

Ketiga, adalah bagian akhir yang
memberikan kesimpulan dengan menyebutkan kembali ide pokok, ringkasan dari
tubuh esai, atau menambahkan beberapa observasi tentang subyek yang dinilai
oleh si penulis.

Langkah-langkah pembuatan esai

Jika dipetakan mengenai
langkah-langkah membuat esai, bisa dirunut sebagai berikut:
  1. Menentukan tema atau topik
  2. Membuat outline atau garis besar ide-ide yang akan kita
    bahas
  3. Menuliskan pendapat kita sebagai penulisnya dengan
    kalimat yang singkat dan jelas
  4. Menulis tubuh esai; memulai dengan memilah poin-poin
    penting yang akan dibahas, kemudian buatlah beberapa subtema pembahasan
    agar lebih memudahkan pembaca untuk memahami maksud dari gagasan kita
    sebagai penulisnya, selanjutnya kita harus mengembangkan subtema yang
    telah kita buat sebelumnya.
  5. Membuat paragraf pertama yang sifatnya sebagai
    pendahuluan. Itu sebabnya, yang akan kita tulis itu harus merupakan alasan
    atau latar belakang alasan kita menulis esai tersebut.
  6. Menuliskan kesimpulan. Ini penting karena untuk
    membentuk opini pembaca kita harus memberikan kesimpulan pendapat dari
    gagasan kita sebagai penulisnya. Karena memang tugas penulis esai adalah
    seperti itu. Berbeda dengan penulis berita di media massa yang seharusnya
    (memang) bersikap netral.
  7. Jangan lupa untuk memberikan sentuhan akhir pada
    tulisan kita agar pembaca merasa bisa mengambil manfaat dari apa yang kita
    tulis tersebut dengan mudah dan sistematis sehingga membentuk kerangka
    berpikir mereka secara utuh…”
Jelas sekali esei itu apa dan
seharusnya bagaimana, dan itu sama sekali jauh dari yang saya ‘igau’kan di
atas, maupun dari yang puluhan tahun ini saya kerjakan . Tidaklah demikian
pemahaman dan cara saya menulis hal-hal yang selama ini saya sangka esei.
Mungkin ternyata saya seorang
‘penipu’. Tampaknya publik juga terperdaya oleh informasi dan kesan seolah-olah
saya adalah penulis esei. ‘Materi’nya memang bukan tidak ada: saya telah
menulis dan menerbitkan 51 Buku ‘Esei’ dari 76 buku keseluruhannya, di luar
yang muncul di berbagai jenis penerbitan yang bukan buku, di berbagai level dan
strata wacana para pembaca tulisan. Keseluruhannya mungkin sekitar 2500 – 3000,
saya tidak tahu persis karena sedang terus dilacak, terutama yang
tercecer-cecer.
Belum lagi ‘esei lisan’ yang sedang
dalam proses transkripsi — dalam komunikasi dengan publik sejak Agustus 1972
hingga sekarang – yang menurut catatan beberapa peneliti di ‘kantor’ saya –
sejumlah 9072, sementara bersama Kiai-Kanjeng 3583 kali pementasan di berbagai
belahan dunia.
Perjalanan sangat panjang, yang
hari-hari ini justru terasa baru asyik-asyiknya memulai, sesungguhnya tidak
banyak manfaatnya bagi Bangsa dan Negara, selain hanya bermakna bagi diri saya
sendiri — karena sungguh-sungguh amat memberi kemudahan selama puluhan tahun
saya menjalani kehidupan masa pra-manula saya.
Penjelasannya sederhana: saya tidak
benar-benar punya kemampuan untuk menulis ilmiah, tidak terdidik dan tak punya
latar belakang yang memungkinkan untuk itu. Saya juga tidak punya kapasitas
untuk berkarya-tulis tentang hal-hal keagamaan, politik, apalagi ekonomi,
lingkungan hidup, analisis-analisis sosial, atau bidang apapun yang saya memang
tidak punya landasan kependidikan. Mungkin di sebagian waktu saya pernah saya
hasilkan tulisan-tulisan semacam puisi, cerita pendek, naskah drama dlsb, namun
tidak pernah memenuhi standard kwalitatif untuk benar-benar disebut sebagai
bagian dari karya sastra, kesenian dan keindahan.
Dengan demikian aslinya posisi dan
fungsi esei adalah suatu cara elegan tapi tersamar untuk menyembunyikan
ketidakmampuan saya mengolah permasalahan Keilmuan, Agama, Politik, Ilmu-ilmu
Sosial pada umumnya, serta Kebudayaan, Kesenian, Kesusastraan dan apapun saja.
Memang di dalam ribuan tulisan itu
disentuh apa saja: pertanian, kesehatan, nelayan, gelandangan, firman, bentrok
petambak, kebatinan, tutup botol, hibrida enerji, innovasi, ijtihad dan invensi
berbagai penggalian kreativitas jasad maupun rohani, juga tawur, wirid, bom,
tasawuf, apa saja, bahkan hampir semua term dari keilmuan resmi saya
sebut-sebut juga.
Tetapi karena semua itu bukan
tulisan ilmiah, maka saya tidak tertuntut untuk bertanggung jawab terhadap apapun
saja yang saya sebut. Jadi, definisi saya tentang ‘esei saya’ adalah suatu
jenis dan formula penulisan di mana saya bisa bersembunyi dari tanggung jawab
ilmu.

Manusia
Sebagaimana tulisan esei saya,
demikian pulalah ‘kehidupan esei’ yang saya jalani berpuluh-puluh tahun sampai
hari ini. Dan hal itu sungguh sangat menyelamatkan hari-hari di masa tua saya
sekarang ini.
Saya menulis sastra tapi merdeka
untuk tidak menjadi sastrawan, dan peta resmi kesusastraan nasional atau Dunia
tidak harus mencantumkan nama saya. Ribuan kali saya disuruh berceramah di
Universitas dan Sekolah-sekolah, tanpa dibebani identitas sebagai Intelektual,
atau Ilmuwan, dan skripsi atau disertasi mahasiswa tidak perlu repot-repot
mengutip kalimat-kalimat saya, baik yang tertulis maupun yang lisan.
Saya dilibatkan di dalam forum
keagamaan dengan ratusan, ribuan atau puluhan ribu ummat hampir seminggu tiga
kali, tanpa kewajiban untuk menjadi Ulama. Saya bergaul dengan ribuan atau
jutaan orang yang mengaku Santri saya, para Salik-in, para penempuh Tarikat,
tetapi terhindar untuk menjadi Syeikh atau Maulana.
Saya menggali khasanah tradisi
budaya dan keagamaan, pepujian, shalawatan dan berbagai item lain, sehingga
akhirnya menjadi bagian kegiatan yang sangat primer dan meriah dari kebudayaan
kelas menengah modern. Tetapi saya tidak dibebani dengan identitas atau gelar
Habib, Gus, Syeikh atau apapun. Iseng-iseng saya bersama teman-teman juga punya
banyak album musik di mana saya juga banyak bernyanyi, namun tidak ada siapapun
yang menyiksa saya dengan menyebut saya Penyanyi. Bahkan ternyata banyak juga
lagi-lagu yang saya bikin, aransemen-aransemen musikal yang saya susun, dan
ringan hidup saya karena itu membebani saya dengan identitas, kategori profesi
atau identitas.
Orang di Canberra, Roma, London dan
tempat-tempat lain memaksa saya bekerja mengusir hantu dari rumah atau bangunan
angker yang mereka tinggali, dan senang sekali karena dengan itu mereka tidak
menyebut saya apa-apa kecuali nama saya saja.
Saya diminta membikin nama ribuan
bayi, tanpa institusi atau profesi Biro Pemesanan Nama Bayi. Saya disuruh
menyembuhkan macam-macam orang sakit, dan mereka tidak menyimpulkan saya adalah
Tabib atau Dukun.
Saya menampung orang kecopetan atau
menemani orang bangkrut, dimintai pertimbangan demonstrasi, Lasykar, terpojok
tak bisa mengelak datangnya orang-orang kecil dan orang besar kepepet,
mentraining patriot-patriot muda calon penangkap koruptor, workshop kreativitas
dengan ratusan kanak-kanak, menampung orang-orang istimewa yang meramalkan gunung-gunung
meledak, meladeni semedi meditasi suatu kaum di pesanggrahan leher gunung,
evakuasi ke dekat puncak gunung tatkala masih tahap-tahap erupsi, memandu
proses normalisasi ribuan penghuni kampong pelacuran terbesar se Asia Tenggara
dan menaikkan para Germo ke panggung musik, merangkul orang-orang gila yang
mendadak naik panggung dan mengamuk atau mahasiswa marah yang melempar sandal,
menyetop rombongan ratusan penyerbu ke sebuah kota, memagari empat Kabupaten
agar tak ikut dibanjiri oleh perang Suku dan pembunuhan massal, dan bermacam
ragam lagi pekerjaan-pekerjaan “yang tidak pada tempatnya” – syukur semua
mereka tidak memberi embel-embel apapun kecuali hanya menyebut nama saya dan
menatap wajah saya.
Saya diseret untuk berkeliling
melakukan pendidikan politik, pendidikan spiritual, pendidikan kependidikan,
pendidikan kesehatan, pendidikan mental, atau apa saja sampai konsultasi
rumahtangga di perempatan jalan, di warung, ruang tunggu Terminal dan Bandara
atau bahkan di mobil dinas Polisi. Akan tetapi saya diselamatkan oleh mereka
semua yang terlibat, dengan cara tidak memposisikan saya sebagai Pendidik atau
Konsultas.
Saya terpojok untuk merayu Presiden
agar lengser, menemaninya sesudah jatuh di bawah. Terkadang kalau pasti hati
jengkel bahasanya saya bikin kasar: Saya pernah menurunkan Presiden dan
menaikkan orang lainnya menjadi Presiden. Bahkan Presiden yang saya turunkan
itu, bersedia saya bikin menandatangani Surat Empat Sumpah untuk tidak akan
menjadi Presiden lagi, untuk tidak turut campur dalam setiap proses pemilihan
Presiden, untuk siap diadili oleh Peradilan Negara untuk mempertanggungjawabkan
kesalahan-kesalahannya selama menjadi Presiden, serta siap mengembalikan harta
rakyat yang dibuktikan oleh hasil pengadilan.
Di saat lain dipepet untuk memproses
seorang lain agar menjadi Presiden, kemudian mengajaknya pulang dari Istana
sesudah ia dipecat oleh Parlemen. Banyak sekali pekerjaan-pekerjaan politik,
dengan detail-detail yang unik, dengan nuansa-nuansa yang lucu, dengan
logika-logika dan pola berpikir yang penuh paradoks. Tetapi sampai usia udzur
sekarang ini saya disayangi oleh kehidupan sehingga terhindar dari sebutan
Politisi, aktivis politik, operator politik, atau apapun.
Banyak sekali juga jenis pekerjaan
saya yang lain, sehingga tidak jelas identifikasinya. Hanya satu sisi yang
jelas dari hidup yang saya jalani: yakni bahwa saya tidak punya profesi. Tidak
punya karier, dan tidak punya cita-cita.
Yang pernah ditulis oleh jari-jari
saya bukan karya ilmiah, bukan pidato politik, bukan makalah akademis, bukan
ceramah Agama, bukan puisi atau ragam sastra yang lain, juga bukan primbon,
rajah atau aji-aji. Maka tinggal satu kemungkinannya: yang saya tulis itu
adalah esei. Dan supaya tidak lepas lagi yang tersisa ini, maka saya bikin
anggapan sendiri tentang esei.

Warganegara
Demikian juga sebagai pejalan
kehidupan yang semakin samar-samar wajahnya ini: saya bukan Sastrawan, bukan
Budayawan, bukan Ulama, bukan Dukun, bukan Politisi, bukan Kiai, bukan Mursyid,
bukan Intelektual, bukan Ustadz, bukan Pemusik, bukan Pengusir Hantu, bukan
Failasuf, bukan Preman, bukan Begawan, bukan bagian dari Kaum Profesional,
bukan Raja, bukan Lurah, bukan Menteri dan juga bukan Presiden.
Saya ini manusia. Sangat berbeda
dengan semua yang saya sebut berderet-deret itu. Saya hanya manusia. Manusia
bukan Presiden atau Menteri, meskipun tidak lantas berarti Presiden dan Menteri
bukan manusia.
Kalau nanti saya lulus sebagai
manusia, tahap berikutnya adalah saya akan tekun belajar menjadi Warga Negara.
Saya sungguh tidak sabar untuk
menapaki tahapan itu. Terutama karena saya mendengar Negara ini sudah
sedemikian majunya. Masyarakatnya dewasa. Matang sebagai bangsa. Kesejahteraan
dan keadilan perekonomiannya membuat cemburu seluruh penduduk Bumi. Kebudayaannya
penuh kebanggaan dan rasa percaya diri. Demokrasinya menjadi teladan dan
rujukan bangsa-bangsa sedunia. 
Pers-nya cemerlang dan tak bisa ditandingi oleh
media apapun di dunia. Pemerintahannya hampir sempurna. Kepribadian pemimpin
tertingginya hampir menyamai kwalitas para Nabi. Gemah ripah loh jinawi,
baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur
.
Tak sabar saya ingin segera belajar
menjadi warganegara. Alangkah asyik dan indahnya.
Tampaknya itulah ‘esei’ masa depan
saya.***

Yogyakarta, 03.05 wib

4 September 2014

Sumber: caknun.com 

Loading...